BPBD Jember Temukan Dua Titik Rawan Banjir di Sempusari, Puluhan KK Terancam Saat Hujan Deras
- 11 Maret 2026
- Dibaca 239 Kali
Bagikan Via:
BPBD Jember Temukan Dua Titik Rawan Banjir di Sempusari, Puluhan KK Terancam Saat Hujan Deras
JEMBER, 12 MARET 2026 – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember melakukan survei awal untuk mengidentifikasi wilayah rawan banjir di Kecamatan Kaliwates, Kamis 05 Maret 2026. Survei ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut laporan masyarakat melalui program Wadul Guse yang menyampaikan adanya potensi banjir di beberapa titik di Kelurahan Sempusari.
Kegiatan survei dilakukan di dua lokasi utama, yakni di Jalan Gurami RT 04 RW 02, Mrapa, Kelurahan Sempusari, serta di wilayah RT 02 RW 07 Krajan yang berada di sebelah utara kampus UIN KH. Achmad Siddiq Jember. Tim dari BPBD Kabupaten Jember bersama tenaga teknis turun langsung ke lapangan untuk melakukan pengamatan kondisi lingkungan, sistem drainase, serta aliran sungai yang berpotensi menyebabkan banjir.
Survei dimulai sekitar pukul 09.30 WIB saat tim berangkat menuju lokasi. Sekitar 20 menit kemudian, tim tiba di lokasi pertama di Jalan Gurami dan langsung melakukan pengecekan kondisi kawasan. Dari hasil identifikasi, diketahui terdapat sekitar 10 kepala keluarga yang tinggal di wilayah rawan banjir di kawasan tersebut.
Berdasarkan hasil pengamatan, banjir di Jalan Gurami dipicu oleh luapan Sungai Semangir saat terjadi curah hujan tinggi di wilayah hulu. Selain itu, tim juga menemukan adanya pendangkalan sungai yang disebabkan oleh sedimentasi berlebih pada salah satu sisi aliran sungai. Kondisi ini menyebabkan perubahan alur air serta terjadinya gerusan pada lereng sungai yang berada di belakang rumah warga hingga memicu longsoran tanah.
Dampak banjir sebelumnya juga menyebabkan kerusakan pada pasangan batu bronjong yang berfungsi menahan tebing sungai. Selain itu, terdapat dua rumpun bambu yang roboh akibat derasnya arus air ketika banjir melanda kawasan tersebut.
Setelah melakukan survei di Jalan Gurami, tim kemudian melanjutkan pengecekan ke lokasi kedua di kawasan utara kampus UIN KHAS. Di lokasi ini, tim menemukan sekitar 40 kepala keluarga yang tinggal di wilayah dengan potensi banjir cukup tinggi.
Banjir di kawasan tersebut disebabkan oleh luapan saluran drainase yang melewati permukiman warga. Saluran drainase berukuran sekitar 2,6 meter kali 1,5 meter tersebut tidak mampu menampung debit air yang berasal dari limpasan area persawahan di sekitarnya. Selain itu, luasnya daerah tangkapan air yang terkonsentrasi pada saluran tersebut memperbesar risiko terjadinya genangan maupun banjir saat hujan deras.
Tim juga menemukan adanya penyumbatan pada saluran drainase yang berada di depan Gedung Kuliah Terpadu UIN KHAS, yang berpotensi memperparah kondisi banjir di kawasan tersebut. Kegiatan survei lapangan ini berakhir sekitar pukul 14.30 WIB sebelum tim kembali ke markas BPBD Kabupaten Jember.
Koordinator teknis kegiatan survei, M. Miftachul Munir, S.T., menjelaskan bahwa identifikasi awal ini penting untuk merumuskan langkah mitigasi yang tepat di kedua wilayah tersebut.
“Survei ini bertujuan untuk melihat langsung kondisi di lapangan dan mengidentifikasi faktor penyebab banjir. Dari hasil awal, kami menemukan beberapa persoalan seperti sedimentasi sungai, kapasitas drainase yang terbatas, serta adanya penyumbatan saluran air,” ujar Miftachul Munir, Kamis 12 Maret 2026.
Ia menambahkan bahwa hasil survei ini akan menjadi dasar koordinasi dengan instansi terkait untuk menentukan langkah penanganan yang lebih komprehensif.
“Ke depan kami akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk membahas langkah teknis seperti normalisasi sungai, evaluasi kapasitas drainase, serta kemungkinan rekayasa hidrologi agar risiko banjir dapat diminimalkan,” tambahnya.
Melalui survei awal ini, BPBD Kabupaten Jember berharap dapat memperkuat upaya mitigasi bencana banjir di wilayah perkotaan, khususnya di Kecamatan Kaliwates yang memiliki kepadatan permukiman cukup tinggi. Selain itu, langkah identifikasi dini juga diharapkan mampu membantu pemerintah daerah dalam merencanakan penanganan banjir secara lebih efektif dan berkelanjutan. (bob)