Gencarkan Pengelolaan Mandiri, Pedagang Pasar di Jember Diajak Pilah Sampah Sejak dari Sumbernya
- 09 Mei 2026
- Dibaca 125 Kali
Bagikan Via:
Gencarkan Pengelolaan Mandiri, Pedagang Pasar di Jember Diajak Pilah Sampah Sejak dari Sumbernya
JEMBER, 09 MEI 2026 – Upaya mewujudkan lingkungan pasar yang bersih, sehat, dan nyaman terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Jember melalui berbagai langkah nyata. Salah satunya dengan menggencarkan sosialisasi pengelolaan sampah mandiri kepada para pedagang pasar tradisional.
Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah dan Perdagangan (Diskopumdag) Kabupaten Jember melakukan edukasi langsung kepada para pedagang di Pasar Kepatihan, Pasar Kreongan, dan Pasar Gebang terkait kebijakan baru pengelolaan sampah mandiri dari pemerintah daerah.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif masyarakat, khususnya para pelaku usaha di pasar tradisional, agar mulai memilah sampah sejak dari sumbernya sebelum dibuang ke tempat penampungan sementara.
Langkah sederhana ini dinilai menjadi pondasi penting dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan di Kabupaten Jember.
Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, petugas dari Diskopumdag memberikan pemahaman kepada pedagang mengenai pentingnya membedakan jenis sampah organik dan anorganik. Sampah organik seperti sisa sayuran, buah, atau makanan diharapkan dapat dipisahkan agar lebih mudah diolah menjadi kompos atau pakan ternak.
Sementara sampah anorganik seperti plastik, kardus, dan botol kemasan dapat dikumpulkan untuk didaur ulang sehingga memiliki nilai ekonomi tambahan.
Kepala Bidang Sarana Prasarana Diskopumdag, Asvita, yang ikut mendampingi dalam sosialisasi pengelohan sampah mengatakan, kebijakan ini merupakan salah satu tindak lanjut pengurangan sampah di Kabupaten Jember karena penampungan sampah sudah overload dan perlu diolah kembali.
“Sampah di jember sudah banyak jadi kita harus mencari cara untuk pengelolaan sampah ini agar bisa dimanfaatkan juga,” ujarnya, Sabtu 09 Mei 2026.
Melalui pendekatan persuasif dan edukatif, pemerintah berharap pola pikir masyarakat mulai berubah. Bahwa pengelolaan sampah bukan semata tanggung jawab petugas kebersihan atau pemerintah daerah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Sosialisasi di pasar tradisional dipilih karena pasar menjadi salah satu titik yang menghasilkan volume sampah cukup besar setiap harinya.
Aktivitas jual beli bahan pangan seperti sayur, buah, ikan, dan kebutuhan rumah tangga menghasilkan limbah organik dalam jumlah tinggi. Tanpa sistem pengelolaan yang baik, sampah tersebut dapat menumpuk dan mengganggu aktivitas perdagangan.
Konsep ini dinilai lebih efektif karena dapat mengurangi beban TPA sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan masyarakat. Selain itu, pengelolaan sampah mandiri juga berpotensi memberikan nilai ekonomi melalui kegiatan daur ulang maupun pengolahan kompos.
Dalam praktiknya, pengelolaan sampah mandiri memang membutuhkan perubahan budaya yang tidak mudah. Kebiasaan membuang sampah secara bercampur sudah berlangsung cukup lama di masyarakat. Karena itu, pemerintah memilih pendekatan edukatif agar perubahan dapat dilakukan secara bertahap.