Jangan Ada Anak Tidak Sekolah di Tengah Fasilitas Sekolah Rakyat
- 01 Oktober 2026
- Dibaca 56 Kali
Bagikan Via:
Jangan Ada Anak Tidak Sekolah di Tengah Fasilitas Sekolah Rakyat
JEMBER, 01 OKTOBER 2026 – Pemerintah Kecamatan Sumberjambe mendorong agar tidak ada anak di wilayahnya yang kehilangan kesempatan mendapatkan pendidikan. Hal tersebut disampaikan Camat Sumberjambe Umar Faroek, S.P. saat monitoring di Desa Cumedak, dengan menekankan pentingnya memanfaatkan fasilitas pendidikan yang telah disediakan pemerintah, termasuk melalui program Sekolah Rakyat.
Menurut Faroek, kehadiran Sekolah Rakyat menjadi salah satu bentuk perhatian pemerintah dalam membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Karena itu, pemerintah desa dan masyarakat diminta ikut memastikan tidak ada anak yang berhenti sekolah atau bahkan tidak pernah mendapatkan layanan pendidikan.
“Jangan sampai masih ada anak yang tidak sekolah, sementara negara sudah memberikan fasilitas yang sangat baik. Kalau ada anak yang terkendala ekonomi atau persoalan lainnya, jangan dibiarkan. Kita harus mencari tahu persoalannya dan bersama-sama mencarikan jalan keluar supaya anak tersebut tetap mendapatkan hak pendidikannya,” ujar Faroek, Kamis 01 Oktober 2026.
Di Kabupaten Jember, Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 telah hadir di kawasan Jember Sport Garden (JSG), Kecamatan Ajung. Sekolah tersebut melayani jenjang SD, SMP hingga SMA dengan konsep pendidikan berasrama. Fasilitas yang disediakan antara lain ruang kelas, laboratorium, aula, sarana olahraga, asrama, serta kebutuhan makan bagi siswa.
Sekolah Rakyat di Jember mulai menerima siswa pada tahun ajaran 2026/2027. Program tersebut menyasar anak-anak dari keluarga miskin ekstrem serta Anak Tidak Sekolah (ATS), sehingga keberadaannya diharapkan dapat membuka kembali akses pendidikan bagi anak-anak yang menghadapi hambatan untuk bersekolah.
Faroek menyampaikan, Kecamatan Sumberjambe juga telah mengirimkan anak untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat pada tahun ini. Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti bahwa kesempatan yang diberikan pemerintah sudah mulai dimanfaatkan oleh masyarakat di wilayah Sumberjambe.
“Untuk Sumberjambe, tahun ini sudah ada anak-anak kita yang dikirim untuk menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat. Ini harus kita jaga bersama. Jangan sampai masih ada anak lain yang sebenarnya membutuhkan, tetapi tidak terdata atau tidak mendapatkan informasi. Karena itu, perangkat desa dan masyarakat harus ikut aktif melihat kondisi anak-anak di lingkungannya,” jelas Faroek.
Ia menegaskan, persoalan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun sekolah. Keluarga, pemerintah desa, perangkat kecamatan, serta masyarakat memiliki peran penting untuk memastikan anak tetap berada dalam pendidikan.
Pendataan juga menjadi bagian penting dalam upaya tersebut. Apabila ditemukan anak yang tidak bersekolah atau berisiko putus sekolah, informasi tersebut perlu segera disampaikan kepada pemerintah desa maupun pihak terkait agar dapat dilakukan verifikasi dan tindak lanjut.
Plh. Kasi PMKS Kecamatan Sumberjambe, Agus Budi Santoso, mengatakan bahwa pendidikan memang membutuhkan kepedulian seluruh pihak. Menurutnya, pemerintah dapat menyediakan fasilitas dan program, tetapi keberhasilan pendidikan juga ditentukan oleh kepedulian lingkungan terhadap anak-anak di sekitarnya.
“Pendidikan menjadi tanggung jawab kita bersama. Pemerintah sudah menyediakan fasilitas dan membuka kesempatan, tetapi masyarakat juga harus ikut melihat kondisi anak-anak di lingkungannya. Kalau ada anak yang tidak sekolah, jangan dibiarkan. Kita komunikasikan, kita koordinasikan, kemudian kita cari solusi bersama agar anak itu bisa kembali mendapatkan pendidikan,” ujar Agus.
Agus menambahkan, keberadaan Sekolah Rakyat dapat menjadi salah satu pilihan bagi anak-anak yang membutuhkan dukungan untuk memperoleh pendidikan. Karena itu, informasi mengenai program tersebut perlu terus disampaikan kepada masyarakat agar kesempatan yang tersedia dapat dimanfaatkan secara tepat.
Faroek juga mengingatkan agar perangkat desa tidak hanya menunggu laporan, tetapi aktif melakukan pendataan dan berkomunikasi dengan masyarakat. Menurutnya, kondisi anak yang tidak bersekolah sering kali diketahui terlebih dahulu oleh keluarga, tetangga, maupun perangkat di tingkat desa.
“Jangan hanya menunggu ada laporan. Kalau kita mengetahui ada anak yang tidak sekolah, segera cari tahu penyebabnya. Apakah karena faktor ekonomi, keluarga, atau persoalan lainnya. Setelah itu kita koordinasikan dengan pihak yang bisa membantu. Prinsipnya sederhana, jangan sampai ada anak Sumberjambe yang kehilangan kesempatan untuk sekolah,” tegas Faroek.
Melalui penguatan pendataan dan kepedulian bersama, Pemerintah Kecamatan Sumberjambe berharap keberadaan Sekolah Rakyat dapat semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Pemerintah juga terus mendorong agar setiap anak memperoleh kesempatan pendidikan, sehingga tidak ada lagi anak yang tertinggal hanya karena persoalan akses maupun kondisi keluarga. (wd)