Kecamatan Ledokombo Survei Lokasi Budi Daya Ikan Sistem RAS, Dorong Penguatan Ekonomi Desa
- 21 Oktober 2026
- Dibaca 159 Kali
Bagikan Via:
Kecamatan Ledokombo Survei Lokasi Budi Daya Ikan Sistem RAS, Dorong Penguatan Ekonomi Desa
JEMBER, 21 OKTOBER 2026 – Pemerintah Kecamatan Ledokombo bersama Pemerintah Desa Ledokombo dan instansi terkait melakukan survei lokasi untuk mendukung rencana pelaksanaan Program Tematik Budi Daya Ikan Air Tawar dengan sistem Recirculating Aquaculture System (RAS) di Desa Ledokombo, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Rabu 21 Oktober 2026.
Survei yang berlangsung pukul 11.00 WIB tersebut bertujuan mengidentifikasi potensi dan kesiapan lokasi, sekaligus memetakan kebutuhan teknis sebelum program memasuki tahap pelaksanaan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengembangkan sektor perikanan air tawar melalui penerapan teknologi budi daya yang efisien dan berkelanjutan.
Kegiatan tersebut dihadiri Camat Ledokombo Roni Herman Baza, AP, didampingi Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Kesejahteraan Sosial (PMKS) Kecamatan Ledokombo Imam Turmudzi, Amd.Kep. Hadir pula Kepala Desa Ledokombo Ipung Wahyudi, perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Yeyen Tambuan, S.ST.Pi, serta perwakilan Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Jember, Rahmat.
Keterlibatan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan instansi teknis tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi dalam mengembangkan potensi ekonomi lokal melalui sektor perikanan.
Sistem RAS merupakan teknologi budi daya ikan yang menggunakan sirkulasi ulang air melalui proses penyaringan dan pengelolaan kualitas air. Teknologi ini memungkinkan air digunakan kembali sehingga kebutuhan air dapat ditekan dibandingkan dengan sejumlah metode budi daya konvensional.
Meski menawarkan efisiensi penggunaan air, penerapan sistem RAS membutuhkan perencanaan teknis yang matang. Ketersediaan sumber air, kapasitas penyaringan, aerasi, pasokan listrik, serta kemampuan pengelola menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhitungkan.
Selain itu, keberhasilan usaha budi daya juga ditentukan oleh ketersediaan benih berkualitas, pemilihan jenis ikan, pengelolaan pakan, pengendalian penyakit, dan akses pemasaran. Karena itu, survei lokasi menjadi tahapan penting untuk memastikan kesesuaian kondisi lapangan dengan kebutuhan program.
Camat Ledokombo Roni Herman Baza, AP, menegaskan bahwa perencanaan program tematik perlu dilakukan secara terukur agar pelaksanaannya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Survei lokasi ini merupakan langkah awal yang penting untuk memastikan kesiapan tempat dan kebutuhan teknis program. Kami berharap melalui koordinasi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan, dinas terkait, serta pemerintah desa, program ini dapat direncanakan dengan baik dan nantinya memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan program tidak cukup hanya dengan menyediakan sarana budi daya. Kesiapan sumber daya manusia, pola pengelolaan, serta keberlanjutan usaha juga perlu menjadi perhatian agar program dapat berjalan secara optimal dalam jangka panjang.
Kepala Desa Ledokombo Ipung Wahyudi menyatakan dukungan terhadap upaya pengembangan potensi desa melalui sektor perikanan. Menurutnya, survei lokasi diperlukan untuk menilai kesesuaian rencana program dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.
“Pemerintah desa pada prinsipnya perlu mendukung program yang berpotensi meningkatkan produktivitas dan membuka peluang usaha bagi masyarakat. Melalui survei ini, kami berharap potensi lokasi dan kesiapan pelaksana dapat dikaji secara menyeluruh sehingga program yang direncanakan benar-benar sesuai dengan kebutuhan desa,” ungkapnya.
Dukungan pemerintah desa diharapkan dapat memperkuat keterlibatan masyarakat, mulai dari tahap persiapan hingga pengelolaan usaha. Pemetaan calon pengelola, pembagian tanggung jawab, serta perhitungan biaya operasional dan potensi hasil usaha juga diperlukan agar kegiatan budi daya dapat dikelola secara produktif.
Dengan demikian, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga berperan aktif dalam mengembangkan usaha perikanan berbasis potensi lokal.
Kehadiran perwakilan KKP dan DKPPP Kabupaten Jember mendukung koordinasi dalam mengkaji kebutuhan teknis program. Aspek yang perlu diperhatikan meliputi desain instalasi, kapasitas filtrasi, sirkulasi air, aerasi, pengendalian suhu, serta ketersediaan listrik.
Sistem RAS memerlukan pemantauan kualitas air secara rutin. Gangguan pada pompa, aerasi, atau sistem penyaringan dapat memengaruhi kondisi ikan dalam waktu singkat. Oleh karena itu, kapasitas produksi dan kebutuhan sarana harus direncanakan sesuai kondisi lokasi serta kemampuan calon pengelola.
Perwakilan KKP Yeyen Tambuan, S.ST.Pi, menekankan pentingnya kajian teknis sejak tahap awal agar penerapan teknologi sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
“Penerapan teknologi budi daya harus memperhatikan kesesuaian lokasi, kualitas air, desain instalasi, serta kemampuan pengelola dalam menjalankan sistem secara konsisten. Kajian teknis sejak tahap awal diperlukan agar rencana pengembangan dapat disusun berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan,” ujarnya.
Hasil survei selanjutnya diharapkan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kebutuhan infrastruktur, kapasitas produksi yang realistis, serta bentuk pendampingan bagi calon pengelola. Perencanaan tersebut juga perlu memperhitungkan efisiensi biaya operasional dan peluang pemasaran hasil panen. (yus)