logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Kesehatan

PENYUSUNAN PETA FSVA (Food Security and Vulnerability Atlas)

  • 09 September 2022
  • Dibaca 8157 Kali
Bagikan Via:
penyusunan-peta-fsva-food-security-and-vulnerability-atlas

PENYUSUNAN PETA FSVA (Food Security and Vulnerability Atlas)

Apa itu FSVA???

Definisi : Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan atau Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) merupakan instrumen untuk mengidentifikasi tingkat kerentanan terhadap terjadinya rawan pangan di wilayah secara komprehensif.

FSVA merupakan peta tematik yang menggambarkan visualisasi geografis dari hasil analisa data indikator kerentanan terhadap kerawanan pangan dan disusun berdasarkan 3 aspek ketahanan pangan yaitu :1. Aspek Ketersediaan2. Aspek Akses Pangan3. Aspek Pemanfaatan Pangan

Tujuan pembuatan peta ketahanan dan kerentanan pangan (FSVA) adalah:

(i) Menyoroti kondisi ketahanan dan kerentanan terhadap pangan pangan tingkat kabupaten di Indonesia berdasarkan indikator terpilih.

(ii) Mengidentifikasi penyebab kondisi ketahanan dan kerentanan pangan di kabupaten.

(iii) Menyediakan petunjuk dalam mengembangkan strategi mitigasi yang tepat untuk kerentanan pangan kronis.

FSVA disusun menggunakan sembilan indikator yang mewakili tiga aspek ketahanan pangan, yaitu ketersediaan, keterjangkauan dan pemanfaatan pangan. Pendekatan metodologi yang diadopsi untuk analisis komposit adalah dengan menggunakan metode pembobotan. Metode pembobotan digunakan untuk menentukan tingkat kepentingan relatif indikator terhadap masing-masing aspek ketahanan pangan.

Peta ketahanan dan kerentanan pangan komposit dibuat dengan menghitung indeks komposit ketahanan dan kerentanan pangan dengan cara menggabung seluruh indikator dan memberikan bobot pada indikator dengan menggunakan metode Principal Component Analysis.

Peta komposit menunjukkan kondisi ketahanan dan kerentanan pangan berdasarkan gabungan berbagai dimensi ketahanan dan kerentanan pangan.

Penyebab kondisi ketahanan dan kerentanan pangan dapat diketahui dengan mempelajari kondisi per indikator.

Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (FSVA) memuat peta yang berisi informasi daerah-daerah mana saja yang mengalami kerawanan pangan,dan juga untuk mengetahui berbagai penyebab kerawanan pangan secara lebih baik.

Data aspek ketersediaan pangan yang bersumberkan dari data produksi pangan pokok seperti padi, ubi kayu,ubi jalar dan jagung.

Data aspek akses pangan yang bersumber dari persentase penduduk dibawah garis kemiskinan, Persentase desa yang tidak memiliki akses yang memadai dan persentase rumah tangga tanpa listrik.

Data aspek pemanfaatan pangan yang bersumber dari data Persentase Desa yang tinggal lebih dari 5 km dari fasilitas kesehatan, Persentase Rumah Tangga tanpa akses ke air bersih, Perempuan Buta huruf, Berat badan balita di bawah standard dan Angka harapan hidup.

Setelah data tersebut dikumpulkan maka data tersebut digabungkan kedalam aplikasi MAPINFOW yang telah ditentukan oleh Badan Ketahanan Pangan.

Aspek akses Pangan Indikator yang digunakan ada 3 :

Indikator persentase penduduk hidup di bawah garis kemisikinan di perhitungkan dengan melihat. Nilai rupiah pengeluaran per kapita setiap bulan untuk memenuhi standar minimum kebutuhan-kebutuhan konsumsi pangan dan non pangan yang dibutuhkan oleh seorang individu untuk hidup secara layak, data tersebut bersumber dari SUSENAS 2013 dan Sensus Penduduk 2010 yang telah diestimasi . Indikator persentase desa yang tidak memiliki akses penghubung yang memadai dilihat dari persentase desa yang tidak memiliki akses penghubung yang dapat dilalui kendaraan roda 4 /lebih atau sarana transportasi air ,data tersebut bersumber dari BPS Indikator persentase rumah tangga tanpa akses listrik dilihat dari presentase rumah tangga yang tidak memiliki akses listrik dari PLN dan /non PLN, misalnya generator, data bersumber dari SUSENAS 2013, dan Sensus Penduduk 2010 (SAE).

