Membawa Laboratorium ke Ruang Kelas, Langkah Konkret Poliwangi Perkuat Pertanian Modern
- 08 Juli 2026
- Dibaca 24 Kali
Bagikan Via:
Membawa Laboratorium ke Ruang Kelas, Langkah Konkret Poliwangi Perkuat Pertanian Modern
JEMBER, 08 JULI 2026 - Teknologi kultur jaringan kini bukan lagi sekadar teori bagi mahasiswa Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi). Selama tiga hari, Senin, 06 Juli 2026 hingga Rabu, 08 Juli 2026, para pendidik terjun langsung mempelajari teknik perbanyakan tanaman unggul di Laboratorium Kultur Jaringan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Jember.
Kegiatan intensif ini dipandu langsung oleh Kepala Laboratorium Kultur Jaringan DTPHP Kabupaten Jember, Irianto Chandra Negara. Dalam pelatihan tersebut, peserta dibimbing melalui berbagai tahapan penting, mulai dari sterilisasi, pembuatan media, inokulasi, subkultur, hingga aklimatisasi tanaman. Kolaborasi ini menjadi ruang berbagi pengetahuan antara instansi pemerintah dan perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan teknologi pertanian.
Ir. Anggun Angkasa Bela Persada, S.T., M.T., peserta dari Poliwangi, menilai pelatihan ini memberikan pengalaman baru yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran di kampus. Menurutnya, peserta tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga praktik secara langsung.
"Kami diajari secara bertahap, step-by-step, mulai tahap awal sampai akhir. Dan penyampaian beliau juga mudah dipahami. Jadi kami sangat apresiasi terkait pelatihan ini," ungkap Anggun.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Laboratorium Kultur Jaringan DTPHP Kabupaten Jember, Irianto Chandra Negara, menegaskan bahwa praktik menjadi bagian penting dalam pelatihan kultur jaringan karena setiap tahapan memiliki fungsi yang saling berkaitan.
"Kultur jaringan tidak cukup dipahami dari teori. Peserta harus terlibat langsung dalam setiap tahapan agar memahami proses dan alasan di balik setiap perlakuan," kata Irianto.
Selama pelatihan, DTPHP Kabupaten Jember menyampaikan 12 materi utama yang dirancang untuk memberikan pemahaman menyeluruh mengenai teknik kultur jaringan dan mericlone. Keterlibatan Irianto sebagai instruktur utama mencerminkan komitmen DTPHP dalam berbagi pengalaman teknis kepada dunia pendidikan.
Bagi Jember, kolaborasi ini merupakan investasi jangka panjang. Dengan memperkuat kapasitas para pendidik, pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diteruskan kepada mahasiswa sebagai calon sumber daya manusia yang akan mendorong kemajuan pertanian modern.
Upaya ini menjadi jawaban atas tantangan sektor pertanian yang menuntut efisiensi tinggi melalui teknik mericlone dan kultur jaringan untuk menghasilkan bibit unggul dalam jumlah besar dan bebas penyakit. Melalui sinergi ini, laboratorium DTPHP Kabupaten Jember tidak hanya menjadi tempat praktik, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi yang menjembatani kebutuhan dunia akademik dengan perkembangan teknologi pertanian. (fan)