logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan

Program Bunga Desaku di Mumbulsari, Bedah Problem dan Tantangan Petani Jember

  • 07 April 2026
  • Dibaca 200 Kali
Bagikan Via:
program-bunga-desaku-di-mumbulsari-bedah-problem-dan-tantangan-petani-jember-20260408

Program Bunga Desaku di Mumbulsari, Bedah Problem dan Tantangan Petani Jember

JEMBER, 07 APRIL 2026 - Di balik citra sebagai salah satu daerah agraris, Kabupaten Jember ternyata menyimpan tantangan serius di sektor pertanian. Hal ini mengemuka dalam Pertemuan Kelompok Tani pada Program Bunga Desaku yang digelar di Balai Desa Suco, Kecamatan Mumbulsari, Selasa, 07 April 2026.

Mengangkat tema “Unit Layanan Kompos (ULK) Poktan: Mewujudkan Kemandirian Pupuk dan Kesejahteraan Petani”, forum ini tidak sekadar membahas teknis pertanian, tetapi juga membedah persoalan mendasar yang selama ini dihadapi petani.

Salah satu isu utama adalah semakin sempitnya kepemilikan lahan. Rata-rata petani di Jember hanya mengelola sekitar 2.500 meter persegi. Dengan luasan tersebut, seberapa tinggi pun produktivitas yang dicapai, hasil akhirnya tetap terbatas. Kondisi ini membuat banyak petani harus mencari tambahan penghasilan di luar sektor utama demi memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam forum tersebut, Dr. Bambang Herry Purnomo, seorang pakar pertanian, menyoroti bahwa persoalan pertanian tidak bisa dilihat secara sederhana. “Rata-rata kepemilikan lahan di Jember itu sekitar dua ribu lima ratus meter persegi. Kalau dihitung, pendapatan petani bisa tidak sampai dua juta per bulan,” ujarnya.

Selain persoalan lahan, ketergantungan terhadap pupuk kimia juga menjadi perhatian serius. Selama ini, pupuk kimia dianggap sebagai solusi cepat untuk meningkatkan hasil panen. Namun, penggunaan yang terus-menerus tanpa diimbangi pengelolaan yang tepat justru berdampak pada penurunan kualitas tanah.

Data yang disampaikan dalam forum tersebut menunjukkan bahwa kandungan bahan organik tanah di Jember kini rata-rata hanya sekitar 2 persen, di bawah standar minimal 3 persen untuk pertanian yang sehat. Kondisi ini membuat tanah menjadi lebih keras, cenderung asam, dan kurang mampu menyerap unsur hara secara optimal.

Akibatnya, produktivitas pertanian yang diharapkan meningkat justru cenderung stagnan. Bahkan, jika pola ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin hasil panen akan semakin menurun dalam beberapa tahun ke depan. Situasi ini menjadi ancaman serius, terutama bagi generasi petani berikutnya.

Lebih jauh, persoalan ini tidak hanya berdampak pada individu petani, tetapi juga pada kondisi sosial ekonomi daerah. Dengan jumlah rumah tangga petani yang besar di Jember, rendahnya pendapatan berpotensi memicu masalah kemiskinan struktural yang lebih luas.

Melalui forum ini, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Jember mendorong kesadaran bersama bahwa perubahan pendekatan dalam bertani menjadi kebutuhan mendesak. Tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada keberlanjutan lahan dan kesejahteraan petani.

Diskusi tentang Unit Layanan Kompos (ULK) menjadi salah satu langkah awal untuk menjawab tantangan tersebut. Upaya ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sekaligus memperbaiki kualitas tanah secara bertahap.

Dengan demikian, masa depan pertanian Jember tidak hanya bergantung pada seberapa banyak yang dihasilkan hari ini, tetapi juga pada bagaimana lahan dikelola untuk tetap produktif di masa mendatang. (fan)

Galeri Foto