Aspek Pemanfaatan Pangan Indikator yang digunakan ada 5:

Angka harapan hidup pada saat lahir diperhitungkan dari perkiraan lama hidup bayi baru lahir dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas sepanjang hidupnya data tersebut bersumber dari Sensus Penduduk 2010 (SAE). Persentase balita tinggi kurang (stunting) dilihat dari anak di bawah lima tahun yang tinggi badannya kurang dari -2 standar deviasi (-2 SD) dengan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) Persentase perempuan buta huruf dilihat dari persentase perempuan diatas 15 tahun yang tidak dapat membaca atau menulis huruf latin ,data bersumber dari SUSENAS 2013 dan Sensus Penduduk 2010 (SAE). Persentase rumah tangga tanpa akses ke air bersih dilihat dari rumah tangga yang tidak memiliki akses air minum yang berasal dari ledeng meteran, ledeng eceran, sumur bor/pompa, sumur yang terlindung, mata air yang terlindung dengan memperhatikan jarak ke jamban minimal 10 m data bersumber dari SUSENAS 2013 dan Sensus Penduduk 2010 (SAE). Persentase keluarga yang tinggal di desa dengan jarak lebih dari 5 km dari fasilitas kesehatan, data bersumber dari PODES 2014, BPS(SAE).

Setelah semua data 9 indikator tersebut diolah dan mendapatkan hasil maka data tersebut akan digabungkan dan diperhitungkan lagi dengan Metode Komposit. Metode Komposit adalah metode untuk menjelaskan situasi kerentanan pangan suatu wilayah berdasarkan kombinasi dan berbagai indikator /dimensi yang digunakan dalam penyusunan FSVA, dengan melihat hasil analisis komposit maka faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi kerentanan suatu wilayah bisa diindetifikasikan. Tingkat kerentanan maupun faktor yang berpengaruh antar wilayah berebda-beda, sehingga perlu penyelesaian yang sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.

Peta komposit menggambarkan prioritas dalam kelompok gradasi dengan pengelompokkan warna, yaitu merah tua (prioritas 1), merah (prioritas 2), dan merah muda (prioritas 3), kelompok warna merah tua menunjukkan kecamatan yang harus mendapatkan prioritas khusus dalam peningkatan ketahanan pangan dan penanganan masalah kerawanan pangan.pemetaan ini menggambarkan tingkat kemungkinan terjadinya kerawanan pangan suatu kecamatan secara relatif dibandingkan dengan kecamatan lainnya. Untuk warna hijau tua (Prioritas 6), hijau muda (Prioritas 5), hijau kekuningan (Prioritas 4), gradasi warna ini menunjukkan semakin tua maka daerah tersebut tahan pangan, tetapi tidak berarti semua yang hijau akan tahan pangan.

Dengan adanya Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (FSVA) dapat menyoroti kondisi ketahanan dan kerentanan terhadap pangan tingkat kabupaten berdasarkan indikator terpilih, mengidentifikasi penyebab kondisi ketahanan dan kerentanan pangan di kabupaten, dan menyediakan petunjuk dalam mengembangkan strategi mitigasi yang tepat untuk kerentanan pangan kronis. Program pemetaan ini sangat menjanjikan dalam memberikan berbagai informasi yang pada akhirnya mengarah pada tujuan penurunan kemiskinan yang berkesinambungan..

Oleh Karena itu pada tanggal 6 September 2022 Dinas Kesehatan Mengikuti Rapat Koordinasi Aula Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan dengan OPD terkait dan Akademisi untuk Menyusun FSVA. Sedangkan Dinas Kesehatan sendiri adalah penerima dampak dari ketersedian pangan. Jika Pangan tidak tersedia maka akan menyebabkan kelaparan dan berdampak pada status gizi masyarakatnya .

Dari Akademisi (Poltek jurusan Peternakan)

Saran untuk menambah format exell yang dari setiap OPD dapat ikut mengisikan data secara online, agar data dapat tersaji lebih cepat.

Dari DPMD menyampaikan mengenai anggaran 20% dana desa diperuntukkan untuk ketahanan pangan rumah tangga dan gizi, Maka diminta dari dinas terkait menyampaikan usulan saran/masukan untuk kegiatan nyata yang dapat dimasukkan dalam usulan anggaran di tahun 2023.

Sedangkan dari Dinas Perhubungan akan memprioritas desa desa dengan akses jalan yang sulit diprioritaskan. Apalgi yang pada musim penghujan sulit untuk dilalui oleh masyarakat untuk mencapai akses pendidikan, kesehatan dan perbaikan perekonomian.

Dari DISPENDUKCAPIL Sejak tanggal 23 Februari 2022, data sudah terpusat di Kemendagri, jadi kabupaten agak kesulitan untuk mengakses data. Yang dapat dibuka hanya jumlah global tanpa memisahkan penduduk miskin dan non miskin.

Untuk itu rencana jangka pendek setelah pertemuan ini adalah

• Tersediana Aplikasi ang dapat digunakan untuk menghitung skor apabila data dapat dikumpulkan sesuai kebutuhan dalam aplikasi tersebut telah dipenuhi.

• Komitmen dari semua dinas terkait sangat diperlukan untuk berkontribusi dalam penyusunan data FSVA

Jalan Jalan ke gunung kumitir

Meliat hamparan padi bak permadani

maka hati terasa damai dan tidak khawatir

karena kebutuhan pangan masyarakat terpenuhi