...

ZOOM KOORDINASI PROGRAM PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (UNTUK IBU HAMIL KEK DAN BALITA STUNTING) SEBAGAI DUKUNGAN INTERVENSI SPESIFIK


Diposting pada 13 Mei 2022, oleh DINKES


Salah satu dukungan Kemnkes dalam upaya penurunana stunting adalah intervensi spesifik untuk mengatasi penyebab langsung dari masalah gizi yang ada. Target yang ingin dicapai adalah 90% bumil KEK mendapat tambahan asupan gizi dan 90% balita kurang gizi mendapat tambahan asupan gizi. 

Tantangan besar yang kita hadapi baik di tingkat pusat dan daerah, bahwa diperlukan perubahan perilaku di masyarakat agar konsumsi gizi sesuai dengan  kebutuhan gizi bagi sasaran yang beresiko tinggi mengalami kekurangan gizi.

Pembahasan kali ini , antara lain :

Prevalensi bumil KEK dan balita gizi kurang

Rencana penyelenggaraan PMT berbasis pangan  local

Lokasi dan Pendampingan

Monev

PRINSIP DASAR PMT BERBASIS PANGAN LOKAL

MT local diberikan dalam bentuk makanan siap santap beberapa makanan lengkap atau makanan kudapan padat gizi.

MT hanya sebagai tambahan, bukan pengganti makanan utama (di luar konsumsi makanan utama)

Pemberian MT dilakukan setiap hari dengankomposisi minimal 1 x maanan lengkap dan sisanya berupa makanan kudapan.

Pemberian MT untuk memenuhi gap  / kesenjanagan kebutuhan gizi ibu hamil KEK dan balita gizi kurang.

Pemberian MT dilakukan setiap hari sekurang kurangnya selama 90 hari makan disertai edukasi gizi.

Pemberian MT local dibiayai dari dana DAK, namun dapat juga dari bantuan lainnya.

Konsumsi sehari hari dengan penambahan suplementasi dan fortifikasi juga memerlukan pendampingan dan edukasi sebagai upaya meningkatkan praktik baik gizi seimbang untuk mencukupi kebutuhan gizi pada semua kelompok umur . Konsep PMT adalah penyediaan MT local dengan prinsip higienis, aman dan memenuhi kebutuhan gizi.

Sosialisai pada kader pendamping atau pengolah makanan dibutuhkan agar tercapai tujuan untuk memberikan informasi mengenai kreasi pembuatan PMT dengan berbasis pangan lokal. PMT merupakan upaya memberikan tambahan makanan kepada balita untuk menambah asupan gizi guna mencukupi kebutuhan gizi agar tercapai status gizi yang baik. PMT dalam hal ini merupakan pemberian makanan dalam bentuk kudapan atau makanan selingan. PMT yang baik memiliki kandungan gizi yang dibutuhkan oleh balita, seperti energi, protein, lemak, karbohidrat, dan tambahan vitamin serta mineral. Pembuatan PMT ditekankan pada penggunaan pangan lokal, karena pangan lokal merupakan bahan makanan yang khas yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat sesuai dengan potensi yang ada pada suatu daerah. Oleh karenanya dengan penggunakan pangan lokal tersebut juga turut serta melestarikan bahan makanan yang khas yang dihasilkan oleh daerah tersebut. Pangan local di beberapa daerah secara spesifik yaitu jagung, ubi jalar, singkong, kimpul, kacang kedelai, pisang, dan labu kuning  (waluh). 

Pemberian makanan tambahan yang diberikan kepada balita pada saat posyandu selama 90 hari makan, maka dari itu diharapkan membuat PMT yang sesuai dengan standar serta menggunakan bahan-bahan berbasis pangan lokal yang dihasilkan oleh masyarakat 

Selanjutnya menunggu juknis yang lengkap tentang pengadaan MT berbasis pangan local dengan pendampingan tim monev dari politeknik kesehatan yang ada di seluruh Indonesia.

 

**DH**


Dilihat sebanyak : 52 kaliBagikan ke Whatsapp