logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak

Cegah Pernikahan Anak dan Perilaku Berisiko, Mahasiswa UNEJ Bersama Pemdes Sidomukti Gelar Pelatihan Forum Sigap Dini

  • 17 September 2026
  • Dibaca 14 Kali
Bagikan Via:
cegah-pernikahan-anak-dan-perilaku-berisiko-mahasiswa-unej-bersama-pemdes-sidomukti-gelar-pelatihan-forum-sigap-dini-20260917

Cegah Pernikahan Anak dan Perilaku Berisiko, Mahasiswa UNEJ Bersama Pemdes Sidomukti Gelar Pelatihan Forum Sigap Dini

SIDOMUKTI, 17 September 2026 – Sebagai upaya nyata dalam melindungi masa depan generasi muda dari maraknya kasus pernikahan anak dan perilaku berisiko, Forum Sigap Dini bekerja sama dengan Pemerintah Desa Sidomukti menggelar Pelatihan Forum Sigap Dini bertajuk "Pencegahan Perilaku Berisiko dan Pernikahan Anak" di Balai Desa Sidomukti, Kecamatan Mayang, pada Kamis (17/9/2026).

Kegiatan yang diinisiasi oleh mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) yang tergabung dalam Forum Sigap Dini ini diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari perwakilan siswa-siswi SMP di Desa Sidomukti, jajaran Forum Sigap Dini, hingga Penghulu Desa Sidomukti.

Acara dibuka secara resmi melalui sambutan hangat dari Kepala Desa Sidomukti, Sunardi Hadi. Dalam arahannya, beliau menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif dan kolaborasi strategis antara mahasiswa UNEJ dan Pemerintah Desa Sidomukti.

"Anak-anak dan remaja adalah fondasi utama masa depan Desa Sidomukti. Kita tidak boleh membiarkan cita-cita mereka terhenti atau terenggut oleh pernikahan anak maupun pergaulan bebas. Langkah kolaboratif bersama mahasiswa UNEJ ini adalah perisai nyata untuk menjaga, mengedukasi, dan memastikan anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing," ucap Sunardi.

Memasuki sesi penyampaian materi, dr. Oktavia Wahyu Krisna Murti, M.M., selaku Kepala Bidang Pemberdayaan, Perlindungan Perempuan, dan PUG Dinsos PPPA Kabupaten Jember hadir sebagai narasumber pertama. Dalam paparan serta tanggapannya, dr. Oktavia menyoroti peran penting pengawasan orang tua di tengah derasnya arus teknologi dan gadget yang kerap memicu perilaku berisiko pada anak.

"Perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama. Di era digital saat ini, penggunaan gadget yang tak terawasi kerap menjadi pintu masuk perilaku berisiko. Oleh karena itu, peran aktif orang tua sangat krusial untuk membentengi anak-anak kita dari kekerasan fisik, psikis, kekerasan seksual, hingga pernikahan anak," ujar dr. Oktavia.

Beliau juga menegaskan pentingnya komitmen bersama untuk menyukseskan program pencegahan tersebut. "Kami berharap seluruh elemen masyarakat dapat bersatu mensukseskan pencegahan kekerasan dan pernikahan anak. Jika masyarakat menemukan atau mengalami indikasi kekerasan, jangan ragu untuk melapor melalui hotline pengaduan resmi kami di layanan 'Wadul Guse'," tambahnya.

Selanjutnya, sesi kedua diisi oleh narasumber dari Puskesmas Mayang yang membedah secara komprehensif aspek medis dan kesehatan reproduksi. Pemateri menjelaskan bahwa remaja berada dalam fase perkembangan organ reproduksi yang belum matang secara sempurna, sehingga perilaku seks bebas maupun pernikahan anak menyimpan risiko kesehatan yang sangat besar.

Suasana pelatihan semakin hidup saat memasuki sesi tanya jawab. Para peserta, khususnya perwakilan siswa-siswi SMP, tampil aktif melontarkan berbagai pertanyaan kritis. Diskusi berfokus pada langkah-langkah konkrit mencegah pernikahan anak di lingkungan sekitar serta strategi membentengi diri saat menghadapi ajakan atau tindakan tidak senonoh dari rekan sebaya maupun lingkungan sosial. Para narasumber menekankan pentingnya sikap tegas (asertif) dalam menolak ajakan berbahaya, berani melapor kepada orang tua atau pihak berwenang, serta memanfaatkan saluran aduan "Wadul Guse" maupun layanan Puskesmas jika menghadapi situasi darurat. (ysf)

Galeri Foto