Harga Cabai Merah Besar Jadi Sorotan, Petani Sumberejo Dorong Pembenahan Pemasaran
- 02 September 2026
- Dibaca 71 Kali
Bagikan Via:
Harga Cabai Merah Besar Jadi Sorotan, Petani Sumberejo Dorong Pembenahan Pemasaran
JEMBER, 2 SEPTEMBER 2026 — Ada jarak yang mencolok dalam perjalanan cabai merah besar dari lahan petani menuju pasar. Di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, petani menghadapi harga jual yang jauh lebih rendah dibandingkan harga di tingkat pedagang, sementara biaya produksi terus meningkat.
Kondisi tersebut mengemuka dalam diskusi antara petani cabai merah besar Sumberejo, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Jember, serta Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Perdagangan di Desa Sumberejo, Selasa (1/9/2026).
Ketua Kelompok Tani Harapan Maju, M. Suyatno Diantoro, menyebut petani membutuhkan harga sekitar Rp10.000 per kilogram agar berada pada titik aman. Menurutnya, biaya pupuk, pestisida, mulsa, hingga kebutuhan produksi lainnya terus menjadi beban dalam usaha tani cabai merah besar.
Di sisi lain, Suyatno mengungkapkan adanya perbedaan harga yang cukup besar antara tingkat petani dan pedagang. “Di sini Rp6.000, di tingkat pedagang induk itu 14, 12. Separuh lebih,” ujarnya.
Persoalan tersebut semakin kompleks karena cabai merah besar merupakan komoditas yang cepat rusak. Saat panen raya, petani memiliki pilihan terbatas untuk menahan hasil panen. Tanpa pengolahan atau akses pasar alternatif, cabai harus segera dijual meski harga sedang rendah.
Kepala Bidang Hortikultura Dinas TPHP Jember, Agung Satrio Setiawan, S.P., M.P., menilai persoalan utama yang dihadapi petani Sumberejo saat ini tidak lagi sekadar produksi. “Kalau dikatakan swasembada cabai, kita sudah swasembada sebetulnya. Cuma mungkin permasalahannya kebetulan di pemasaran,” katanya.
Ketimpangan harga tersebut juga membawa persoalan jangka panjang bagi keberlanjutan usaha tani cabai merah besar di Sumberejo. Suyatno mengaku tidak ingin anaknya mengikuti jejaknya sebagai petani karena melihat beratnya risiko yang harus ditanggung.
“Makanya anak saya, mohon maaf, kalau pribadi tidak akan jadi petani. Enggak mau saya. Saya suruh pondok, harapannya biar bagus, sekolah yang tinggi, jangan jadi petani, karena paling susah,” tegas Suyatno.
Karena itu, dalam pertemuan tersebut muncul sejumlah gagasan untuk memperkuat posisi petani Sumberejo, mulai dari pembentukan asosiasi petani cabai, pemangkasan rantai pemasaran, kemitraan langsung dengan pasar dan industri, hingga penguatan pascapanen melalui cabai kering dan produk olahan.
BRIN sendiri tengah menyusun naskah kebijakan strategi pemenuhan kebutuhan cabai merah besar melalui substitusi impor. Temuan dari Sumberejo diharapkan menjadi bahan untuk merumuskan kebijakan yang tidak hanya menjaga ketersediaan cabai, tetapi juga memperkuat posisi petani dalam rantai ekonomi komoditas tersebut. (fan)