logo ppid jember kim
Oleh : Kecamatan Ledokombo

Potensi yang Tersembunyi Mulai Terpetakan, Workshop Inklusif Digelar di Ledokombo

  • 30 April 2026
  • Dibaca 458 Kali
Bagikan Via:
potensi-yang-tersembunyi-mulai-terpetakan-workshop-inklusif-digelar-di-ledokombo-20260501

Potensi yang Tersembunyi Mulai Terpetakan, Workshop Inklusif Digelar di Ledokombo

JEMBER, 30 APRIL 2026 - Upaya mendorong perencanaan pembangunan berbasis data yang inklusif terus diperkuat melalui kegiatan Workshop Pengembangan Basis Data di Tingkat Desa dan Diseminasi Orang Muda dengan Disabilitas di Kantor Kecamatan Ledokombo, Kamis 30 April 2026.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 13.00 WIB ini diselenggarakan oleh KUBIK 2.0 (Kelompok Usaha Bisnis Inklusif) dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor di Kabupaten Jember.

Workshop ini menjadi momentum strategis dalam membangun fondasi data yang kuat dan terintegrasi, khususnya terkait kondisi orang muda dengan disabilitas di wilayah Ledokombo, Arjasa, dan Silo. Selain itu, kegiatan ini juga diarahkan untuk meningkatkan pemahaman, kapasitas, serta keterlibatan pemerintah desa, komunitas, dan organisasi masyarakat dalam mendukung pemberdayaan kelompok rentan secara lebih sistematis dan berkelanjutan.

Sejak pagi hari, peserta dari unsur pemerintah desa, pendamping program, komunitas disabilitas, serta organisasi masyarakat telah memadati ruang rapat kecamatan. Registrasi peserta dimulai pukul 08.00 WIB yang dipandu oleh Putri Fani, sebelum acara resmi dibuka pada pukul 09.00 WIB oleh panitia.

Rangkaian pembukaan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan sambutan dari sejumlah tokoh penting yang memiliki peran strategis dalam penguatan program inklusif di daerah. Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua SCN/Perpenca, M. Zaenuri Rofi’i yang menegaskan pentingnya sinergi antara komunitas dan pemerintah dalam membangun ekosistem yang ramah disabilitas.

Selanjutnya, Direktur Tanoker, Farha Abdul Kadir Assegaf dalam sambutannya menyampaikan bahwa data merupakan pintu masuk utama dalam merancang program yang tepat sasaran.

“Selama ini banyak program yang berjalan tanpa didukung data yang akurat dan mendalam. Melalui workshop ini, kita ingin memastikan bahwa setiap intervensi yang dilakukan benar-benar menjawab kebutuhan riil orang muda dengan disabilitas. Data bukan sekadar angka, tetapi representasi kehidupan, harapan, dan potensi yang harus kita perjuangkan bersama,” ungkap Farha.

Ia juga menambahkan bahwa Tanoker bersama mitra program seperti KUBIK 2.0 terus berkomitmen membangun pendekatan berbasis komunitas yang inklusif, di mana penyandang disabilitas tidak hanya menjadi objek program, tetapi juga subjek yang aktif terlibat dalam proses pembangunan.

Sementara itu, Camat Ledokombo, Nino Eka Putra Wahyu Ramadhani dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penguatan basis data dan pemberdayaan masyarakat.

“Kami di tingkat kecamatan sangat mendukung penuh inisiatif ini. Basis data yang komprehensif akan menjadi pondasi utama dalam menyusun kebijakan yang tepat, efektif, dan berkeadilan. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, perlu dukungan dari semua pihak, baik lembaga, komunitas, maupun masyarakat,” ujar Nino.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa data yang valid dan terintegrasi akan membantu pemerintah dalam mengidentifikasi kebutuhan prioritas, sehingga program yang dirancang tidak lagi bersifat umum, melainkan spesifik dan tepat sasaran.

“Orang muda dengan disabilitas memiliki potensi besar yang seringkali belum tergali secara maksimal. Dengan adanya data yang kuat, kita bisa merancang program pemberdayaan yang lebih inklusif, membuka peluang ekonomi, serta meningkatkan kualitas hidup mereka secara nyata,” tambahnya.

