logo ppid jember kim
Oleh : Kecamatan Patrang

Perpenca Minta Beasiswa Disabilitas di tambah, Biaya Hidup Tidak Hanya UKT 

  • 26 Mei 2026
  • Dibaca 58 Kali
Bagikan Via:
perpenca-minta-beasiswa-disabilitas-di-tambah-biaya-hidup-tidak-hanya-ukt-20260527

Perpenca Minta Beasiswa Disabilitas di tambah, Biaya Hidup Tidak Hanya UKT 

JEMBER, 26 MEI 2026 - Ketua Pertimbangan Persatuan Penyandang Cacat (Perpenca), Asrorul Mais, menilai perhatian pemerintah terhadap penyandang disabilitas di Kabupaten Jember mulai terlihat pada masa kepemimpinan Bupati Jember, Gus Fawait, terutama melalui hadirnya kuota khusus beasiswa bagi mahasiswa disabilitas.

Menurut Mais, persoalan disabilitas selama ini kerap dipandang sebagai isu kelompok kecil, padahal jumlah penyandang disabilitas cukup besar. Ia menyebut prevalensi penyandang disabilitas di setiap kabupaten/kota diperkirakan mencapai 10-15 persen dari total jumlah penduduk.

“Kalau jumlah penduduk sekitar dua juta jiwa, maka sekitar 200 ribu di antaranya merupakan penyandang disabilitas,” ujarnya, saat RDP di Komisi D DPRD Kabupaten Jember, Selasa 26 Mei 2026.

Namun demikian, angka tersebut dinilai belum menggambarkan kondisi sebenarnya. Sebab, masih banyak penyandang disabilitas yang tidak terdata akibat adanya hidden disability atau disabilitas tersembunyi.

“Ada yang tidak mengakui dirinya penyandang disabilitas, ada juga yang disembunyikan keluarganya. Jadi ketika data resmi hanya sekitar 11 ribu orang, itu sebenarnya tidak sebanding dengan kondisi riil di lapangan,” katanya.

Mais menegaskan, isu disabilitas bukan sekadar persoalan kelompok marginal, melainkan menyangkut hak hidup jutaan warga negara yang membutuhkan perhatian serius pemerintah.

Dalam sektor pendidikan, ia menjelaskan pemerintah kabupaten memiliki ruang intervensi mulai jenjang PAUD hingga SMP, sementara SMA dan SMK menjadi kewenangan pemerintah provinsi.

Sebagai anggota Dewan Pakar Kelompok Kerja (Pokja) Inklusi Kabupaten Jember selama dua periode sejak masa Bupati Faida hingga pemerintahan saat ini, Mais mengaku menemukan persoalan mendasar terkait dukungan anggaran.

“Setelah saya telusuri politik anggaran Pokja Inklusi, ternyata memang belum ada alokasi anggaran khusus. Akibatnya, Pokja hanya ada secara administratif, tetapi belum bisa berjalan optimal,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Jember melalui program Beasiswa Cinta Bergema yang kini menyediakan kuota khusus bagi mahasiswa disabilitas.

Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan kemajuan dibanding periode sebelumnya yang belum memiliki alokasi khusus bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

Akan tetapi, Mais menilai skema beasiswa itu masih perlu disempurnakan karena belum mencakup biaya hidup atau living cost bagi penerima dari kalangan disabilitas.

“Mahasiswa disabilitas untuk berangkat kuliah saja membutuhkan biaya transportasi, bensin, dan kebutuhan lain. Karena itu saya pernah menyarankan mahasiswa binaan mengambil jalur afirmasi ekonomi agar mendapat biaya hidup,” katanya.

Ia menambahkan, penyandang disabilitas sering berada dalam kondisi berlapis antara disabilitas dan kemiskinan sekaligus. Karena itu, kebijakan afirmasi pendidikan dinilai perlu dirancang lebih komprehensif.

“Skema beasiswa disabilitas ke depan seharusnya juga memasukkan komponen biaya hidup agar benar-benar menjawab kebutuhan mereka,” tuturnya. (yud)

Galeri Foto