Dari Senam ke Catwalk, Warga Jemberlor Hidupkan Semangat Kartini
- 02 Mei 2026
- Dibaca 153 Kali
Bagikan Via:
Dari Senam ke Catwalk, Warga Jemberlor Hidupkan Semangat Kartini
JEMBER, 02 MEI 2026 - Semangat Raden Ajeng Kartini terasa hidup di Kelurahan Jemberlor, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember. Warga memadukan Senam Gayatri dan lomba fashion show busana nasional dalam peringatan Hari Kartini, Jumat pagi, yang berlangsung meriah dan penuh kebersamaan.
Mengusung semangat “Gerakan Sehat Bersama Kartini”, kegiatan ini memadukan olahraga dan budaya melalui Senam Gayatri serta lomba fashion show busana nasional di Pendopo Kelurahan Jemberlor, Jumat pagi, 01 Mei 2026.
Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WIB tersebut merupakan agenda rutin senam setiap Jumat. Namun, suasana kali ini terasa berbeda karena seluruh peserta diwajibkan mengenakan kebaya, menghadirkan nuansa khas Kartini yang sarat nilai budaya.
Senam Gayatri, akronim dari “Gaya dan Trendy Tampil Percaya Diri”, menjadi pembuka kegiatan. Selain menjaga kebugaran fisik, senam ini juga bertujuan membangun kepercayaan diri warga, khususnya kaum perempuan.
Lurah Jemberlor, Moh. Zaim Ilmi, S.Sos., M.Si, menegaskan bahwa peringatan Hari Kartini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan upaya menghadirkan nilai-nilai perjuangan Kartini dalam kehidupan sehari-hari.
“Ini bukan hanya soal senam atau peringatan seremonial. Kami ingin masyarakat merasakan bahwa nilai Kartini itu hidup, salah satunya melalui kebaya yang kita pakai bersama hari ini,” ujarnya.
Menurutnya, kebaya bukan sekadar busana tradisional, tetapi juga simbol identitas yang menjembatani masa lalu dan masa kini. Ketika dikenakan dalam aktivitas publik, muncul rasa bangga sekaligus memperkuat kebersamaan di tengah masyarakat.
“Kebaya itu bukan sekadar pakaian tradisional, tapi identitas. Ketika dipakai bersama dalam kegiatan seperti ini, ada rasa bangga dan kebersamaan yang tumbuh,” tambahnya.
Usai senam, suasana beralih menjadi panggung ekspresi budaya melalui lomba fashion show busana nasional. Warga tampil percaya diri mengenakan berbagai pakaian adat dari penjuru Nusantara.
Penampilan para peserta tidak hanya menonjolkan estetika, tetapi juga merepresentasikan kekayaan budaya Indonesia yang beragam. Dari kebaya hingga busana adat daerah lain, seluruhnya menjadi simbol bahwa perbedaan adalah kekuatan yang dirayakan bersama.
“Melalui lomba ini, kami ingin menunjukkan bahwa budaya kita sangat kaya. Warga bisa saling mengenal dan menghargai perbedaan lewat busana yang mereka tampilkan,” tutur Ilmi.
Sorak sorai penonton, tepuk tangan, dan tawa yang pecah sepanjang acara menciptakan suasana hangat penuh kebersamaan. Peringatan Hari Kartini pun terasa hidup, tidak sekadar formalitas, tetapi menyatu dalam interaksi sosial warga.
Bagi masyarakat Jemberlor, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa merawat warisan budaya tidak harus dilakukan secara kaku. Nilai-nilai Kartini bisa hadir dalam bentuk sederhana—melalui senam bersama, kebaya yang dikenakan, hingga langkah percaya diri di atas panggung.
Di balik kemeriahan itu, tersirat pesan kuat bahwa mengenang Kartini bukan hanya tentang masa lalu, melainkan bagaimana nilai perjuangannya terus diterjemahkan dan dijalankan dalam kehidupan masa kini. (rus)