logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan

Dari Diskusi ke Aksi: Tikum Dirancang Jadi Ruang Belajar Kopi Berbasis Lapangan dengan Pendampingan Terarah

  • 27 Maret 2026
  • Dibaca 167 Kali
Bagikan Via:
dari-diskusi-ke-aksi-tikum-dirancang-jadi-ruang-belajar-kopi-berbasis-lapangan-dengan-pendampingan-terarah-20260329

Dari Diskusi ke Aksi: Tikum Dirancang Jadi Ruang Belajar Kopi Berbasis Lapangan dengan Pendampingan Terarah

JEMBER, 27 MARET 2026 - Diskusi di Aula Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Jember tidak hanya membahas rencana menghidupkan kembali Tikum (Titik Kumpul), tetapi juga memetakan langkah konkret agar wadah tersebut menjadi ruang belajar kopi yang dekat dengan praktik lapangan.

Dipimpin oleh Kepala Bidang Perkebunan, Rudi Indrawan, S.P., M.P., forum tersebut menyoroti bahwa pengembangan kopi tidak cukup berhenti pada produksi, melainkan harus menyentuh cara petani memahami kualitas hingga penyajian.

Rudi menekankan pentingnya membangun pemahaman bertahap yang bisa langsung diterapkan oleh petani. “Jadi ketika panen di Tugusari nanti, itu kita coba untuk mengenalkan petani kita bagaimana sih memetik buah kopi yang benar, bagaimana sih mengolah yang benar, itu yang ingin kita sampaikan,” ujarnya dalam diskusi.

Ia juga menegaskan bahwa kegiatan yang dirancang bukan sekadar acara seremonial, tetapi harus memberi dampak nyata. “Bukan sekadar panen, tapi kita ingin ada nilai tambah dari kegiatan itu, ada edukasi yang bisa dibawa pulang oleh petani,” ungkapnya, Jumat 27 Maret 2026.

Dalam pemetaan yang dibahas, Tikum dirancang menjadi jembatan antara praktik budidaya dan pengalaman konsumsi kopi. Artinya, petani tidak hanya diajak memahami cara menanam, tetapi juga bagaimana hasil panen mereka diterjemahkan menjadi minuman yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Pradopo Kresnayana, S.P., sebagai asisten diskusi sekaligus barista Tikum dan Penyuluh Arjasa, menyoroti bahwa pendekatan sederhana menjadi kunci keberhasilan edukasi. “Kalau langsung ngomong yang aneh-aneh, petani malah bingung. Jadi yang penting dikenalkan dulu yang sederhana, dari yang mereka biasa minum,” ujarnya.

Ia juga menambahkan pentingnya kesinambungan antara proses hulu dan hilir. “Jadi nanti petani itu ngerti, oh ternyata dari cara petik sampai cara ngolah itu pengaruh ke rasa, jadi mereka punya gambaran,” katanya.

Diskusi tersebut juga menggarisbawahi perlunya konsistensi dalam pendampingan. Tikum diharapkan tidak hanya aktif saat ada momentum tertentu, tetapi menjadi ruang yang terus berjalan, baik sebagai tempat berbagi pengalaman, uji coba produk, hingga diskusi ringan yang tetap memiliki arah.

Dengan pendekatan ini, Tikum direncanakan berkembang sebagai ruang belajar yang tidak kaku, namun tetap terarah. Dari sinilah diharapkan lahir pemahaman baru bahwa kopi bukan hanya hasil kebun, tetapi juga proses panjang yang menentukan kualitas dan nilai jualnya. (fan)

Galeri Foto