logo ppid jember kim
Oleh : Badan Penanggulangan Bencana Daerah

Sumur Mengering dan Air Mulai Berbau, 120 KK di Kaliwining Jember Kembali Dapat Bantuan Air dari BPBD

  • 15 September 2026
  • Dibaca 2 Kali
Bagikan Via:
sumur-mengering-dan-air-mulai-berbau-120-kk-di-kaliwining-jember-kembali-dapat-bantuan-air-dari-bpbd-20260915

Sumur Mengering dan Air Mulai Berbau, 120 KK di Kaliwining Jember Kembali Dapat Bantuan Air dari BPBD

JEMBER, 15 SEPTEMBER 2026 – Krisis air bersih mulai dirasakan warga Dusun Bedadung, Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji, Jember. Sebanyak 120 kepala keluarga (KK) terdampak setelah debit sumur warga menurun, sebagian mengering, dan air yang tersisa mulai mengeluarkan bau kurang sedap.

Kondisi tersebut terjadi sejak akhir Juli 2026. Warga di wilayah RW 13 yang belum memiliki jaringan pipanisasi selama ini mengandalkan sumur sebagai sumber utama kebutuhan sehari-hari. Namun memasuki musim kemarau, ketersediaan air semakin terbatas.

Warga pun terpaksa mencari sumber air alternatif. Salah satunya dengan mengambil air dari sumur bor terdekat yang berjarak sekitar 1 kilometer dari permukiman. Untuk kebutuhan mandi, sebagian warga memanfaatkan Sungai Bedadung, meskipun kondisi air sungai dilaporkan keruh dan debitnya mulai berkurang.

Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Desa Kaliwining mengajukan permohonan bantuan air bersih. BPBD Kabupaten Jember kemudian melakukan pendampingan distribusi air bersih pada Selasa (15/9/2026).

Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) BPBD Jember berangkat menuju lokasi sekitar pukul 13.00 WIB dan tiba sekitar pukul 14.00 WIB. Petugas langsung melakukan koordinasi dengan perangkat desa, relawan dan warga sebelum proses distribusi dilakukan.

Dalam kegiatan tersebut, BPBD Provinsi Jawa Timur menyalurkan 5.000 liter air bersih ke tandon BPBD yang telah tersedia di lokasi. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar warga selama sumber air mengalami penurunan akibat kemarau.

Septa Tri Satya Budi, anggota TRC BPBD Jember, mengatakan kondisi sumur menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi warga di wilayah terdampak.

“Debit sumur warga mulai menurun. Sebagian sumur sudah mengering dan air yang masih tersedia mulai berbau kurang sedap. Karena itu, warga membutuhkan dukungan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Septa.

Berdasarkan hasil pendataan, kebutuhan air bersih tersebar di sejumlah wilayah. Di RT 07/RW 13 terdapat sekitar 40 KK terdampak dari total 75 KK. Kemudian RT 08/RW 13 sebanyak 20 KK dari total 70 KK, serta RT 09/RW 13 sebanyak 40 KK dari total 65 KK.

Sementara itu, di RT 11/RW 14 terdapat sekitar 20 KK terdampak dari total 50 KK. Jika keseluruhan wilayah tersebut digabungkan, terdapat sekitar 120 KK yang membutuhkan dukungan air bersih.

Berbeda dengan wilayah terdampak, kondisi RT 05 dan RT 06 relatif aman karena jaringan Perumdam/PDAM telah tersedia. Persoalan lebih terasa di wilayah yang masih mengandalkan sumur dan belum memiliki jaringan pipanisasi.

Di RT 07, 08 dan 09 RW 13, sejumlah sumur warga mulai mengering dan airnya berbau kurang sedap. Kondisi serupa juga ditemukan di RT 11 RW 14, di mana sebagian sumur mulai mengering dan kualitas air menurun.

Untuk mendukung distribusi, tersedia tiga tandon milik BPBD dan satu tandon hibah BPBD yang berada di rumah Kepala Dusun. Keberadaan sejumlah tandon tersebut menjadi titik penampungan agar bantuan air dapat dimanfaatkan warga secara lebih terorganisasi.

Petugas juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kondisi kekeringan dan pentingnya menghemat penggunaan air selama musim kemarau.

Kegiatan distribusi air bersih selesai sekitar pukul 15.00 WIB. Seluruh proses berjalan aman dan tanpa kendala.

BPBD Jember merekomendasikan agar distribusi air bersih sebanyak 5.000 liter dilakukan setiap empat hari sekali selama kebutuhan masyarakat masih tinggi. Selain distribusi berkala, kondisi tersebut juga akan diteruskan kepada dinas terkait untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Kondisi di Dusun Bedadung menunjukkan bahwa keterbatasan infrastruktur air bersih dapat memperbesar dampak kemarau terhadap masyarakat. Ketika jaringan pipanisasi belum tersedia dan sumur mulai kehilangan debit, warga harus mencari sumber alternatif dengan jarak hingga satu kilometer.

Dengan 120 KK yang masih membutuhkan dukungan air bersih, keberlanjutan distribusi menjadi penting untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau. (bob)

Galeri Foto