logo ppid jember kim
Oleh : Kecamatan Sumbersari

Di Balik 30,27 Ton Beras, Ada Relawan yang Mengawal Bantuan untuk 1.009 KPM Kebonsari

  • 17 September 2026
  • Dibaca 54 Kali
Bagikan Via:
di-balik-3027-ton-beras-ada-relawan-yang-mengawal-bantuan-untuk-1009-kpm-kebonsari-20260917

Di Balik 30,27 Ton Beras, Ada Relawan yang Mengawal Bantuan untuk 1.009 KPM Kebonsari

JEMBER, 17 SRPTEMBER 2026 - Sejak pagi, Pendapa Kelurahan Kebonsari tak pernah benar-benar sepi. Warga datang silih berganti membawa undangan dan dokumen, sementara karung-karung beras tersusun memenuhi bagian pendapa. Di antara antrean penerima manfaat, delapan petugas terus bergerak memeriksa berkas, mencocokkan data, mengatur antrean hingga membantu warga mendapatkan jatah bantuan.

Pemandangan itu menjadi bagian dari penyaluran 30,27 ton beras bantuan pangan untuk 1.009 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, Jember. Distribusi dimulai Senin, 14 September 2026 dan dilakukan secara bertahap untuk menjaga pelayanan tetap tertib.

Namun, di balik karung beras yang berpindah tangan, ada pekerjaan panjang yang tidak selalu terlihat. Bantuan harus dipastikan tiba pada orang yang tepat. Setiap NIK harus sesuai, setiap dokumen harus diperiksa, dan setiap persoalan warga harus dicarikan jalan keluarnya.

Salah satu orang yang mengawal proses itu sejak bantuan tiba di kelurahan adalah Juriyanto, koordinator Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kelurahan Kebonsari.

Kamis, 17 September 2026 siang, pria paruh baya yang tinggal di Jalan Letjend Suprapto itu tampak sibuk di salah satu meja layanan. Seorang nenek menghampirinya sambil menyerahkan berkas. Juriyanto memeriksa dokumen tersebut dengan teliti, lalu mencocokkan NIK melalui aplikasi di telepon selulernya.

Setelah data dinyatakan sesuai, ia mengarahkan sang nenek untuk menjalani proses pengambilan gambar dan pencatatan pada aplikasi penerima bantuan.

Wajah Juriyanto tampak lelah. Tetapi tangannya kembali mengambil berkas warga berikutnya.

“Penyaluran harus sesuai data dan aplikasi. Kendalanya, masih ada data yang belum diperbarui. Saat undangan dibagikan, ada yang salah alamat. Bahkan ada yang datang membawa undangan milik orang lain. Kalau NIK tidak sesuai, bantuan tidak bisa kami serahkan. Kami harus mencari KPM yang benar-benar sesuai dengan data,” ujar Juriyanto.

Persoalan data bukan satu-satunya tantangan. Volume bantuan yang cukup besar membuat penataan drop point beras di kelurahan membutuhkan waktu lebih lama. Sementara itu, 1.009 KPM harus dilayani tanpa membuat pendapa penuh sesak.

Karena itu, penyaluran dibagi dalam beberapa tahap berdasarkan nomor urut. Pengaturan antrean menjadi pekerjaan tersendiri bagi petugas.

Menurut Juriyanto, panjangnya antrean berpengaruh langsung terhadap kenyamanan KPM. Sebagian warga yang terlalu lama menunggu memilih meninggalkan berkas di meja pelayanan dan kembali pada hari berikutnya. Kondisi tersebut membuat urutan antrean harus kembali ditata.

Di tengah keterbatasan jumlah petugas, kelelahan pun tak terhindarkan. Secara fisik, mereka harus melayani warga dalam jumlah besar. Bahkan, salah seorang relawan PSM sempat tumbang karena kelelahan dan hingga Kamis masih menjalani perawatan.

Tekanan juga datang secara mental. Petugas harus tetap tenang ketika menghadapi warga yang bersikeras meminta bantuan meski NIK yang dibawa tidak sesuai data.

“Secara fisik memang melelahkan. Secara mental juga ada tantangannya. Tapi kami harus tetap menahan diri. Yang penting persoalan di lapangan bisa diselesaikan dan bantuan diterima oleh KPM yang memang berhak,” kata Juriyanto.

Bagi KPM dengan kondisi tertentu, pelayanan bahkan tidak berhenti di pendapa. Petugas juga mengantar bantuan langsung ke rumah warga yang sakit, lansia kepala keluarga tunggal, maupun penerima manfaat yang tidak mampu datang sendiri.

Lurah Kebonsari Edy Hariyanto mengatakan ketepatan penerima menjadi perhatian utama dalam proses distribusi. Menurutnya, keterbatasan jumlah petugas harus diimbangi dengan pengaturan pelayanan yang terstruktur agar bantuan kepada 1.009 KPM dapat berjalan tertib.

“Yang kami jaga bukan hanya bantuan selesai disalurkan, tetapi juga tepat penerima. Karena itu, pencocokan data dan NIK menjadi bagian penting. PSM dan staf kelurahan bersama-sama mengawal proses dari awal sampai bantuan diterima KPM,” ujar Edy.

Bagi Juriyanto, pekerjaan sosial itu tidak berhenti ketika tumpukan beras di pendapa mulai berkurang. Di sela kesibukannya menjalankan usaha kue kering dan kue basah, ia tetap memilih hadir untuk warga.

“Bahagia itu bagi saya ketika bisa bermanfaat untuk orang lain,” tuturnya.

Sore itu, antrean kembali bergerak. Satu per satu warga meninggalkan meja pelayanan setelah prosesnya selesai. Karung-karung beras pun terus berkurang.

Bagi warga, yang terlihat mungkin hanya 30 kilogram beras yang dibawa pulang. Tetapi bagi delapan petugas di balik meja layanan, setiap karung menyimpan satu pekerjaan penting: memastikan bantuan pemerintah benar-benar sampai kepada 1.009 KPM yang berhak menerimanya. (aji)

Galeri Foto