logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak

Hari Anak Nasional 2026: Dinsos PPPA Jember Tekankan Pentingnya Aksi Nyata Perlindungan Anak

  • 21 Juli 2026
  • Dibaca 4 Kali
Bagikan Via:
hari-anak-nasional-2026-dinsos-pppa-jember-tekankan-pentingnya-aksi-nyata-perlindungan-anak-20260721

Hari Anak Nasional 2026: Dinsos PPPA Jember Tekankan Pentingnya Aksi Nyata Perlindungan Anak

JEMBER, 20 Juli 2026 — Pesatnya arus media sosial dan keterbukaan akses digital dinilai menjadi tantangan terbesar dalam perlindungan anak saat ini. Menanggapi fenomena tersebut, pakar pendidikan dan Dinsos PPPA Kabupaten Jember mendesak penguatan program parenting digital guna mendampingi anak di ruang siber, sekaligus mencegah pergeseran perilaku dan dampak negatif teknologi di tingkat keluarga.

Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 menjadi momentum krusial bagi seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah untuk merenungkan sejauh mana regulasi perlindungan anak benar-benar berdampak di tingkat tapak. Dalam dialog interaktif Jember Menyapa yang disiarkan langsung Pro 1 RRI Jember pada Senin (20/7/2026), persoalan seputar efektivitas kebijakan serta pemenuhan hak anak diuraikan secara mendalam.

Diskusi publik yang dipandu oleh presenter Etty D. tersebut menghadirkan jajaran narasumber dari berbagai sektor. Di antaranya adalah Kepala Bidang Perlindungan Anak Dinas Sosial PPPA Kabupaten Jember, Sugeng Riyadi, S.E.; Pakar Pendidikan Inklusi sekaligus Penasihat Peace Leader Indonesia, Inayah Sri Wardhani; Pendidik Peace Leader Indonesia, Heru Hermanto; serta perwakilan pemuda Baha'i Banyuwangi, Ainaya Zakiyah Nabila.

Dalam perbincangan tersebut, Sugeng Riyadi, S.E., memberikan penekanan khusus mengenai arah kebijakan pemerintah daerah. "Pemenuhan hak dan perlindungan anak bukan agenda formalitas belaka. Kebijakan yang sudah disusun oleh pemerintah daerah harus benar-benar menyentuh akar rumput dan terwujud dalam aksi nyata," ujar Sugeng Riyadi.

Sugeng mengungkapkan bahwa Dinsos PPPA Jember terus mengupayakan penguatan jejaring perlindungan anak guna menekan angka kekerasan, perundungan (bullying), eksploitasi, hingga pernikahan anak di bawah umur. Namun, ia tidak memungkiri bahwa implementasi di lapangan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Menurutnya, kunci keberhasilan perlindungan anak terletak pada kerekatan sinergi intersektoral yang melibatkan lembaga pemerintah, dunia pendidikan, organisasi masyarakat, hingga unit terkecil yaitu keluarga.

Di sisi lain, Pakar Pendidikan Inklusi, Inayah Sri Wardhani, menyoroti makna penting dari lingkungan pendidikan yang inklusif dan ramah anak. Inayah menilai bahwa setiap anak dianugerahi potensi, bakat, serta latar belakang sosiokultural yang berbeda-beda. Oleh karena itu, sistem pendidikan tidak boleh menyeragamkan anak atau memperlakukan mereka sekadar sebagai objek kebijakan, melainkan harus didorong menjadi subjek pembangunan. (rou)

Galeri Foto