STUNTING JEMBER ….OPTIMIS TURUN
J-GEMAR JELITA
Kata stunting saat ini sudah tidak asing lagi. Kata stunting ini digunakan untuk menggambarkan kondisi seorang anak dimana ditandai ketika panjang atau tinggi badan anak kurang jika dibandingkan dengan umurnya. Mudahnya, stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan tubuhnya lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya dan memiliki penyebab utama kekurangan nutrisi.
Banyak yang tidak tahu kalau anak pendek adalah tanda dari adanya masalah gizi kronis pada pertumbuhan tubuh si kecil. Hanya saja, perlu diingat bahwa anak pendek belum tentu stunting, sedangkan anak stunting pasti terlihat pendek. Anak masuk ke dalam kategori stunting ketika panjang atau tinggi badannya menunjukkan angka di bawah -2 standar deviasi (SD). Terlebih lagi, jika kondisi ini dialami anak yang masih di bawah usia 2 tahun dan harus ditangani dengan segera dan tepat.
Penilaian status gizi dengan standar deviasi tersebut biasanya menggunakan grafik pertumbuhan anak (GPA) dari WHO. Tubuh pendek pada anak yang berada di bawah standar normal merupakan akibat dari kondisi kurang gizi yang telah berlangsung dalam waktu lama.
Hal tersebut yang kemudian membuat pertumbuhan tinggi badan anak terhambat sehingga mengakibatkan dirinya tergolong stunting.
Adapun data stunting dapat diperoleh dari penimbangan bulanan dan juga survey, sehingga akan memunculkan angka yang perbeda dari sistem pengambilan data yang berbeda. Tidak masalah tergantung dari kita mau menggunakan yang mana tetapi dasar atau prinsip pengumpulan data itu yang harus kita pahami.
Untuk data Stunting kabupaten Jember adalah sebagai berikut:
NO
Tahun
Data Stunting
Ket.
1.
2017
17,73
Pemantauan Status Gizi (PSG)
2.
2018
38,3
Riskesdas
3.
2019
11,67
EPPGBM
37,94
SSGI
4
2020
13,73
EPPGBM
5
2021
11.74
EPPGBM
23,90
SSGI
6
2022
7,37
Laporan Bulanan EPPGBM ada Kendala aplikasi
EPPGBM: Elektonik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat
SSGI : Survey Satus Gizi Indonesia EPPGM menggambarkan data hasil seluruh balita yang timbang di Posyandu.
Jadi bisa menggambarkan data per desa bahkan perposyandu ber by name sedangkan SSGI berdasarkan survey diambil sasaran secara rundown sumpling jadi digunakan untuk menggambarkan data kabupaten tidak bisa mejadi data desa atau posyandu. Saat ini masih digunakan data SSGI karena tidak semua kabupaten Kota bisa mangupload minimal 80 persen balitanya. Untuk Kabupaten Jember mulai tahun 2019 sampai dengan 2021 telah mengupload data balita lebih dari 80 %.
Perbedaan ini tidak perlu diperdebatkan tetapi menjadi koreksi kita mungkin ada data balita yang belum tercover posyandu tetapi masuk menjadi sasaran survey, sekaligus agar kita tetap waspada dan selalu berupaya terus menurunkan angka stunting di Kabupaten Jember.
Dari hasil Penimbangan Balita pada bulan timbang Februari 2022 puskesmas dengan prevalensi stunting diatas 10 % sebanyak 11 Puskesmas yaitu:
1. Puskesmas Curahnongko 14,47%
2. Puskesmas Silo II 16,7%
3. Puskesmas Rambipuji 15,41%
4. Puskesmas Umbulsari 11,86%
5. Puskesmas Tanggul 13,40%
6. Puskesmas Arjasa 10,61%
7. Puskesmas Ledokombo 12,23%
8. Puskesmas Sumberjambe 19,98%
9. Puskesmas Sukowono 16,17%
10. Puskesmas Jelbuk 17,55%
11. Puskesmas Kaliwates 13,01
Terus semangat untuk selalu memantau dan melakukan pendampingan pada keluarga dengan balita stunting dan keluarga dengan resiko stunting agar tidak muncul stunting baru … semangat !!!
LAYANG LAYANG JATUH DI ATAS GENTING
ADIK MENANGIS MINTA UNTUK DIAMBIL
KITA SEMUA HARUS CEGAH STUNTING
AGAR SDM SEHAT BERKUALITAS DAN TERAMPIL