Jember Kerahkan 22.000 ASN Verifikasi Data Kemiskinan: Sinergi Makro-Mikro Jadi Kunci Kebijakan
- 24 Mei 2026
- Dibaca 127 Kali
Bagikan Via:
Jember Kerahkan 22.000 ASN Verifikasi Data Kemiskinan: Sinergi Makro-Mikro Jadi Kunci Kebijakan
JAKARTA, 24 MEI 2026 - Di balik turunnya angka kemiskinan Kabupaten Jember, terdapat kerja keras yang jarang tersorot: pengerahan 22.000 Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai verifikator lapangan selama satu bulan penuh. Bupati Jember Muhammad Fawait, S.E., M.Sc. membeberkan strategi ini secara rinci di hadapan forum Sosialisasi RINDUK dan Inovasi Daerah dalam Percepatan Pengentasan Kemiskinan di Jakarta, Kamis 21 Mei 2026.
"Kami melakukan inovasi dengan melibatkan seluruh ASN, kurang lebih 22.000 ASN di Kabupaten Jember, untuk membantu BPS memverifikasi data Desil 1. Sebelumnya, kami berikan pembekalan bekerja sama dengan BPS dan PKH, supaya apa yang kita lakukan tidak melenceng dari kaidah-kaidah yang telah ditetapkan,” ujar Gus Fawait, sapaan akrab bupati.
Gebrakan yang belum pernah dilakukan daerah lain ini berlangsung mulai 17 April hingga 17 Mei 2026. Seluruh ASN Jember lintas OPD ditugaskan langsung ke lapangan untuk memverifikasi data keluarga dalam DTSEN Desil 1, kelompok masyarakat paling miskin yang menjadi prioritas intervensi. Setiap verifikator wajib mengisi 39 variabel groundcheck mengacu standar SIKSMA/PKH, dilengkapi foto dokumentasi bersama kepala keluarga sasaran, melalui aplikasi berbasis web dan smartphone.
“Proses verval ini kami lakukan dengan variabel-variabel yang diverifikasi sudah sesuai dengan panduan dari BPS dan PKH Kabupaten Jember. Kami juga menyertakan foto dan dokumen bukti ketika ASN turun ke lapangan, termasuk temuan-temuan di sana. Selain itu, kami siapkan aplikasi agar para ASN dapat menyampaikan seluruh hasil vervalnya secara digital melalui aplikasi yang telah kami koordinasikan bersama BPS dan PKH Kabupaten Jember," ujarnya.
Gus Fawait menjelaskan bahwa program ini bertumpu pada dua lapisan data yang saling melengkapi: data makro BPS/Susenas untuk memantau capaian pembangunan secara agregat, dan data mikro DTSEN untuk menajamkan sasaran hingga level keluarga dan individu.
"Pesan diplomatisnya tegas, verval daerah bukan untuk menyalahkan data pusat, tetapi memperkuat akurasi dan keterkinian data melalui umpan balik lapangan. Sinergi antara data makro dan mikro inilah yang menjadi tulang punggung kebijakan kemiskinan Jember," ujar Gus Fawait.
Hasil verifikasi lapangan menghasilkan empat kategori status keluarga: ditemukan dan layak sebagai sasaran operasional program daerah, K/L, maupun CSR; meninggal atau pindah sebagai bahan pemutakhiran data; berpotensi mampu yang didorong untuk graduasi; serta belum tersentuh yang dijangkau melalui usulan bansos dan intervensi OPD.
Meski demikian, proses verifikasi tidak berjalan tanpa hambatan. Keberagaman kualitas pengisian data antar-ASN, kendala akses geografis di sejumlah wilayah, serta kondisi KK yang tidak berada di rumah saat dikunjungi menjadi tantangan nyata di lapangan yang harus dikelola secara adaptif.
Dengan model ini, Jember membuktikan bahwa mobilisasi birokrasi secara masif dan terstruktur, bila diarahkan dengan tepat, mampu mengubah data menjadi kebijakan yang benar-benar menyentuh warga paling rentan. (rou)