logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Kepemudaan dan Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata

Menjaga Jejak Sejarah Kejhung, Tradisi Lisan Madura yang Menyapa Era Digital

  • 03 April 2026
  • Dibaca 286 Kali
Bagikan Via:
menjaga-jejak-sejarah-kejhung-tradisi-lisan-madura-yang-menyapa-era-digital-20260404

Menjaga Jejak Sejarah Kejhung, Tradisi Lisan Madura yang Menyapa Era Digital

JEMBER, 03 APRIL 2026 - Di tengah arus modernisasi yang kian pesat, pelestarian budaya lokal terus diupayakan agar tidak tergerus zaman. Salah satunya melalui kegiatan Pol Kompol Tokang Kejhung yang diselenggarakan di Jubung, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, Sabtu, 28 April 2026. Kegiatan ini menjadi sarana pertemuan antara generasi terdahulu dan generasi masa kini dalam rangka menjaga keberlangsungan seni kejhung sebagai warisan budaya.

Kegiatan dimulai pada pukul 11.00 WIB dengan dokumentasi karya seni para maestro kejhung oleh tim Jhejung yang diketuai oleh Fitri Nura Murti. Dokumentasi tersebut didukung oleh Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan pelindungan serta pengarsipan ke dalam bentuk digital, sehingga kesenian kejhung dapat diakses secara luas melalui media digital pada masa mendatang.

Kejhung merupakan salah satu bentuk sastra lisan masyarakat Madura yang mengandung nilai estetika dan makna kehidupan. Selain berfungsi sebagai hiburan, kejhung juga menjadi media penyampaian pesan, nasihat, serta cerminan kehidupan sosial masyarakat.

Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan sesi pembelajaran bersama para maestro kejhung. Peserta yang hadir berasal dari berbagai kalangan, termasuk masyarakat umum dan mahasiswa Universitas Negeri Jember. Dalam sesi ini, peserta memperoleh pengetahuan mengenai teknik vokal, penghayatan, serta pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam setiap lantunan kejhung.

Adapun maestro yang terlibat dalam kegiatan ini antara lain Jamhari, Wulandari, dan Mak Tik. Ketiganya merupakan pelaku seni yang memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan kejhung di tengah perkembangan zaman.

Jamhari menyampaikan bahwa kejhung bukan sekadar seni suara, melainkan warisan budaya yang sarat makna. “Kejhung ini bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk dirasakan dan dipahami. Di dalamnya ada pesan kehidupan yang diwariskan dari leluhur. Harapan kami, generasi muda mau belajar dan melanjutkan tradisi ini agar tidak hilang,” ujarnya.

Salah satu mahasiswi dari Universitas Jember (Unej), Luluk Alfiatun Ni'amah, menyampaikan kesannya terhadap kegiatan tersebut. Ia mengajak generasi muda untuk lebih peduli terhadap budaya lokal. “Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai generasi muda. Saya mengajak teman-teman semua untuk senantiasa menjaga dan mempelajari budaya agar tidak hilang ditelan zaman,” ungkapnya, dikutip Jumat, 03 April 2026.

Kegiatan berlangsung dengan tertib dan khidmat hingga menjelang waktu maghrib. Interaksi antara maestro dan peserta menunjukkan adanya minat serta kepedulian generasi muda terhadap budaya lokal.

Melalui kegiatan ini, kejhung diharapkan tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu berkembang seiring dengan kemajuan teknologi, tanpa menghilangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. (af)

Galeri Foto