Peresmian MUESA dan Pemanfaatan Limbah Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aroma Terapi oleh Mahasiswa KKN Kolaboratif 233 Tegal Besar
- 20 Agustus 2026
- Dibaca 5 Kali
Bagikan Via:
Peresmian MUESA dan Pemanfaatan Limbah Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aroma Terapi oleh Mahasiswa KKN Kolaboratif 233 Tegal Besar
Jember, 19 Agustus 2026 — Mahasiswa KKN Kolaboratif 233 Kelurahan Tegal Besar melaksanakan kegiatan Peresmian MUESA (Museum Edukasi Sampah) sekaligus praktik pemanfaatan limbah minyak jelantah menjadi lilin aroma terapi. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk inovasi dan edukasi kepada masyarakat dalam meningkatkan kepedulian terhadap pengelolaan sampah serta pemanfaatan limbah rumah tangga agar memiliki nilai guna.
Peresmian MUESA dilakukan oleh Lurah Tegal Besar, Maria Hardjanti, A.Md., dan dihadiri oleh Ka. Sie Pem & Pelum M. Slamet Aryo, S.E., Ka. Sie PMKS Masrurotul Jamilah, S.Sos., seluruh karyawan Kelurahan Tegal Besar, kader PKK, penggiat Bank Sampah : Nurul Aisha, serta mahasiswa KKN Kolaboratif.
Turut hadir Kordes KKN Kolaboratif 233 Veronica Ancarani Permei R.J., Sekretaris Roro Ayu Nawang Sari, serta perwakilan mahasiswa KKN dari kordes lainnya. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan dukungan bersama terhadap kegiatan edukasi lingkungan yang digagas oleh mahasiswa KKN.
Dalam kegiatan tersebut, MUESA diperkenalkan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah secara bijak. Museum edukasi ini diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran yang memberikan pemahaman bahwa sampah tidak selalu menjadi sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagian dapat dipilah, diolah, dimanfaatkan kembali, bahkan memiliki nilai ekonomi.
Lurah Tegal Besar Maria Hardjanti, A.Md., menyampaikan apresiasi atas inovasi yang dilakukan mahasiswa KKN Kolaboratif 233. Menurutnya, keberadaan MUESA dapat menjadi media edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya dalam membangun kebiasaan memilah dan mengelola sampah dari lingkungan keluarga.
“Dengan adanya MUESA ini, kami berharap masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Sampah harus dikelola sejak dari sumbernya, mulai dari pemilahan, pengurangan, penggunaan kembali, hingga pengolahan,” ujarnya.
Selain peresmian MUESA, kegiatan juga diisi dengan edukasi dan praktik pemanfaatan limbah minyak jelantah menjadi lilin aroma terapi. Minyak jelantah yang selama ini dianggap sebagai limbah rumah tangga dapat dimanfaatkan kembali melalui proses pengolahan yang tepat sehingga menghasilkan produk yang memiliki nilai guna.
Kegiatan tersebut mendapatkan perhatian dari kader PKK dan para penggiat Bank Sampah yang hadir. Pemanfaatan minyak jelantah menjadi produk baru dinilai dapat menjadi salah satu alternatif kegiatan kreatif sekaligus edukatif yang dapat dikembangkan di lingkungan masyarakat.
Mahasiswa KKN Kolaboratif 233 melalui kegiatan ini tidak hanya memberikan pemahaman mengenai dampak limbah rumah tangga, tetapi juga mendorong masyarakat untuk melihat peluang pemanfaatan limbah menjadi produk yang lebih bermanfaat. Dengan kreativitas dan pengelolaan yang tepat, limbah dapat dikurangi sekaligus menjadi bagian dari kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Kordes KKN Kolaboratif 233, Veronica Ancarani Permei R.J., bersama Sekretaris Roro Ayu Nawang Sari, menyampaikan bahwa kegiatan MUESA merupakan bagian dari upaya mahasiswa untuk meninggalkan program yang dapat terus dimanfaatkan masyarakat meskipun masa KKN telah berakhir.
“Kami berharap MUESA dapat terus dimanfaatkan sebagai media edukasi lingkungan dan menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap sampah. Kami juga berharap keterampilan pemanfaatan minyak jelantah dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif di masyarakat,” ungkapnya.
Kolaborasi antara mahasiswa KKN, pemerintah kelurahan, kader PKK, penggiat Bank Sampah dan masyarakat menjadi bagian penting dalam keberlanjutan program tersebut. Sinergi berbagai pihak diperlukan agar edukasi pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Peresmian MUESA dan pemanfaatan limbah minyak jelantah menjadi lilin aroma terapi juga menjadi momentum untuk memperkuat semangat 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di lingkungan Kelurahan Tegal Besar. Masyarakat diajak untuk mengurangi timbulan sampah, menggunakan kembali barang yang masih dapat dimanfaatkan, serta mendaur ulang atau mengolah limbah menjadi sesuatu yang bernilai.
Dengan adanya MUESA, Kelurahan Tegal Besar diharapkan memiliki sarana edukasi lingkungan yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat, kader lingkungan, pelajar, maupun kelompok masyarakat lainnya. Kehadiran mahasiswa KKN Kolaboratif 233 diharapkan mampu memberikan kontribusi positif sekaligus memperkuat budaya peduli lingkungan di wilayah Kelurahan Tegal Besar.
Kegiatan berlangsung dengan penuh antusias dan mendapat dukungan dari seluruh peserta. Peresmian MUESA menjadi langkah nyata dalam membangun kesadaran bersama bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.
Melalui inovasi, edukasi, dan kolaborasi, Kelurahan Tegal Besar terus mendorong terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, kreatif, dan berkelanjutan, sekaligus membuka peluang pemanfaatan limbah menjadi produk yang memiliki nilai guna bagi masyarakat.