Menjaga Nadi Wayang Kulit, Ikhtiar Pelestarian Budaya di Wuluhan Jember
- 31 Maret 2026
- Dibaca 298 Kali
Bagikan Via:
Menjaga Nadi Wayang Kulit, Ikhtiar Pelestarian Budaya di Wuluhan Jember
JEMBER, 31 MARET 2026 - Di tengah arus modernisasi yang kian kencang, Kecamatan Wuluhan terus memantapkan posisinya sebagai benteng pertahanan seni tradisional. Komitmen ini secara konsisten diwujudkan melalui upaya pelestarian wayang kulit yang puncaknya baru saja dilaksanakan pada momentum Ramadan lalu di Pendopo Kecamatan Wuluhan.
Bagi masyarakat setempat, menjaga eksistensi wayang bukan sekadar menjalankan rutinitas tahunan, melainkan sebuah ikhtiar mendalam untuk memastikan nilai-nilai luhur "nguri-nguri" budaya tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.
Strategi pelestarian di Wuluhan dilakukan dengan metode estafet generasi yang sangat terukur. Hal ini terlihat dari pembagian panggung yang inklusif, di mana sesi siang hari didedikasikan khusus bagi para dalang muda.
Panggung ini menjadi laboratorium hidup sekaligus ruang bagi para penerus pedalangan untuk mengasah mental dan teknik di hadapan publik secara langsung.
Estafet ini kemudian disempurnakan pada sesi malam hari melalui penampilan dalang-dalang sepuh, termasuk tokoh ikonik seperti Ki Junawan Prabowo, yang memberikan standar kualitas serta kedalaman filosofis bagi para penikmat setianya.
Ki Junawan Prabowo menegaskan, keberlanjutan tradisi ini sangat bergantung pada pemahaman masyarakat terhadap esensi wayang itu sendiri.
“Wayang kulit bukan sekadar hiburan visual, melainkan sebuah kesatuan antara tontonan, tuntunan, sekaligus tatanan tradisional,” terangnya, dikutip Selasa, 31 Maret 2026.
Melalui pertunjukan yang digelar secara berkala, Ki Junawan menambahkan, pesan-pesan moral dalam setiap lakon diharapkan dapat meresap ke dalam sanubari generasi muda. “Sehingga identitas lokal tetap kokoh meski digempur oleh tren global yang terus berubah,” jelasnya.
Meski perhelatan di bulan suci telah usai, dampak yang ditinggalkan tetap membekas kuat dalam kehidupan sosial masyarakat.
Selain menjadi pengingat akan akar budaya Jawa, kegiatan ini terbukti mampu menjadi ruang silaturahmi yang mempererat solidaritas antarwarga serta menggerakkan ekonomi lokal secara organik.
Kehadiran penonton dari berbagai lapisan usia menunjukkan bahwa kecintaan terhadap wayang kulit masih berdenyut kencang.
Pemerintah Kecamatan Wuluhan menegaskan bahwa program pelestarian ini akan terus dilakukan secara berkesinambungan.
Keberhasilan pelaksanaan kegiatan sebelumnya menjadi bukti nyata bahwa dengan sinergi antara seniman lintas generasi dan dukungan penuh masyarakat, "Kesultanan Wayang Kulit" di Wuluhan akan tetap lestari.
Upaya ini memastikan bahwa warisan leluhur tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi tetap menjadi bagian hidup yang mampu berdampingan dengan perkembangan zaman. (riz)