logo ppid jember kim
Oleh : Kecamatan Rambipuji

Mahasiswa Ners Universitas Muhammadiyah Jember Selesaikan Praktik Komunitas di Rambipuji

  • 13 Maret 2026
  • Dibaca 228 Kali
Bagikan Via:
mahasiswa-ners-universitas-muhammadiyah-jember-selesaikan-praktik-komunitas-di-rambipuji-20260313

Mahasiswa Ners Universitas Muhammadiyah Jember Selesaikan Praktik Komunitas di Rambipuji

JEMBER, 13 MARET 2026 - Pendopo Kecamatan Rambipuji dipenuhi suasana hangat dan kebersamaan saat digelar acara penarikan mahasiswa fase komunitas keluarga dan jiwa komunitas 2026, Praktik Profesi Ners A16 dari Universitas Muhammadiyah Jember.

Sebanyak 45 mahasiswa yang telah ditempatkan di delapan desa di wilayah Rambipuji resmi ditarik kembali setelah menyelesaikan rangkaian program pengabdian. Acara dibuka langsung oleh Camat Rambipuji, Roni Herman Baza, yang menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa dalam mendampingi masyarakat selama beberapa bulan terakhir.

Dalam sambutannya, Roni menekankan bahwa kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik, melainkan juga bentuk nyata pengabdian generasi muda kepada bangsa.

“Mahasiswa telah menjadi bagian dari keluarga besar Rambipuji. Mereka hadir di desa-desa, mendengar keluhan warga, memberikan edukasi, dan membantu masyarakat memahami pentingnya kesehatan keluarga serta kesehatan jiwa. Ini kontribusi yang patut kita banggakan,” ujarnya. Pernyataan itu disambut tepuk tangan meriah perangkat desa, tokoh masyarakat, serta keluarga mitra mahasiswa.

Selama fase komunitas, mahasiswa Ners A16 melaksanakan berbagai program kesehatan yang menyentuh langsung kehidupan warga, mulai dari penyuluhan pola hidup sehat, pendampingan keluarga berisiko tinggi, hingga kegiatan promotif dan preventif terkait kesehatan mental.

Mereka juga membangun jejaring dengan komunitas untuk menciptakan lingkungan yang peduli kesehatan. Pendekatan partisipatif ini berhasil menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa kesehatan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya individu.

Program edukasi kesehatan jiwa mendapat perhatian khusus. Mahasiswa mengajak masyarakat terbuka membicarakan isu kesehatan mental, yang selama ini sering dianggap tabu.

Melalui komunikasi humanis, tercipta ruang dialog aman bagi warga untuk berbagi pengalaman dan memperoleh pemahaman baru. Langkah ini membantu mengurangi stigma, sekaligus memperkuat solidaritas komunitas. Banyak warga mengaku lega setelah bisa berbicara terbuka mengenai kesehatan mental.

Fase komunitas keluarga juga memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam memahami peran keluarga sebagai unit terkecil sistem kesehatan.

Mereka mendampingi keluarga dengan anggota penderita penyakit kronis, memberikan edukasi pola makan sehat, dan membantu menciptakan lingkungan rumah yang mendukung pemulihan. Beberapa keluarga berharap kegiatan serupa terus berlanjut karena manfaatnya dirasakan langsung.

Acara penarikan ini juga menjadi ajang apresiasi bagi mahasiswa yang menunjukkan komitmen tinggi. Perwakilan mahasiswa menyampaikan kesan dan pesan selama praktik, penuh tantangan sekaligus pembelajaran. “Kami belajar bahwa menjadi perawat bukan hanya soal ilmu medis, tetapi juga empati, komunikasi, dan kehadiran tulus di tengah masyarakat,” ungkap salah satu mahasiswa. (sai)

Galeri Foto