logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Pendidikan

Dua Bulan Tak Masuk Sekolah, Kevin Tetap Dikejar Pendidikan hingga ke Rumah

  • 26 September 2026
  • Dibaca 1 Kali
Bagikan Via:
dua-bulan-tak-masuk-sekolah-kevin-tetap-dikejar-pendidikan-hingga-ke-rumah-20260926

Dua Bulan Tak Masuk Sekolah, Kevin Tetap Dikejar Pendidikan hingga ke Rumah

JEMBER, 26 SEPTEMBER 2026 — Dua bulan tidak masuk sekolah bukan berarti pendidikan Kevin terhenti. Siswa kelas VII SMPN 2 Sumberjambe, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, tersebut menjadi perhatian khusus setelah mengalami sakit dan kendala ekonomi yang membuatnya belum bisa mengikuti pembelajaran di sekolah seperti biasanya.

Kondisi Kevin mendapat perhatian dari berbagai pihak. Pada Jumat (25/9/2026), kunjungan dilakukan untuk melihat langsung kondisi siswa sekaligus memastikan hak pendidikannya tetap terpenuhi.

Sekolah mengambil langkah khusus agar Kevin tidak semakin tertinggal dari teman-temannya. Setiap hari Sabtu, guru SMPN 2 Sumberjambe mendatangi rumah Kevin untuk memberikan materi pelajaran dan memastikan proses belajar tetap berlangsung.

Guru BK SMPN 2 Sumberjambe, Diah, S.Pd., mengatakan kondisi siswa terus dipantau oleh pihak sekolah. Menurutnya, komunikasi dengan Kevin dan keluarga menjadi bagian penting untuk mengetahui perkembangan yang dialaminya.

“Kami dari sekolah terus memberikan perhatian kepada Kevin. Karena kondisinya belum memungkinkan untuk masuk sekolah seperti biasa, guru datang setiap hari Sabtu ke rumah untuk memberikan pembelajaran. Kami ingin Kevin tetap mendapatkan materi dan merasa bahwa sekolah tetap ada untuknya,” ujar Diah.

Menurut Diah, langkah tersebut dilakukan agar Kevin tetap memiliki hubungan dengan lingkungan sekolah. Materi yang diberikan juga disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan siswa selama menjalani masa pemulihan.

Kepala SMPN 2 Sumberjambe, M. Ali Hasyimi, menegaskan bahwa kondisi seorang siswa tidak boleh membuat haknya memperoleh pendidikan terabaikan.

“Kami tidak ingin kondisi yang dialami Kevin membuatnya semakin jauh dari pendidikan. Karena itu, sekolah berusaha memberikan pembelajaran dengan cara yang menyesuaikan kondisinya. Harapannya Kevin tetap semangat dan nantinya bisa kembali mengikuti kegiatan sekolah,” kata M. Ali Hasyimi.

Perhatian terhadap Kevin sebelumnya juga telah melibatkan Homecare Jember. Kunjungan tersebut menjadi salah satu langkah untuk mengetahui kondisi siswa secara lebih dekat dan mendukung penanganan sesuai kebutuhan.

Dukungan juga datang dari Pemerintah Desa Plerean, Kecamatan Sumberjambe. Kepala Desa Plerean, Muklas, menyampaikan bahwa persoalan pendidikan anak merupakan kepedulian bersama.

“Kami dari pemerintah desa tentu ikut memberikan perhatian. Anak-anak adalah masa depan desa. Kalau ada anak yang mengalami kendala dalam pendidikan seperti Kevin, tentu harus kita perhatikan bersama. Kami berharap ada jalan keluar agar Kevin tetap bisa belajar dan melanjutkan pendidikannya,” ungkap Muklas.

Sementara itu, Rido’i, S.Pd., M.Pd., menilai kondisi Kevin menjadi salah satu contoh penting dalam upaya penanganan Anak Berisiko Putus Sekolah (ABPS).

Menurutnya, siswa yang tidak masuk sekolah dalam waktu cukup lama perlu segera mendapat perhatian. Sekolah harus mengetahui penyebabnya dan mengambil langkah yang sesuai agar persoalan tersebut tidak berujung pada putus sekolah.

“Kita tidak boleh menunggu anak benar-benar putus sekolah baru bergerak. Ketika ada anak yang mulai mengalami hambatan untuk mengikuti pendidikan, harus segera diketahui persoalannya dan dicarikan solusi. Kasus Kevin menjadi perhatian bersama agar proses pendidikannya tetap berjalan,” tegas Rido’i.

Ia menambahkan, penanganan ABPS membutuhkan sinergi antara sekolah, keluarga, pemerintah desa, Dinas Pendidikan serta pihak-pihak terkait.

Kunjungan pada 25 September 2026 tersebut menjadi bagian dari langkah memastikan Kevin tetap terhubung dengan pendidikan. Meski belum dapat hadir secara rutin di sekolah, kegiatan belajar tetap diupayakan berlangsung di rumah.

Kisah Kevin menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak selalu harus menunggu seorang anak datang ke ruang kelas. Dalam kondisi tertentu, layanan pendidikan perlu menyesuaikan keadaan siswa agar hak belajar tetap terjaga.

Di tengah persoalan kesehatan dan faktor ekonomi yang dihadapi Kevin, perhatian dari sekolah, pemerintah desa, Homecare Jember dan Dinas Pendidikan diharapkan dapat membantu membuka jalan bagi keberlanjutan pendidikannya.

Sebab, satu anak yang menghadapi hambatan pendidikan bukan sekadar persoalan angka. Ada masa depan yang perlu dijaga agar tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh dan belajar. (hz)

Galeri Foto