DPRKPLH Perkuat Pemahaman Pengelolaan Sampah di Kaliwates, PKK Disiapkan Jadi Garda Terdepan
- 19 Juni 2026
- Dibaca 7 Kali
Bagikan Via:
DPRKPLH Perkuat Pemahaman Pengelolaan Sampah di Kaliwates, PKK Disiapkan Jadi Garda Terdepan
JEMBER – Upaya mewujudkan Kelurahan Kaliwates sebagai percontohan pengelolaan sampah di Kabupaten Jember terus diperkuat melalui berbagai kegiatan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat. Salah satunya dilakukan melalui pelatihan pengelolaan sampah yang kembali digelar di Pendopo Kelurahan Kaliwates pada Kamis (18/6/2026) pukul 14.00 hingga 16.00 WIB.
Kegiatan yang menghadirkan perwakilan DPRKPLH Kabupaten Jember, Mentik Diyah Andayani, S.H., tersebut diikuti oleh Tim Penggerak PKK, operator sampah, perangkat kelurahan, serta unsur masyarakat yang terlibat dalam program pengelolaan sampah di Kelurahan Kaliwates. Pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian pembinaan yang telah beberapa kali dilaksanakan oleh DPRKPLH guna memperkuat pemahaman masyarakat terkait pengelolaan sampah berbasis rumah tangga.
Dalam pelatihan kali ini, materi yang diberikan lebih difokuskan pada forum diskusi dan pendalaman pemahaman mengenai cara memilah serta mengelola sampah secara mandiri. Peserta diberikan penjelasan mengenai jenis-jenis sampah yang umum dihasilkan rumah tangga, yaitu sampah organik, sampah anorganik, dan sampah residu yang tidak dapat diolah maupun didaur ulang.
Mentik Diyah Andayani menjelaskan bahwa berdasarkan hasil survei dan pengamatan di lapangan, sebagian besar sampah rumah tangga yang dihasilkan masyarakat merupakan sampah organik. Jenis sampah ini berasal dari sisa sayuran, buah-buahan, daun-daunan, dan bahan alami lainnya yang mudah membusuk. Sampah organik tersebut sebenarnya memiliki potensi besar untuk diolah kembali menjadi kompos atau media penyubur tanah sehingga tidak perlu seluruhnya dibuang ke tempat pembuangan akhir.
Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai sampah anorganik seperti plastik, botol kemasan, kardus, kaleng, dan bahan lainnya yang masih memiliki nilai guna serta potensi untuk didaur ulang. Sementara itu, sampah residu merupakan jenis sampah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali maupun diolah lebih lanjut sehingga perlu diangkut oleh petugas sampah menuju tempat pembuangan akhir (TPA).
Menurut Mentik, keberhasilan program pengelolaan sampah sangat bergantung pada pemahaman masyarakat dalam mengenali dan memilah sampah sejak dari rumah tangga. Oleh karena itu, Tim Penggerak PKK diharapkan menjadi garda terdepan dalam memberikan edukasi kepada warga sekaligus menggerakkan perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah mandiri.
Dalam forum diskusi tersebut juga disampaikan rencana pengembangan fasilitas pengurai sampah organik atau "jempolong" di setiap RW. Fasilitas tersebut nantinya diharapkan dapat membantu masyarakat mengolah sampah organik secara lebih efektif sehingga volume sampah yang dibuang ke TPA semakin berkurang. Sementara untuk sampah anorganik, warga akan didorong untuk mengumpulkan dan memisahkannya agar dapat dimanfaatkan kembali atau memiliki nilai ekonomi.
Tidak hanya kepada kader PKK, arahan juga diberikan kepada operator sampah agar ke depan lebih berfokus pada pengangkutan sampah residu yang memang tidak dapat diolah oleh masyarakat. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.
"Sampah organik adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup dan mudah membusuk, seperti sisa sayuran, buah-buahan, daun, maupun sisa makanan. Sampah jenis ini jangan langsung dibuang karena dapat diolah menjadi kompos. Sementara sampah anorganik seperti plastik, botol, kardus, dan kaleng masih memiliki nilai guna serta dapat didaur ulang. Adapun sampah residu adalah sampah yang tidak bisa diolah ataupun dimanfaatkan kembali sehingga harus menjadi bagian yang diangkut ke TPA," jelas Mentik Diyah Andayani saat memberikan materi.
Ia menambahkan bahwa pemahaman mengenai jenis-jenis sampah menjadi fondasi utama dalam membangun sistem pengelolaan sampah mandiri yang berhasil di tengah masyarakat.
"Kami berharap Tim Penggerak PKK dapat menjadi pelopor sekaligus penggerak perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah dari rumah masing-masing. Jika sampah organik dan anorganik dapat dikelola dengan baik, maka yang tersisa untuk dibawa ke TPA hanyalah sampah residu. Harapan kami, Kelurahan Kaliwates benar-benar mampu menjadi percontohan pengelolaan sampah di Kabupaten Jember dan dapat menginspirasi wilayah lainnya," ujarnya.
Melalui pelatihan lanjutan ini, Kelurahan Kaliwates bersama DPRKPLH Kabupaten Jember terus memperkuat langkah menuju sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Dengan dukungan Tim Penggerak PKK, operator sampah, serta partisipasi aktif warga, program pengelolaan sampah mandiri diharapkan mampu berjalan optimal sekaligus mendukung amanah yang diberikan oleh Bupati Jember kepada Kelurahan Kaliwates sebagai pilot project pengelolaan sampah di tingkat kelurahan.