Melintasi Batas dan Etnis, Ketika Egrang Jadi Simbol Inklusi Lintas Generasi di Ledokombo
- 09 Agustus 2026
- Dibaca 22 Kali
Bagikan Via:
Melintasi Batas dan Etnis, Ketika Egrang Jadi Simbol Inklusi Lintas Generasi di Ledokombo
JEMBER, 09 AGUSTUS 2026 – Di atas sepasang bambu egrang, batasan usia, kondisi fisik, hingga latar belakang sosial seketika meluruh. Pemandangan penuh kehangatan ini mewarnai riuhnya Festival Egrang XIV Tanoker Ledokombo yang digelar dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026, Sabtu 08 Agustus 2026.
Langkah-langkah kaki di atas egrang yang menyusuri rute dari Kantor Desa Sumberlesung hingga Lapangan Kecamatan Ledokombo bukan lagi sekadar atraksi permainan kampung. Egrang telah bertransformasi menjadi social equalizer atau media pemersatu yang meruntuhkan sekat perbedaan dan menyuarakan pesan inklusivitas dari pinggiran Jember.
Semangat itu terpancar jelas dalam parade 21 kontingen defile yang tampil memukau di sepanjang jalan. Rombongan ini membawa warna keberagaman yang nyata.
Anak-anak sekolah berjalan bersisian dengan kelompok penyandang disabilitas. Selain itu, lansia lintas generasi melangkah bersama pemuda, serta deretan organisasi sosial keagamaan, lintas etnis, dan Forum Anak Jember yang menyatu dalam satu ritme kegembiraan.
Kehadiran jajaran pejabat tinggi, mulai dari Menteri PPPA RI Dra. Hj. Arifatul Choiri Fauzi, M.Si., Bupati Jember M. Fawait, S.E., M.Sc., Direktur Tanoker Dra. Farha Abdul Kadir Assegaf, M.Si., hingga jajaran konsulat jenderal negara sahabat, menjadi saksi bagaimana ruang aman bagi anak dan masyarakat rentan dapat diciptakan melalui budaya lokal.
"Festival Egrang Tanoker bukan sekadar pesta budaya, melainkan ruang pemersatu yang meruntuhkan batasan fisik, usia, hingga latar belakang sosial," ungkap Kepala Dinas Sosial PPPA Kabupaten Jember, Akhmad Helmi Luqman, S.Sos.
Ia menambahkan bahwa semangat keberagaman di festival ini selaras dengan komitmen Pemkab Jember dalam memanusiakan seluruh warga tanpa terkecuali, termasuk kelompok disabilitas.
Kehangatan perayaan berlanjut hingga ke area pasar rakyat. Saat meninjau deretan tenda UMKM, menteri dan para tamu undangan disuguhi pertunjukan seni inklusi serta pementasan lintas iman dari warga setempat.
Senyum anak-anak difabel yang tampil percaya diri bersama rekan-rekannya menegaskan bahwa di Ledokombo, toleransi dan perlindungan anak bukan sekadar wacana di atas kertas, melainkan tradisi yang dirawat setiap hari. (ysf)