Dari Gang Kecil di Kebonsari, Suminem, Janda Pejuang Perintis Kemerdekaan, Wariskan Kisah Perjuangan Sadiran
- 11 Agustus 2026
- Dibaca 24 Kali
Bagikan Via:
Dari Gang Kecil di Kebonsari, Suminem, Janda Pejuang Perintis Kemerdekaan, Wariskan Kisah Perjuangan Sadiran
JEMBER, 11 AGUSTUS 2026 – Ingatan tentang masa perjuangan kemerdekaan kembali mengalir dari seorang perempuan sepuh di RW 13, Lingkungan Sumberdandang, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari. Dengan suara penuh haru, Suminem mengenang sosok suaminya, almarhum Sadiran, yang sejak usia muda turut berjuang bersama para perintis kemerdekaan di tengah situasi penuh ketidakpastian.
Kenangan itu kembali hadir saat Suminem menerima tali asih dari Gubernur Jawa Timur melalui Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Selasa 11 Agustus 2026. Tali asih tersebut berupa sembako, souvenir, dan selimut. Bagi Suminem, pemberian tersebut bukan sekadar bantuan, melainkan bentuk perhatian dan penghargaan negara terhadap keluarga yang memiliki sejarah perjuangan bagi kemerdekaan Indonesia.
Di hadapan para tamu yang hadir, Suminem menceritakan bagaimana Sadiran yang kala itu masih sangat muda harus menjalani kehidupan penuh risiko bersama para pejuang lainnya. Mereka berpindah-pindah tempat untuk menghindari ancaman penjajah. Dalam perjalanan perjuangan tersebut, Sadiran bahkan sempat ditahan oleh tentara Jepang.
Meski berada dalam situasi sulit, semangat untuk memperjuangkan kemerdekaan tetap mereka jaga. Hingga suatu ketika, kabar yang selama ini dinantikan akhirnya terdengar melalui siaran radio yang mengumumkan bahwa Indonesia telah merdeka.
Bagi Suminem, kabar tersebut menjadi salah satu kenangan paling membahagiakan dalam perjalanan hidupnya bersama sang suami. Ia bersyukur karena Sadiran masih diberi kesempatan menyaksikan kemerdekaan yang diperjuangkan bersama para pejuang lainnya.
“Yang penting masih diberi umur dan nyawa oleh Yang Mahakuasa. Sampai akhirnya ada siaran radio yang menyatakan Indonesia sudah merdeka. Itu menjadi kebahagiaan tersendiri sebagai anak bangsa yang ikut berjuang,” tutur Suminem.
Kisah tersebut didengarkan dengan saksama oleh dua siswa Sekolah Rakyat, Dimas Bayu dan Safa Aurotun, yang duduk di sisi Suminem. Kehadiran keduanya menjadi bagian penting dalam penyerahan tali asih tersebut. Mereka diajak mendengar langsung kisah perjuangan dari keluarga seorang perintis kemerdekaan, sehingga dapat memahami bahwa kemerdekaan yang dinikmati generasi sekarang lahir dari pengorbanan generasi terdahulu.
Bagi generasi muda, cerita Suminem bukan sekadar kisah masa lalu. Di dalamnya terdapat pesan untuk menghargai jasa para pejuang, menghormati sejarah, serta mengambil semangat pengabdian sebagai teladan dalam kehidupan.
Suminem juga mengenang almarhum Sadiran sebagai sosok yang hingga akhir hayatnya tetap memiliki semangat untuk mengabdikan diri kepada bangsa. Ia bahkan tidak pernah berhenti menceritakan pengalaman perjuangan kepada anak-anak muda agar nilai-nilai perjuangan tidak hilang ditelan zaman setiap Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Penyerahan tali asih dihadiri Kepala UPT PSPW Jember Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur Padmi Rahayu bersama staf, Dinas Sosial Kabupaten Jember yang diwakili Kabid Pemberdayaan Sosial Wiwik Puspa Dewi bersama staf, Lurah Kebonsari Edy Hariyanto beserta staf, Tim Layanan Rujukan Terpadu (LRT), Tagana, serta dua siswa Sekolah Rakyat.
Lurah Kebonsari Edy Hariyanto menyampaikan terima kasih atas perhatian dan apresiasi Gubernur Jawa Timur melalui Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur kepada keluarga almarhum Sadiran.
Menurut Edy, perhatian tersebut menunjukkan bahwa negara tetap mengingat dan menghargai jasa para pejuang perintis kemerdekaan yang telah memberikan pengorbanan bagi bangsa.
“Ini membuktikan bahwa negara memperhatikan dan menghargai para pejuang perintis kemerdekaan. Negara tidak melupakan jasa-jasa mereka. Semoga seluruh jasa dan pengabdian almarhum Pak Sadiran mendapatkan pahala dari Allah SWT,” ujar Edy.
Di rumah sederhana di Sumberdandang itu, kisah Suminem menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah yang datang begitu saja. Ada masa muda, pengorbanan, keberanian, dan keteguhan hati para pejuang yang menjadi bagian dari perjalanan panjang bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.
Kini, ketika generasi muda menikmati kehidupan dalam suasana merdeka, cerita Suminem dan almarhum Sadiran menjadi pesan sederhana: kemerdekaan harus dihargai, sejarah harus dikenang, dan semangat perjuangan harus terus diwariskan. (aji)