logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Kepemudaan dan Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata

Festival Pegon Watu Ulo, Tradisi Sejak 1980-an yang Menyatukan Warga dalam Syukur dan Sejarah

  • 23 Maret 2026
  • Dibaca 611 Kali
Bagikan Via:
festival-pegon-watu-ulo-tradisi-sejak-1980-an-yang-menyatukan-warga-dalam-syukur-dan-sejarah-20260323

Festival Pegon Watu Ulo, Tradisi Sejak 1980-an yang Menyatukan Warga dalam Syukur dan Sejarah

JEMBER, 23 MARET 2026 – Suara riuh sapi berpadu dengan antusiasme warga menghidupkan kembali tradisi tahunan di pesisir selatan Pantai Watu Ulo, Kabupaten Jember. Festival Pegon yang digelar setiap H+7 Idulfitri atau bertepatan dengan Lebaran Ketupat ini tak sekadar perayaan, melainkan warisan budaya yang terus dijaga sejak 1980-an oleh masyarakat Kecamatan Ambulu.

Tradisi tersebut berawal dari kebiasaan warga Desa Sumberejo yang dahulu memanfaatkan pegon, kereta kayu yang ditarik sapi, sebagai alat transportasi utama. Pegon digunakan untuk mengangkut hasil pertanian seperti tembakau hingga material berat. Seiring perkembangan zaman, fungsi praktis itu bertransformasi menjadi simbol kebersamaan dan ungkapan rasa syukur atas hasil bumi.

Pada puncak perayaan, puluhan hingga ratusan pegon dihias dengan ornamen warna-warni, lalu diarak menuju pantai. Iring-iringan ini menjadi daya tarik utama karena menghadirkan suasana meriah sekaligus membangkitkan nostalgia kehidupan masa lampau.

Setibanya di pesisir Pantai Watu Ulo, berbagai rangkaian kegiatan digelar. Mulai dari ritual memandikan sapi, pertunjukan tari kolosal, hingga makan bersama yang menjadi sarana mempererat silaturahmi antarwarga.

Festival Pegon juga menjadi momentum berkumpulnya masyarakat Ambulu, termasuk para perantau yang pulang kampung. Tradisi ini menjadi ruang temu lintas generasi, di mana nilai gotong royong dan kebersamaan tetap terjaga di tengah perubahan zaman.

Kepala Bidang Kebudayaan, Agung Nugroho, S.Sos., menegaskan pentingnya menjaga tradisi tersebut sebagai bagian dari identitas lokal. Ia menyebut Festival Pegon bukan hanya perayaan, melainkan cerminan sejarah kehidupan masyarakat pesisir. “Melalui kegiatan ini, generasi muda diajak mengenali akar budaya mereka,” ujar Agung.

Ia menambahkan, pemahaman terhadap sejarah akan membantu masyarakat mengenali jati diri. Menurutnya, pegon merupakan simbol perjalanan hidup masyarakat Ambulu, dari alat angkut sederhana menjadi warisan budaya yang bernilai tinggi.

Dengan kekuatan nilai historis dan semangat kebersamaan, Festival Pegon di Pantai Watu Ulo terus menjadi magnet budaya. Tradisi ini tak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memperkuat identitas masyarakat Jember di tengah arus modernisasi. (af)

Galeri Foto