Konsolidasi Homecare Kecamatan Arjasa, Perkuat Kesiapan Layanan hingga ke Rumah Warga
- 12 Agustus 2026
- Dibaca 6 Kali
Bagikan Via:
Konsolidasi Homecare Kecamatan Arjasa, Perkuat Kesiapan Layanan hingga ke Rumah Warga
JEMBER, 11 AGUSTUS 2026 – Pelaksanaan program Homecare di Kecamatan Arjasa, dimatangkan melalui Rapat Konsolidasi Pelaksanaan Homecare yang melibatkan berbagai unsur lintas sektor. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 11 Agustus 2026 tersebut dihadiri oleh Camat Arjasa beserta jajaran, Polsek, Koramil, Kepala Puskesmas Kecamatan Arjasa, kepala desa, bidan desa, serta peserta undangan lainnya untuk menyamakan langkah dalam menghadapi berbagai kebutuhan dan kendala di lapangan.
Salah satu pembahasan utama adalah UHC Prioritas, khususnya bagi warga yang belum memiliki administrasi kependudukan (adminduk). Pemerintah Kecamatan Arjasa akan melakukan langkah jemput bola dengan membantu proses perekaman adminduk, sehingga masyarakat yang sebelumnya terkendala dokumen tetap memiliki kesempatan memperoleh akses layanan kesehatan.
Camat Arjasa, Andri Purnomo, S.T., M.Si., menegaskan, “Kalau masih ada warga yang belum memiliki adminduk, kita tidak ingin mereka hanya menunggu. Kecamatan akan melakukan jemput bola untuk membantu proses perekaman, sehingga seluruh warga bisa memiliki administrasi kependudukan dan akses UHC Prioritas menjadi lebih mudah.”
Selain adminduk, pemerintah desa juga diminta aktif melakukan pendataan dan mengunggah informasi mengenai rumah warga yang tidak layak huni, terutama rumah yang dihuni oleh sasaran Homecare. Data tersebut diperlukan agar kondisi sosial dan lingkungan tempat tinggal pasien dapat turut menjadi perhatian dalam pemetaan pelayanan. “Kita minta desa ikut mendata rumah-rumah warga yang tidak layak huni. Kalau rumah tersebut merupakan sasaran Homecare, datanya harus jelas. Jadi kita tidak hanya melihat kondisi pasien, tetapi juga kondisi rumah dan lingkungannya,” ujar Andri.
Tantangan berikutnya berkaitan dengan jumlah sasaran Homecare di Kecamatan Arjasa yang diperkirakan mencapai sekitar 800 orang. Dengan masa pelayanan sekitar 25 hari dalam sebulan, diperkirakan terdapat 39 pasien per hari yang harus ditangani. Kondisi ini menjadi perhatian bersama untuk memastikan kesiapan tenaga, sistem pelayanan, pendataan, serta koordinasi antarunsur. “Sasarannya sekitar 800 orang. Kalau dihitung, kurang lebih ada 39 pasien per hari. Ini yang harus kita pikirkan bersama, apakah kita sanggup dengan pola pelayanan yang ada. Jangan sampai sasaran sudah terdata, tetapi pelaksanaannya tidak maksimal,” jelasnya.
Rapat juga membahas kendala dalam penanganan balita stunting, terutama ketika anak membutuhkan rujukan ke rumah sakit. Di lapangan, masih ditemukan orang tua yang merasa anaknya tidak sakit karena secara kasatmata terlihat sehat. Kekhawatiran mengenai biaya juga menjadi salah satu alasan keluarga ragu mengikuti proses rujukan. “Kadang orang tua merasa anaknya tidak sakit dan masih memikirkan biaya. Ini yang harus kita edukasi bersama, bahwa ketika memang membutuhkan pemeriksaan atau rujukan, jangan sampai penanganannya berhenti hanya karena anak terlihat sehat,” ungkap Andri.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, koordinasi antara pemerintah desa, puskesmas, bidan desa, serta unsur lainnya dinilai menjadi kunci. Bidan desa memiliki peran penting dalam mengenali kondisi masyarakat secara lebih dekat, sementara pemerintah desa dapat membantu pemetaan sasaran dan kondisi sosial warga. Seluruh pihak diharapkan tidak bekerja sendiri-sendiri agar pelayanan Homecare dapat berjalan lebih efektif.
Melalui rapat konsolidasi ini, Kecamatan Arjasa berupaya memastikan Homecare tidak berhenti sebagai konsep, tetapi mampu menjawab persoalan nyata masyarakat. Mulai dari kelengkapan adminduk, kondisi rumah tidak layak huni, besarnya jumlah sasaran, hingga hambatan penanganan balita stunting, seluruhnya menjadi bagian dari evaluasi dan persiapan agar pelayanan kesehatan dapat diberikan secara tepat sasaran.
Dengan penguatan koordinasi lintas sektor, program Homecare di Kecamatan Arjasa diharapkan mampu menghadirkan layanan kesehatan yang lebih dekat bagi warga yang membutuhkan. Pelayanan tidak hanya menunggu masyarakat datang, tetapi bergerak mendatangi mereka yang memiliki keterbatasan untuk mengakses layanan kesehatan. (aza)