logo ppid jember kim
Oleh : Badan Penanggulangan Bencana Daerah

Kolaborasi Multi-Pihak di Jember Perkuat Jejaring Penanganan Hiu Paus dan Biota Laut Terdampar

  • 09 Maret 2026
  • Dibaca 220 Kali
Bagikan Via:
kolaborasi-multi-pihak-di-jember-perkuat-jejaring-penanganan-hiu-paus-dan-biota-laut-terdampar-20260309

Kolaborasi Multi-Pihak di Jember Perkuat Jejaring Penanganan Hiu Paus dan Biota Laut Terdampar

JEMBER – Berbagai lembaga pemerintah, akademisi, komunitas nelayan, hingga organisasi masyarakat berkumpul dalam kegiatan sarasehan bertajuk Pemetaan Partisipatif dan Pembentukan Jejaring Penanganan Hiu Paus serta Biota Laut Terdampar di Pesisir Jember yang digelar pada Senin, 9 Maret 2026. Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 13.00 WIB hingga 18.00 WIB di Aula Dinas Ketahanan Pangan Peternakan dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Jember. Forum tersebut bertujuan memperkuat koordinasi lintas sektor dalam upaya penanganan mamalia laut maupun biota laut besar yang terdampar di wilayah pesisir selatan Jember. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi langkah awal untuk membangun jejaring kolaboratif yang mampu merespons kejadian darurat di laut secara cepat dan terorganisir.

Sarasehan ini diselenggarakan sebagai tindak lanjut dari undangan resmi yang mengajak berbagai pemangku kepentingan untuk bersama-sama membahas mekanisme penanganan kejadian terdamparnya hiu paus dan biota laut lainnya. Kabupaten Jember yang memiliki garis pantai panjang di pesisir selatan diketahui kerap menjadi wilayah perlintasan berbagai jenis biota laut besar. Oleh karena itu, keberadaan sistem koordinasi yang solid menjadi kebutuhan penting agar setiap kejadian dapat ditangani secara tepat, baik dari sisi penyelamatan satwa maupun mitigasi dampak terhadap masyarakat pesisir.

Kegiatan dimulai dengan kedatangan peserta sekitar pukul 12.45 WIB sebelum sarasehan resmi dibuka pukul 13.00 WIB. Diskusi berlangsung secara interaktif dengan menghadirkan berbagai perspektif dari instansi pemerintah, peneliti, praktisi kelautan, hingga kelompok masyarakat pengawas pesisir. Para peserta membahas berbagai pengalaman penanganan kasus biota laut terdampar yang pernah terjadi di wilayah pesisir Jawa Timur, khususnya di Jember. Diskusi juga menyoroti pentingnya pemetaan lokasi rawan kejadian serta prosedur penanganan yang terstandarisasi agar proses evakuasi atau penyelamatan dapat dilakukan secara efektif.

Hasil utama dari kegiatan ini adalah terbentuknya jejaring sosial lintas lembaga yang fokus pada penanganan mamalia laut dan biota laut terdampar di wilayah pesisir Jember. Jejaring ini diharapkan mampu mempercepat alur komunikasi ketika terjadi kejadian darurat di lapangan. Selain itu, forum tersebut juga menghasilkan kesepakatan untuk meningkatkan koordinasi antarinstansi dalam pelaksanaan penanganan mamalia laut yang terdampar, termasuk dalam hal mobilisasi sumber daya manusia dan peralatan pendukung.

Tidak hanya berhenti pada pembentukan jejaring, peserta sarasehan juga merencanakan program pelatihan khusus terkait penanganan mamalia laut terdampar. Pelatihan tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas petugas lapangan, relawan, serta kelompok masyarakat pesisir agar mampu melakukan penanganan awal yang sesuai dengan standar konservasi satwa laut. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan respon terhadap kejadian terdampar dapat dilakukan secara lebih profesional dan aman.

Sarasehan ini dihadiri oleh berbagai unsur, di antaranya BPBD Kabupaten Jember, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur, DKPPP Jember, Dinas PUPR Jember, Balai Pengelola Perikanan Denpasar, Balai Taman Nasional Meru Betiri, Polairud Polres Jember, Pos TNI AL Puger, Satgas Marinir Pam Puter Nusa Barung, serta akademisi dari FMIPA Universitas Jember. Selain itu, turut hadir Pos SAR BASARNAS Jember, UPTD Pemadam Kebakaran Jember, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Jawa Timur VII, penyuluh perikanan wilayah Jember, SMK Perikanan dan Kelautan Puger, serta sejumlah organisasi masyarakat dan kelompok pengawas masyarakat (POKMASWAS) di wilayah pesisir.

Keterlibatan berbagai pihak tersebut menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga kelestarian ekosistem laut sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kejadian biota laut terdampar. Melalui sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, akademisi, serta masyarakat pesisir, diharapkan upaya penanganan hiu paus dan biota laut lainnya di wilayah pesisir Jember dapat berjalan lebih cepat, terkoordinasi, dan berbasis ilmu pengetahuan.

Dengan terbentuknya jejaring ini, Kabupaten Jember diharapkan mampu menjadi salah satu daerah yang memiliki sistem respons terpadu dalam penanganan mamalia laut terdampar. Langkah ini juga menjadi bagian penting dari upaya konservasi laut yang berkelanjutan serta perlindungan terhadap keanekaragaman hayati di wilayah pesisir selatan Jawa Timur.

Galeri Foto