Camat Kaliwates Ingatkan Kriteria Penerima Home Care agar Tak Salah Sasaran
- 09 September 2026
- Dibaca 8 Kali
Bagikan Via:
Camat Kaliwates Ingatkan Kriteria Penerima Home Care agar Tak Salah Sasaran
JEMBER, 8 SEPTEMBER 2026 – Camat Kaliwates Dwi Sunu Arinugroho, S.Sos., menghadiri pertemuan rutin Forum RT dan RW Kelurahan Kaliwates yang berlangsung di lingkungan Condro, Selasa (8/9/2026). Dalam kesempatan tersebut, Camat Kaliwates kembali menyosialisasikan program pelayanan kesehatan Home Care Pemerintah Kabupaten Jember sekaligus memberikan penjelasan mengenai kelompok masyarakat yang menjadi sasaran prioritas layanan tersebut.
Sosialisasi tersebut dilakukan karena masih ditemukan kesalahpahaman di tengah masyarakat mengenai siapa saja yang berhak mendapatkan pelayanan Home Care. Dwi Sunu menilai pemahaman yang tepat mengenai sasaran program penting agar pelayanan kesehatan berbasis kunjungan rumah tersebut dapat berjalan sesuai tujuan dan diberikan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Program Home Care merupakan layanan kesehatan yang memungkinkan tenaga medis memberikan pelayanan secara langsung ke rumah warga. Program tersebut dirancang untuk memperluas akses kesehatan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan tertentu sehingga mengalami kesulitan memperoleh pelayanan medis secara langsung di fasilitas kesehatan.
Dalam pemaparannya, Dwi Sunu menjelaskan terdapat lima kelompok masyarakat yang menjadi prioritas penerima layanan Home Care, yakni lansia tunggal, ibu hamil risiko tinggi, anak stunting, penyandang disabilitas, dan masyarakat miskin. Kelima kelompok tersebut menjadi sasaran utama karena memiliki kerentanan dan hambatan tertentu dalam memperoleh pelayanan kesehatan.
“Home Care ini bukan pelayanan yang diberikan secara umum kepada semua masyarakat. Ada klasifikasi atau kelompok yang menjadi sasaran prioritas. Di antaranya lansia tunggal, ibu hamil risiko tinggi, anak stunting, penyandang disabilitas dan masyarakat miskin. Ini perlu dipahami bersama supaya tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat dan pelayanan bisa benar-benar tepat sasaran,” ujar Dwi Sunu.
Menurutnya, keberadaan Home Care merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dengan konsep jemput bola, tenaga kesehatan dapat mendatangi warga yang mengalami keterbatasan mobilitas maupun hambatan ekonomi sehingga tidak selalu harus datang langsung ke fasilitas kesehatan.
Dwi Sunu juga meminta para ketua RT dan RW untuk ikut berperan dalam menyampaikan informasi tersebut kepada masyarakat. Menurutnya, RT dan RW memiliki posisi strategis karena bersentuhan langsung dengan warga dan lebih mengetahui kondisi masyarakat di lingkungannya masing-masing.
“RT dan RW kami harapkan ikut membantu memberikan pemahaman kepada masyarakat. Kalau ada warga yang masuk dalam kelompok sasaran, silakan dikoordinasikan dan dilaporkan melalui mekanisme yang ada. Jangan sampai masyarakat yang sebenarnya membutuhkan tidak terdata, tetapi di sisi lain ada yang menganggap semua kondisi otomatis mendapatkan Home Care,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemahaman mengenai klasifikasi penerima juga penting untuk menjaga agar pelaksanaan program tidak menimbulkan ekspektasi yang keliru. Dengan data dan informasi yang tepat dari tingkat lingkungan, proses identifikasi sasaran dapat dilakukan dengan lebih baik sebelum ditindaklanjuti oleh tenaga kesehatan dan pihak terkait.
Lima kelompok prioritas tersebut meliputi lansia tunggal yang membutuhkan pendampingan karena keterbatasan mobilitas dan tidak memiliki anggota keluarga yang merawat, ibu hamil risiko tinggi yang memerlukan pemantauan kesehatan secara rutin, anak stunting yang membutuhkan pemantauan tumbuh kembang dan intervensi kesehatan, penyandang disabilitas yang menghadapi hambatan dalam mengakses layanan medis, serta masyarakat miskin yang membutuhkan dukungan agar keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang memperoleh pelayanan kesehatan.
Dwi Sunu berharap sosialisasi yang dilakukan secara rutin dapat membuat masyarakat semakin memahami tujuan dan mekanisme Home Care. Ia menilai program tersebut akan lebih optimal apabila pemerintah kecamatan, kelurahan, RT, RW, kader serta masyarakat dapat membangun koordinasi yang baik.
“Harapan kami, dengan sosialisasi yang terus dilakukan, masyarakat semakin memahami siapa yang menjadi sasaran Home Care. Kita ingin program ini tepat sasaran, tepat pelayanan dan benar-benar memberikan manfaat kepada warga yang membutuhkan. Karena itu, komunikasi dari tingkat RT, RW, kelurahan sampai kecamatan harus terus berjalan,” tegasnya.
Pertemuan Forum RT-RW Kelurahan Kaliwates tersebut menjadi salah satu ruang bagi pemerintah untuk memastikan informasi mengenai program Pemkab Jember dapat diterima langsung oleh masyarakat melalui perangkat lingkungan. Selain membahas berbagai persoalan wilayah dan sosial, forum tersebut juga menjadi sarana memperkuat peran RT dan RW dalam mendukung program pelayanan pemerintah.
Melalui sosialisasi tersebut, Camat Kaliwates berharap tidak lagi terjadi kesalahpahaman mengenai penerima Home Care. Dengan pemahaman yang sama di tingkat masyarakat, proses pendataan dan pelayanan diharapkan dapat berjalan lebih efektif sehingga program benar-benar menyentuh kelompok masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan secara langsung di rumah.(anr)