logo ppid jember kim
Oleh : Kecamatan Jombang

TP PKK Kecamatan Jombang Perkuat Edukasi Kespro Remaja untuk Cegah Pernikahan Dini dan Stunting

  • 25 Mei 2026
  • Dibaca 50 Kali
Bagikan Via:
tp-pkk-kecamatan-jombang-perkuat-edukasi-kespro-remaja-untuk-cegah-pernikahan-dini-dan-stunting-20260525

TP PKK Kecamatan Jombang Perkuat Edukasi Kespro Remaja untuk Cegah Pernikahan Dini dan Stunting

JEMBER, 25 Mei 2026 — Tim Penggerak PKK Kecamatan Jombang terus memperkuat upaya pencegahan pernikahan dini dan penurunan angka stunting melalui kegiatan sosialisasi kesehatan reproduksi remaja yang digelar di Pendopo Kecamatan Jombang. Kegiatan yang diinisiasi Bidang Pokja IV tersebut diikuti siswa-siswi SMP se-Kecamatan Jombang, kader PKK desa, serta pengurus TP PKK Kecamatan Jombang.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pertemuan rutin PKK desa se-Kecamatan Jombang yang dikemas dengan edukasi kesehatan reproduksi remaja sebagai langkah meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai pentingnya menjaga kesehatan sejak usia dini.

Ketua TP PKK Kecamatan Jombang, Yulia Faris, dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran keluarga dalam membimbing dan mengawasi perkembangan remaja agar tidak terjerumus pada pernikahan usia dini. Menurutnya, lingkungan keluarga memiliki peran besar dalam membentuk pola pikir dan masa depan anak.

Selain itu, kader PKK desa juga diajak untuk aktif memberikan pendampingan dan edukasi kepada remaja di lingkungan masing-masing. Pendampingan tersebut dinilai penting guna membangun kesadaran remaja terhadap dampak pernikahan dini, baik dari sisi kesehatan maupun sosial.

Materi sosialisasi disampaikan oleh Riska Dwi selaku Bikor Puskesmas Jombang sekaligus Ketua Pokja IV PKK Kecamatan Jombang. Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa remaja perlu memahami perubahan fisik dan psikologis pada masa pubertas agar mampu menjaga kesehatan organ reproduksi serta menghindari perilaku berisiko.

Narasumber juga menjelaskan bahwa secara biologis organ reproduksi perempuan baru matang sempurna pada usia 20 hingga 21 tahun. Pernikahan di bawah usia 19 tahun disebut memiliki risiko kesehatan yang tinggi, mulai dari pendarahan saat persalinan, preeklamsia, hingga risiko kematian ibu dan bayi.

Selain berdampak pada kesehatan ibu, pernikahan usia dini juga berkaitan erat dengan kasus stunting pada anak. Ibu hamil yang masih berada pada usia remaja dinilai rentan mengalami perebutan nutrisi dengan janin yang dikandung karena tubuh ibu masih dalam masa pertumbuhan. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah dan meningkatkan risiko stunting.

“Pencegahan stunting tidak hanya dilakukan saat anak lahir, tetapi dimulai sejak remaja. Edukasi kesehatan reproduksi menjadi langkah penting agar generasi muda memahami pentingnya kesiapan fisik dan mental sebelum menikah,” terang narasumber dalam kegiatan tersebut.

Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Salah satu pelajar menanyakan cara menghadapi tekanan sosial terkait tren pernikahan muda di kalangan remaja. Narasumber menjawab bahwa remaja perlu fokus pada pendidikan, kesiapan mental, serta aktif mengikuti kegiatan positif di sekolah maupun organisasi kepemudaan.

Sementara itu, kader PKK desa juga menanyakan cara efektif mengajak remaja putri rutin mengonsumsi tablet tambah darah. Narasumber menjelaskan bahwa edukasi harus dilakukan secara persuasif dengan memberikan pemahaman bahwa pencegahan anemia sejak remaja merupakan investasi untuk melahirkan generasi sehat dan bebas stunting.

Melalui kegiatan tersebut, TP PKK Kecamatan Jombang berharap edukasi kesehatan reproduksi dapat terus diterapkan di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat sehingga mampu membangun generasi muda yang sehat, berkualitas, dan siap menyongsong masa depan.

Galeri Foto