Krisis Air Bersih di Jatian Jember, 190 KK Terdampak Kekeringan, BPBD Kirim 5.000 Liter Air
- 31 Oktober 2026
- Dibaca 59 Kali
Bagikan Via:
Krisis Air Bersih di Jatian Jember, 190 KK Terdampak Kekeringan, BPBD Kirim 5.000 Liter Air
JEMBER, 31 OKTOBER 2026 - Kekeringan yang melanda Dusun Krajan, Desa Jatian, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, membuat sekitar 190 keluarga membutuhkan pasokan air bersih. Kondisi itu terjadi setelah sumber air warga terus menyusut selama musim kemarau.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Jember kembali mendistribusikan bantuan air bersih ke wilayah tersebut pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Sebanyak 5.000 liter air bersih disalurkan ke tandon milik BPBD yang berada di permukiman warga.
Anggota TRC BPBD Kabupaten Jember, Kurnia Dwi Pria Bakti, mengatakan distribusi air dilakukan berdasarkan permohonan dari Kecamatan Pakusari dan Pemerintah Desa Jatian.
“Distribusi air bersih ini merupakan respons terhadap kebutuhan warga yang terdampak kekeringan. Air sebanyak 5.000 liter kami salurkan ke tandon BPBD agar dapat dimanfaatkan masyarakat,” kata Pria, Sabtu.
Menurut dia, kekeringan mulai dirasakan warga sejak awal Agustus 2026. Sumber air alami yang berada di dekat persawahan menjadi salah satu sumber alternatif warga. Namun, jaraknya cukup jauh dan debit airnya kini semakin mengecil.
Di RT 02/RW 08, sekitar 50 keluarga dari total 129 keluarga mengalami kebutuhan air bersih. Sementara di RT 01/RW 06, sekitar 140 keluarga dari total 200 keluarga juga terdampak.
Adapun warga RT 01/RW 10 dan RT 02/RW 10 masih memiliki ketersediaan air untuk kebutuhan minum. Namun, mereka tetap membutuhkan pasokan air untuk mandi dan mencuci.
“Untuk beberapa wilayah, kebutuhan air minum masih tercukupi. Tetapi untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan mencuci, warga masih membutuhkan bantuan,” ujar Pria.
Hasil pemantauan TRC BPBD menunjukkan kondisi sumber air semakin memprihatinkan. Di RT 02/RW 08, sumber air alternatif berjarak sekitar 300 meter dari permukiman, sedangkan di RT 01/RW 06 jaraknya mencapai sekitar 700 meter. Debit kedua sumber tersebut juga mulai mengecil.
Selain itu, sungai yang berjarak sekitar 200 hingga 500 meter dari permukiman dinilai tidak layak untuk konsumsi. Dari delapan sumur warga di RT 02/RW 08, sekitar 90 persen telah memperlihatkan dasar sumur. Sebagian sumur juga dilaporkan mulai mengeluarkan bau.
Untuk membantu warga, BPBD telah menempatkan dua tandon di RT 02/RW 08 serta dua tandon di RT 01 dan RT 02/RW 06. Tandon tersebut menjadi tempat penampungan air yang didistribusikan secara berkala.
BPBD merekomendasikan distribusi air bersih menggunakan satu unit truk tangki berkapasitas 5.000 liter setiap lima hari sekali. Penanganan lanjutan juga akan diteruskan kepada dinas terkait.
Pria menambahkan, TRC BPBD tidak hanya melakukan distribusi, tetapi juga berkoordinasi dengan perangkat RT/RW dan warga serta memberikan edukasi mengenai kondisi kekeringan.
“Pemantauan dan pendistribusian akan terus dilakukan sesuai kebutuhan warga dan perkembangan kondisi di lapangan,” katanya. (tgh)