logo ppid jember kim
Oleh : Kecamatan Arjasa

Gandeng TikToker hingga Pemerintah, Program KUBIK 2.0 Arjasa Buka Ruang Inklusi untuk Anak Muda

  • 24 Agustus 2026
  • Dibaca 11 Kali
Bagikan Via:
gandeng-tiktoker-hingga-pemerintah-program-kubik-20-arjasa-buka-ruang-inklusi-untuk-anak-muda-20260825

Gandeng TikToker hingga Pemerintah, Program KUBIK 2.0 Arjasa Buka Ruang Inklusi untuk Anak Muda

JEMBER, 24 AGUSTUS 2026 – Upaya mendorong kemandirian dan pemberdayaan ekonomi bagi pemuda penyandang disabilitas serta orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) terus diperkuat di Kabupaten Jember. Melalui Program KUBIK 2.0 (Kelompok Usaha Bisnis Inklusif), Tanoker Ledokombo menggelar Pelatihan Social Emotional Learning (SEL) Sesi “Akarku” di Aula Kantor Kecamatan Arjasa, Senin 24 Agustus 2026.

Kegiatan ini diikuti oleh peserta berusia 18 hingga 30 tahun yang berasal dari Kecamatan Arjasa, Ledokombo, dan Silo. Para peserta tidak hanya mendapatkan pembekalan keterampilan usaha, tetapi juga penguatan mental dan sosial-emosional sebagai fondasi untuk membangun kepercayaan diri serta kemandirian.

Program KUBIK 2.0 dirancang untuk mendorong pemberdayaan ekonomi anak muda penyandang disabilitas dan OYPMK melalui pendekatan kewirausahaan inklusif. Dalam program ini, kemampuan menjalankan usaha dinilai perlu didukung oleh keterampilan mengelola diri, emosi, stres, serta membangun hubungan sosial yang sehat.

Melalui sesi “Akarku”, peserta diajak mengenali identitas, potensi, kekuatan, harapan, dan cita-cita mereka. Peserta juga dibekali kemampuan mengelola emosi, mengamati pola pikir, serta membangun ketahanan diri agar lebih siap menghadapi tantangan kehidupan maupun pengembangan usaha.

Kegiatan ini turut menghadirkan Bang Aziz, seorang kreator konten TikTok, affiliate, dan pelaku monetisasi media sosial, sebagai narasumber eksternal. Kehadirannya memberikan perspektif baru bagi peserta mengenai pemanfaatan media sosial sebagai ruang kreativitas dan pendukung bisnis. Selain itu, kegiatan ini melibatkan unsur Perpenca serta Tanoker/Papenca yang diwakili oleh Sutopo guna menciptakan ruang belajar yang inklusif.

Camat Arjasa, Andri Purnomo, S.T., M.Si., hadir secara langsung untuk membuka acara. Ia menekankan bahwa penguatan mental dan kepercayaan diri merupakan bagian krusial dalam proses pemberdayaan.

“Kita ingin setiap anak muda memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Pelatihan seperti ini bukan hanya tentang keterampilan usaha, melainkan juga bagaimana peserta memiliki mental yang kuat, mampu mengelola emosi, percaya pada potensinya, dan berani mengambil keputusan masa depan,” ujar Andri.

Andri menambahkan, pemberdayaan tidak cukup hanya dilakukan melalui bantuan fisik atau pelatihan teknis semata. Peserta perlu mendapatkan ruang untuk belajar, mencoba, mengambil keputusan, dan membangun kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri.

Program KUBIK 2.0 tidak berhenti pada satu kali pelatihan, melainkan dirancang secara berkelanjutan selama tiga tahun melalui pendekatan Wheel of Livelihoods. Setelah fase “Akarku”, peserta akan melangkah ke fase berikutnya yang fokus pada komunikasi, kerja sama, penyelesaian konflik, hingga penerapan kompetensi sosial-emosional dalam usaha.

Tidak hanya peserta, orang tua dan caregiver (pendamping) turut mendapatkan pelatihan Awareness. Mereka diajak memahami disabilitas dan kusta secara inklusif agar mampu memberikan dukungan yang mendorong kemandirian anggota keluarganya.

Melalui sinergi dari Arjasa, Ledokombo, hingga Silo, KUBIK 2.0 menjadi langkah nyata untuk memastikan bahwa inklusivitas tidak berhenti sebagai gagasan, melainkan diwujudkan melalui pembelajaran, pendampingan, dan kesempatan yang setara. (aza)

Galeri Foto