logo ppid jember kim
Oleh : Kelurahan Antirogo

Kelurahan Antirogo Berduka, Lurah Teguh Ajak Orang Tua Perketat Pengawasan Anak di Sungai Bedadung

  • 01 Juli 2026
  • Dibaca 20 Kali
Bagikan Via:
kelurahan-antirogo-berduka-lurah-teguh-ajak-orang-tua-perketat-pengawasan-anak-di-sungai-bedadung-20260701

Kelurahan Antirogo Berduka, Lurah Teguh Ajak Orang Tua Perketat Pengawasan Anak di Sungai Bedadung

JEMBER, 1 JULI 2026 – Pemerintah Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, menyampaikan belasungkawa mendalam atas meninggalnya AHA (13), siswa SMPN 1 Jember yang menjadi korban tenggelam di Sungai Bedadung, Selasa sore, 30 Juni 2026. Tragedi yang terjadi di sekitar Jembatan Nuris, perbatasan Kelurahan Baratan, Kecamatan Patrang, dan Kelurahan Antirogo itu menjadi pengingat pentingnya pengawasan terhadap anak-anak saat beraktivitas di kawasan sungai.

Lurah Antirogo, Teguh Tri Laksono, S.E., M.M., mengaku prihatin atas musibah yang menimpa warganya. Ia menyampaikan duka cita kepada keluarga korban sekaligus mengajak seluruh masyarakat meningkatkan kewaspadaan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

"Kami atas nama Pemerintah Kelurahan Antirogo turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya ananda AHA. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan dalam menghadapi musibah ini," ujarnya.

Menurut Teguh, Sungai Bedadung memang sering menjadi lokasi bermain anak-anak. Padahal, di sejumlah titik terdapat arus yang cukup deras dan kedalaman yang membahayakan, terlebih bagi anak yang belum memiliki kemampuan berenang.

"Kami mengimbau para orang tua agar lebih meningkatkan pengawasan terhadap putra-putrinya dan tidak membiarkan mereka bermain di sungai tanpa pendampingan. Keselamatan anak merupakan tanggung jawab bersama, sehingga perlu menjadi perhatian seluruh masyarakat," tegasnya.

Peristiwa nahas itu bermula sekitar pukul 13.00 WIB saat korban bermain di Sungai Bedadung bersama tiga temannya, AY, BP, dan FP. Saat itu sandal korban hanyut terbawa arus. Korban kemudian berusaha mengambil sandal tersebut, namun diduga terseret arus karena tidak bisa berenang.

Kanit Reskrim Polsek Patrang, Ipda Mustaqim Romli, mengatakan salah seorang teman korban sempat berusaha memberikan pertolongan. Namun derasnya arus membuat upaya tersebut gagal sehingga ketiga temannya memilih berenang ke tepi sungai untuk meminta bantuan warga.

Menerima laporan tersebut, personel Polsek Patrang bersama Tim Reaksi Cepat BPBD Jember langsung melakukan pencarian. Setelah hampir tiga jam penyisiran, korban akhirnya ditemukan sekitar pukul 15.51 WIB di dasar sungai dengan kedalaman sekitar empat meter dalam kondisi meninggal dunia.

"Korban ditemukan di kedalaman sekitar empat meter. Selanjutnya dievakuasi ke RSD dr. Soebandi. Hasil pemeriksaan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan dan pihak keluarga menerima kejadian ini sebagai musibah," kata Mustaqim.

Pemerintah Kelurahan Antirogo berharap tragedi tersebut menjadi pelajaran bagi seluruh masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap potensi bahaya di aliran sungai, terutama selama musim dengan debit air yang berubah-ubah. Melalui peningkatan pengawasan orang tua dan kepedulian lingkungan sekitar, diharapkan tidak ada lagi korban jiwa akibat aktivitas bermain di sungai. (sar)

Galeri Foto