logo ppid jember kim
Oleh : Kecamatan Patrang

Cahaya di Balik Langgar: Saat Pengabdian Puluhan Tahun Guru Ngaji Patrang Berbuah Manis Jelang Hari Kemenangan

  • 28 Maret 2026
  • Dibaca 156 Kali
Bagikan Via:
cahaya-di-balik-langgar-saat-pengabdian-puluhan-tahun-guru-ngaji-patrang-berbuah-manis-jelang-hari-kemenangan-20260328

Cahaya di Balik Langgar: Saat Pengabdian Puluhan Tahun Guru Ngaji Patrang Berbuah Manis Jelang Hari Kemenangan

JEMBER, 28 MARET 2026 - Di balik riuhnya suasana menjelang Lebaran, ada kisah-kisah ketulusan yang selama ini jarang tersorot kamera. Mereka adalah para guru ngaji, sosok-sosok penyabar yang selama berpuluh-puluh tahun setia mengajar alif-ba-ta di surau dan langgar kecil, seringkali tanpa mengharap imbalan materi.

​Salah satu potret dedikasi itu hadir dari Muhammad Idris, warga Kelurahan Baratan. Sejak tahun 1990, saat fasilitas pendidikan mungkin belum selengkap sekarang, ia sudah mulai mewakafkan waktunya untuk membimbing akhlak generasi muda. Baginya, melihat anak-anak bisa membaca Al-Qur'an adalah upah yang tak ternilai harganya.

​Namun, pada Sabtu 14 Maret 2026 lalu, suasana haru menyelimuti kantor kelurahan. Idris bersama puluhan guru ngaji lainnya di wilayah Kecamatan Patrang menerima honorarium sebesar Rp1,5 juta dari Bupati Jember, Gus Fawait. Bagi mereka, uang ini bukan sekadar bantuan, melainkan bentuk "pengakuan" pemerintah atas peluh keringat mereka selama ini.

​"Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Ini adalah bentuk tanggung jawab dan perhatian yang kami rasakan manfaatnya. Apalagi saat itu hampir Lebaran, kebutuhan untuk anak-anak di rumah sedang banyak-banyaknya. Kami merasa sangat terbantu," ungkap Idris dengan mata berkaca-kaca, mengenang momen tersebut, Sabtu 28 Maret 2026.

​Hal serupa dirasakan Ustaz Izainul Faqih di Kelurahan Bintoro. Sebagai guru ngaji yang sudah bertahun-tahun bergelut di dunia pendidikan agama, ia merasa tahun ini ada perubahan besar, terutama pada sistem penerimaan yang jauh lebih memudahkan dan menghargai posisi mereka sebagai pendidik.

​"Sistemnya sekarang sangat baik, tidak perlu antre panjang yang melelahkan. Kami merasa lebih dihormati sebagai pengajar," ujar Izainul.

​Staf Kelurahan Bintoro, Hartono S., menyebutkan bahwa selama ini banyak guru ngaji yang harus menyisihkan uang pribadi untuk biaya operasional mengajar, seperti membayar listrik musala. Kini, dengan adanya honorarium ini, mereka bisa sedikit bernapas lega. Dana tersebut direncanakan untuk mencukupi kebutuhan hari raya sekaligus mendukung kegiatan mengajar di sisa bulan Ramadan.

​Senyum yang merekah di wajah para guru ngaji ini menjadi bukti bahwa pengabdian yang tulus pada akhirnya akan menemukan jalannya untuk dihargai. Di tengah persiapan menyambut Idul Fitri, perhatian dari Gus Bupati Fawait ini menjadi oase bagi para penjaga moral bangsa di tingkat akar rumput, memastikan mereka bisa merayakan hari kemenangan dengan hati yang lebih tenang. (fzr)

Galeri Foto