Memasuki sesi inti, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan hasil asesmen orang muda dengan disabilitas di Kabupaten Jember oleh Sutopo. Dalam paparannya, ia menjelaskan berbagai temuan penting terkait kondisi sosial ekonomi, potensi usaha, serta tantangan yang dihadapi oleh kelompok disabilitas muda di wilayah sasaran program.

Ia menyebutkan bahwa masih terdapat kesenjangan akses terhadap pendidikan, pelatihan keterampilan, serta peluang kerja yang layak bagi penyandang disabilitas. Namun di sisi lain, terdapat potensi besar yang bisa dikembangkan, terutama dalam sektor usaha mikro berbasis komunitas.

Sesi berikutnya diisi dengan materi identifikasi ragam disabilitas oleh M. Alfian Khairani. Dalam sesi ini, peserta diberikan pemahaman mendalam mengenai berbagai jenis disabilitas, karakteristiknya, serta pendekatan yang tepat dalam melakukan pendataan dan pendampingan.

Pendekatan yang sensitif dan inklusif menjadi poin utama dalam sesi ini, di mana peserta diajak untuk memahami bahwa setiap individu memiliki kebutuhan yang berbeda, sehingga tidak bisa disamaratakan dalam perencanaan program.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tutorial pendataan komprehensif berbasis Google Form yang dipandu oleh Hafas Isnaini. Peserta diberikan praktik langsung dalam menyusun instrumen pendataan yang sistematis, terstruktur, dan mudah diperbarui.

Pelatihan ini menjadi bagian penting dalam meningkatkan kapasitas aparatur desa dan tim lapangan agar mampu mengelola data secara berkelanjutan. Dengan pemanfaatan teknologi sederhana seperti Google Form, diharapkan proses pengumpulan dan pengolahan data dapat dilakukan lebih efisien dan akurat.

Secara keseluruhan, kegiatan ini memiliki tujuan utama untuk menyediakan basis data komprehensif di tingkat desa sebagai landasan perencanaan program berbasis bukti (evidence-based). Selain itu, workshop ini juga bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterlibatan pemangku kepentingan dalam mendukung pemberdayaan orang muda dengan disabilitas.

Adapun tujuan khusus yang ingin dicapai meliputi pengembangan database yang lengkap dan terintegrasi, identifikasi kondisi sosial ekonomi dan potensi individu, peningkatan kapasitas pengelola data, hingga mendorong pemanfaatan data dalam pengambilan kebijakan.

Dari sisi output, kegiatan ini diharapkan mampu menghasilkan database yang mencakup profil individu secara menyeluruh, mulai dari kondisi sosial ekonomi, potensi usaha, hingga kebutuhan dan hambatan yang dihadapi. Selain itu, tersedianya sistem database yang terstandar juga menjadi target utama agar dapat digunakan secara berkelanjutan oleh pemerintah desa dan pihak terkait.

Tak hanya itu, workshop ini juga diharapkan mampu meningkatkan pemahaman stakeholder terhadap kondisi riil orang muda dengan disabilitas, serta membangun kesamaan persepsi mengenai pentingnya data sebagai dasar perencanaan program.

Lebih jauh, kegiatan ini juga menjadi langkah awal dalam mengidentifikasi peluang intervensi program yang lebih tepat sasaran, sekaligus memperkuat komitmen dan kolaborasi lintas sektor dalam mendukung pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Menjelang akhir kegiatan, peserta mengikuti sesi dokumentasi dan penutupan yang dipandu oleh Inor. Suasana diskusi yang interaktif dan partisipatif sepanjang kegiatan menunjukkan tingginya antusiasme peserta dalam memahami pentingnya data dalam pembangunan inklusif.

Dengan terselenggaranya workshop ini, diharapkan pemerintah desa dan seluruh pemangku kepentingan di Kecamatan Ledokombo, Arjasa, dan Silo dapat semakin siap dalam mengelola data secara profesional serta mengimplementasikan program pemberdayaan yang lebih tepat sasaran.

Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mewujudkan pembangunan yang tidak meninggalkan siapa pun (no one left behind), khususnya bagi orang muda dengan disabilitas yang memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi dalam masyarakat. (yus)

Galeri Foto