Dari Rantai Menuju Harapan, Catatan Kemanusiaan di Balik Evakuasi ODGJ Pasung di Puger
- 03 Agustus 2026
- Dibaca 1 Kali
Bagikan Via:
Dari Rantai Menuju Harapan, Catatan Kemanusiaan di Balik Evakuasi ODGJ Pasung di Puger
JEMBER, 3 Agustus 2026 — Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menghabiskan hari dalam kesendirian dan keterbatasan. Bagi Hartono (40), warga Desa Wonosari, Kecamatan Puger, dekade terakhir hidupnya berjalan dalam kesunyian akibat pemasungan sebuah langkah pahit yang terpaksa diambil keluarga akibat ketidaktahuan dan rasa kekhawatiran atas keselamatan lingkungan.
Namun, Senin (3/8/2026) siang menjadi titik balik penting. Sebuah kolaborasi kemanusiaan yang melibatkan UPTD Liposos Jember, Petugas Keswa Puskesmas Puger, dan Pemerintah Desa Wonosari berhasil memutus rantai tersebut.
Pelajaran penting yang dapat dipetik dari kegiatan ini bukan sekadar keberhasilan memindahkan seorang pasien, melainkan tentang kehadiran pemerintah dan kesadaran masyarakat.
-ODGJ Bisa Disembuhkan, Bukan Dijauhi. Pemasungan sering kali lahir dari rasa putus asa. Kisah Hartono mengajarkan bahwa penderita gangguan jiwa adalah orang sakit yang membutuhkan penanganan medis berkelanjutan, bukan pengasingan.
-Sinergi Lintas Sektor adalah Kunci. Proses evakuasi yang berjalan sangat kondusif membuktikan bahwa ketika pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan petugas sosial bergerak bersama, hambatan sebesar apa pun dapat diselesaikan secara bermartabat.
-Pentingnya Edukasi & Dukungan Keluarga. Persetujuan tertulis dari keluarga dan kepala desa menjadi simbol bahwa pemulihan ODGJ membutuhkan komitmen bersama, sejak awal evakuasi hingga proses penanganan pasca-perawatan di RSJ Lawang nantinya.
"Pemasungan bukanlah solusi. Saudara Hartono kita amankan di Shelter Liposos untuk observasi awal sebelum dirujuk kembali ke RSJ Lawang. Kolaborasi ini adalah bentuk nyata pengembalian hak kemanusiaan penderita ODGJ agar mendapatkan pengobatan yang layak," ujar Roni Efendi.
Langkah kecil tim gabungan di Desa Wonosari ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa di balik keterbatasan dan sakit yang diidapnya, setiap manusia tetap memiliki hak mendasar untuk dirawat, dihargai, dan diperlakukan secara bermartabat. (ysf)