Banjir Terbesar dalam Sejarah: Hujan Intensitas Tinggi Rendam Kelurahan Kepatihan, Jember
- 18 Desember 2025
- Dibaca 1291 Kali
Bagikan Via:
Banjir Terbesar dalam Sejarah: Hujan Intensitas Tinggi Rendam Kelurahan Kepatihan, Jember
Jember, 16 Desember 2025 – Cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Jember sejak Senin, 15 Desember 2025, telah menyebabkan bencana hidrometeorologi yang parah, termasuk banjir luapan sungai, tanah longsor, dan kerusakan infrastruktur. Kejadian ini mencapai puncaknya sekitar pukul 23.00 WIB dan berlanjut hingga dini hari Selasa, 16 Desember 2025. Peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur telah memprediksi hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang dan petir di wilayah Jember. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember langsung merespons dengan meningkatkan kesiapsiagaan dan melakukan aksi cepat di lapangan bersama unsur terkait seperti TNI, Polri, dan relawan.
Hujan dengan intensitas tinggi dimulai sejak pukul 11.00 WIB pada hari Senin, menyebabkan debit air di beberapa sungai utama melonjak drastis. Sungai Bedadung, Kalijompo, Mayang, Rembangan, Dinoyo, dan Gila menjadi sumber utama luapan yang menggenangi permukiman warga. Dampaknya tidak hanya banjir, tetapi juga longsor dan pohon tumbang di berbagai kecamatan. Wilayah terdampak mencakup setidaknya 20 lokasi di Kecamatan Patrang, Kaliwates, Sumbersari, Pakusari, Kalisat, Rambipuji, dan Ledokombo.
Salah satu wilayah yang paling parah terkena dampak adalah Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates. Di sini, ketinggian air banjir mencapai 80 hingga 150 sentimeter, merendam ratusan rumah warga dan menyebabkan kerugian material yang signifikan. Seorang warga setempat yang rumahnya terendam mengungkapkan, "Ini adalah banjir terbesar yang pernah terjadi di sini." Saat berita ini diturunkan, Lurah Kepatihan, Awan Sugiarto S.Sos., MM., bersama Kasie dan staf kelurahan, masih bahu-membahu membersihkan lumpur dan sampah yang dibawa banjir. "Semoga hujan tidak turun lagi, biar kita lebih mudah membersihkan air dan kotoran yang dibawa oleh air banjir ini," katanya. Lokasi RW 22 yang berdekatan langsung dengan Sungai Bedadung membuat wilayah ini sangat rentan terhadap luapan sungai saat hujan deras.
BPBD Kabupaten Jember menerima laporan pertama pada pukul 14.55 WIB dan segera mengerahkan tim ke lokasi. Langkah-langkah respons termasuk koordinasi lintas sektor, asesmen lapangan, evakuasi warga ke tempat aman, pendirian tenda pengungsian sementara, dan distribusi bantuan. Bantuan yang diberikan mencakup paket logistik dasar seperti makanan siap saji, peralatan masak dan makan, selimut, kompor, serta paket khusus untuk balita, lansia, dan ibu hamil. Hingga pukul 03.00 WIB Selasa pagi, tim BPBD masih siaga penuh di lokasi-lokasi kritis.
Data sementara dari BPBD menunjukkan bahwa banjir luapan Sungai Bedadung telah memengaruhi 1.271 kepala keluarga, dengan kelompok rentan seperti lansia, balita, dan ibu hamil menjadi prioritas penanganan. Kerusakan mencakup satu rumah rusak berat, satu rusak sedang, satu rusak ringan, serta dua fasilitas umum yang terdampak. Selain itu, banjir juga mengganggu akses jalan raya, menyebabkan kemacetan lalu lintas dan kesulitan distribusi bantuan awal. Beberapa warga melaporkan kehilangan barang berharga seperti perabot rumah tangga, dokumen penting, dan hewan ternak.
Fenomena ini bukan yang pertama kali terjadi di Jember, tetapi skala banjir kali ini diakui sebagai yang terbesar dalam sejarah Kelurahan Kepatihan. Faktor penyebab utama adalah curah hujan ekstrem yang melebihi rata-rata musiman, ditambah dengan degradasi lingkungan seperti penyempitan sungai akibat sampah dan bangunan liar. BPBD merekomendasikan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan, melakukan kerja bakti pembersihan pascabencana, dan meninjau ulang struktur bangunan di sekitar sungai atau irigasi. Pemerintah daerah juga diharapkan memperkuat infrastruktur pencegahan banjir, seperti normalisasi sungai dan pembangunan tanggul yang lebih kuat.
Dalam konteks perubahan iklim global, kejadian seperti ini semakin sering terjadi di wilayah tropis seperti Indonesia. Pakar lingkungan dari Universitas Jember menyatakan bahwa hujan intensitas tinggi dipicu oleh fenomena La Niña yang memperkuat musim hujan. Untuk itu, edukasi masyarakat tentang mitigasi bencana menjadi krusial. Program seperti penanaman pohon di hulu sungai, pengelolaan sampah yang baik, dan sistem peringatan dini yang lebih canggih perlu ditingkatkan.
Sinergi antara BPBD, pemerintah daerah, TNI, Polri, organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, relawan, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan penanganan. Pemerintah Kabupaten Jember berkomitmen menjadikan keselamatan warga sebagai prioritas utama, sambil mempercepat pemulihan pascabencana. Dengan kesiapsiagaan bersama, diharapkan Jember bisa lebih tangguh menghadapi cuaca ekstrem di masa depan. Hingga saat ini, situasi mulai terkendali, meski hujan ringan masih berpotensi turun. Warga diimbau untuk tetap di rumah jika tidak mendesak dan melaporkan jika ada kejadian susulan.