Kakek, Nenek hingga Anak Kos Ikut Antre di Operasi Pasar Mangli
- 19 Agustus 2026
- Dibaca 16 Kali
Bagikan Via:
Kakek, Nenek hingga Anak Kos Ikut Antre di Operasi Pasar Mangli
JEMBER, 19 AGUSTUS 2026 - Antrean Operasi Pasar (Opsar) di Pasar Mangli, Kabupaten Jember, Rabu 19 Agustus 2026, menghadirkan pemandangan yang cukup menarik. Jika selama ini operasi pasar murah identik dengan ibu-ibu rumah tangga yang datang untuk berburu beras, minyak goreng, dan kebutuhan dapur lainnya, pemandangan di Pasar Mangli menunjukkan hal yang lebih luas.
Di antara barisan warga yang menunggu giliran, terlihat bukan hanya perempuan yang hendak memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ada kakek-kakek, nenek-nenek, bapak-bapak, hingga anak muda yang ikut mengantre.
Mereka datang dengan tujuan yang sama: mendapatkan bahan pokok dengan harga yang lebih terjangkau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pemandangan tersebut memperlihatkan satu hal penting. Kebutuhan terhadap pangan murah ternyata tidak mengenal usia, pekerjaan, maupun status sosial.
Bagi seorang ibu rumah tangga, beras dan minyak goreng yang diperoleh melalui Opsar dapat membantu menghemat pengeluaran dapur. Bagi seorang bapak, kesempatan membeli bahan pokok dengan harga terjangkau bisa menjadi cara untuk menekan belanja keluarga. Sementara bagi lansia, selisih harga beberapa ribu rupiah pun tetap memiliki arti karena dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan lainnya.
Yang tak kalah menarik adalah kehadiran anak-anak muda dalam antrean. Mereka tidak sekadar datang menemani orang tua. Sebagian datang untuk membeli kebutuhan sendiri, termasuk mahasiswa atau anak kos yang membutuhkan bahan pangan untuk memasak sehari-hari.
Kondisi tersebut terasa wajar mengingat posisi Pasar Mangli yang berada di kawasan yang cukup dekat dengan lingkungan kampus dan permukiman mahasiswa. Bagi anak kos yang harus mengatur pengeluaran dengan cermat, keberadaan operasi pasar menjadi salah satu pilihan untuk memperoleh kebutuhan dapur dengan harga lebih ringan.
Dengan demikian, antrean di Pasar Mangli pada Rabu itu seolah menjadi gambaran kecil mengenai bagaimana harga pangan bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Dari dapur keluarga hingga kamar kos mahasiswa, kebutuhan terhadap bahan pokok murah ternyata memiliki cerita yang berbeda-beda.
Kehadiran berbagai kelompok masyarakat tersebut membuat suasana Opsar terasa lebih seperti potret kehidupan sehari-hari warga Jember. Mereka datang dari latar belakang berbeda, tetapi memiliki kebutuhan yang sama: memperoleh pangan dengan harga yang tidak terlalu membebani pengeluaran.
Hal tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa program operasi pasar bukan hanya berbicara mengenai distribusi komoditas murah. Di balik antrean, ada persoalan daya beli masyarakat yang ingin tetap mampu memenuhi kebutuhan pangan tanpa harus mengorbankan kebutuhan lainnya.
Mantri Pasar Mangli, Wiyono menyampaikan, karakter pengunjung Opsar di Pasar Mangli cukup beragam. Masyarakat yang datang tidak hanya ibu-ibu rumah tangga, tetapi juga bapak-bapak, lansia, hingga anak muda.
“Yang datang ini beragam. Tidak hanya ibu-ibu, ada bapak-bapak, kakek, nenek, bahkan anak remaja juga ikut mengantre. Mereka datang karena memang membutuhkan bahan pokok untuk kebutuhan sehari-hari di kos,” ujarnya. (hna)