Kunjungan Tikum Perkuat Ekosistem Agribisnis Kopi di Jember
- 07 April 2026
- Dibaca 186 Kali
Bagikan Via:
Kunjungan Tikum Perkuat Ekosistem Agribisnis Kopi di Jember
JEMBER, 07 MARET 2026 - Komunitas Tikum (Titik Kumpul) melakukan kunjungan ke sejumlah kelompok tani kopi di Kabupaten Jember sebagai upaya memperkuat ekosistem agribisnis kopi, khususnya di bawah naungan Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Jember. Kegiatan ini berlangsung dengan melibatkan para petani, penyuluh pertanian, serta perwakilan dari Dinas TPHP.
Kunjungan ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan petani akan informasi yang selama ini sulit dijangkau, terutama terkait teknik budidaya, standar kualitas, hingga akses pasar. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan membangun sinergi antara pemerintah dan petani agar pengembangan kopi di Jember semakin terarah dan berkelanjutan.
Kepala Bidang Perkebunan DTPHP Kabupaten Jember, Rudi Indrawan, menjelaskan bahwa kehadiran Komunitas Tikum bukan sekadar forum diskusi biasa, melainkan menjadi perpanjangan tangan dinas dalam menyampaikan informasi strategis secara langsung kepada petani.
“Melalui Tikum, kami ingin memastikan informasi penting seperti kebijakan terbaru, bantuan pemerintah, hingga standar kualitas kopi bisa diterima petani dengan cepat dan tepat. Ini penting agar petani tidak tertinggal dalam perkembangan industri kopi,” ujar Rudi saat mendampingi kegiatan di lapangan, Selasa 07 April 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Komunitas Tikum berperan sebagai wadah edukasi yang memperkuat literasi agribisnis petani. Tidak hanya fokus pada teknik budidaya, petani juga diberikan pemahaman mengenai nilai ekonomi dari setiap hasil panen kopi yang mereka produksi.
Para petani mendapatkan penjelasan langsung mengenai teknik pemangkasan tanaman kopi yang efektif, cara pengendalian hama, serta standar kualitas biji kopi yang diinginkan oleh pasar industri saat ini. Informasi ini dinilai sangat penting untuk meningkatkan daya saing kopi lokal di pasar yang lebih luas.
Salah satu anggota Komunitas Tikum menyebutkan bahwa pihaknya berupaya menjadi “perpustakaan berjalan” bagi petani. Artinya, petani dapat langsung bertanya dan berdiskusi mengenai berbagai hal, mulai dari budidaya hingga akses permodalan dan pemasaran.
“Kami ingin hadir lebih dekat dengan petani. Tidak hanya memberikan teori, tetapi juga langsung berdiskusi di lapangan, melihat kondisi riil, dan memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” ungkapnya.
Selain itu, dalam kegiatan ini juga dibahas terkait penerapan Good Agricultural Practices (GAP) sebagai langkah untuk meningkatkan kualitas hasil panen. Penerapan GAP diharapkan mampu mendorong kopi Jember agar memenuhi standar pasar nasional hingga ekspor.
Komunitas Tikum bersama Dinas TPHP juga menyampaikan informasi terkait bantuan sarana produksi (saprodi), sertifikasi benih unggul, serta peluang pengembangan jaringan pemasaran. Hal ini menjadi bagian dari upaya modernisasi sektor perkebunan kopi di Jember.
Interaksi yang terjadi langsung di tengah kebun kopi dinilai menjadi metode yang efektif dalam penyampaian informasi. Petani dapat memahami materi dengan lebih mudah karena disampaikan secara praktis dan sesuai dengan kondisi di lapangan.
Di sisi lain, kegiatan ini juga memberikan manfaat bagi Dinas TPHP dalam memetakan kondisi nyata yang dihadapi petani. Melalui pendekatan langsung, dinas dapat mengetahui potensi serta kendala yang dihadapi kelompok tani secara real-time.
“Dengan turun langsung seperti ini, kami bisa melihat apa yang benar-benar dibutuhkan petani. Ini akan menjadi dasar dalam penyusunan program ke depan agar lebih tepat sasaran,” tambah Rudi.
Para petani pun menyambut baik kegiatan ini. Mereka merasa terbantu dengan adanya informasi baru yang selama ini sulit diakses, terutama terkait tren pasar dan standar kualitas yang dibutuhkan oleh industri.
Salah satu petani kopi mengaku bahwa kegiatan seperti ini sangat bermanfaat karena memberikan wawasan baru yang bisa langsung diterapkan di kebun mereka.
“Kami jadi tahu bagaimana cara meningkatkan kualitas kopi agar bisa bersaing. Selama ini kami hanya fokus menanam, tapi sekarang kami juga paham pentingnya kualitas dan pasar,” ujarnya.
Melalui kunjungan ini, diharapkan pola pengelolaan agribisnis kopi di Jember dapat berubah dari yang sebelumnya bersifat tradisional menjadi lebih modern dan berbasis data. Sinergi antara Komunitas Tikum, Dinas TPHP, dan kelompok tani diharapkan mampu menciptakan kemitraan yang kuat dalam mendorong peningkatan kesejahteraan petani.
Dengan adanya kegiatan ini, Kabupaten Jember semakin menunjukkan keseriusannya dalam mengembangkan potensi kopi lokal. Tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari aspek kualitas, pemasaran, dan keberlanjutan usaha tani. (ima)