logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan

Cabai Merah Besar Sumberejo Didorong Naik Kelas Lewat Hilirisasi

  • 02 September 2026
  • Dibaca 49 Kali
Bagikan Via:
cabai-merah-besar-sumberejo-didorong-naik-kelas-lewat-hilirisasi-20260908

Cabai Merah Besar Sumberejo Didorong Naik Kelas Lewat Hilirisasi

JEMBER, 2 SEPTEMBER 2026 — Melimpahnya produksi cabai merah besar di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, belum sepenuhnya berbanding lurus dengan keuntungan yang diterima petani. Saat panen raya dan harga turun, petani kembali menghadapi persoalan klasik: hasil panen melimpah, tetapi pasar tidak selalu memberikan harga yang menguntungkan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat mengunjungi Kelompok Tani Harapan Maju di Desa Sumberejo, Selasa (1/9/2026). Kunjungan tim peneliti BRIN yang terdiri atas Tupan, Rahmat Hidayat, dan Harris Taruna Nugroho itu menjadi bagian dari penyusunan naskah kebijakan substitusi impor cabai nasional.

Di kediaman Ketua Kelompok Tani Harapan Maju, M. Suyatno Diantoro, tim BRIN mendengarkan langsung kondisi petani cabai merah besar Sumberejo. Salah satu persoalan yang disampaikan ialah kebutuhan akan harga yang lebih aman agar biaya produksi yang dikeluarkan petani tetap sebanding dengan hasil yang diterima.

“Yang diinginkan petani itu ada standar harga. Karena kalau saya secara pribadi sebagai petani cabai, standar harganya adalah Rp10.000. Karena minimal Rp10.000 itu baru berhasil. Petani dikatakan istilahnya titik aman,” ujar Suyatno.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan petani Sumberejo tidak berhenti pada produksi. Ketika hasil panen cabai merah besar melimpah, kemampuan menyerap dan mengelola hasil panen menjadi faktor penting agar petani tidak sepenuhnya bergantung pada harga cabai segar.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Jember, Agung Satrio Setiawan, S.P., M.P., menilai persoalan tersebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor, khususnya dalam memperkuat sisi pemasaran.

“Dinas TPHP itu memang kewenangannya terbatas, terutama di pemasaran. Makanya kami hadirkan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Perdagangan serta BRIN,” katanya.

BRIN kemudian mendorong hilirisasi sebagai salah satu pilihan bagi petani cabai merah besar Sumberejo. Ketika harga segar menguntungkan, hasil panen dapat langsung dipasarkan. Namun, saat harga turun, cabai dapat dialihkan menjadi produk dengan daya simpan lebih panjang, seperti cabai kering, cabai bubuk, saus, hingga minyak cabai.

“Kalau misalnya harganya lagi baik, saya sarankan jual segar. Tapi kalau harganya lagi turun, mungkin bisa siapkan untuk ekspor dalam bentuk cabai kering, atau tadi mungkin bikin pabrik-pabrik yang dibikin saus,” ujar Tupan dari BRIN.

Kolaborasi dengan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Perdagangan Kabupaten Jember selanjutnya diarahkan untuk memetakan peluang bisnis dan penguatan kelembagaan petani di Sumberejo.

Dengan begitu, cabai merah besar Sumberejo tidak hanya berhenti sebagai komoditas segar di tingkat petani, tetapi memiliki pilihan pasar dan bentuk produk yang lebih beragam. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi petani ketika produksi melimpah sekaligus membuka peluang peningkatan nilai tambah dari komoditas yang mereka hasilkan. (fan)

Galeri Foto