Rahasia di Balik Botol Saus: Teknik Presisi Budidaya Anggrek di Laboratorium DTPHP
- 22 Maret 2026
- Dibaca 1144 Kali
Bagikan Via:
Rahasia di Balik Botol Saus: Teknik Presisi Budidaya Anggrek di Laboratorium DTPHP
JEMBER, 22 MARET 2026 - Dunia botani yang kerap dianggap rumit ternyata dapat disederhanakan melalui teknik yang presisi dan inovatif. Hal ini terlihat di Laboratorium Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Jember, saat proses pembibitan anggrek dilakukan dengan metode yang terstandar namun efisien, pada Selasa, 17 Maret 2026, pukul 14.00 WIB.
Kegiatan ini dijelaskan langsung oleh Chandra, salah satu teknisi laboratorium DTPHP, di ruang kultur jaringan yang menjadi pusat pembibitan anggrek di instansi tersebut.
Pembibitan anggrek dilakukan menggunakan botol bekas yang dipilih secara khusus, salah satunya botol saus. Pemilihan wadah ini bukan tanpa alasan, melainkan untuk menjaga keseragaman sekaligus efisiensi produksi.
“Iya karena kita ambil botol yang khusus anggrek yang ini saus. Saus Monte gitu. Tapi kalau kita yang pakai selai ada juga, cuma itu biasanya untuk penelitian, tidak untuk komersil,” jelas Chandra.
Menurutnya, proses pembibitan diawali dengan sterilisasi botol dan media tanam. Tahapan ini menjadi kunci utama agar bibit anggrek dapat tumbuh optimal. Selain itu, faktor genetika tanaman juga sangat mempengaruhi lama pertumbuhan.
“Kalau dari biji sampai itu mungkin sembilan bulan baru bisa keluar dari botol. Tergantung dari medianya sama bibit tanamannya, ada kadang-kadang yang lambat, satu tahun baru bisa keluar. Iya ada kayak anggrek besi itu, lama itu,” paparnya.
Pemilihan botol saus dinilai lebih efektif karena mampu menampung lebih banyak bibit dalam satu wadah.
“Kalau yang botol ini biasanya sudah umum di mana-mana karena isinya bisa banyak satu botol, kalau yang selai kan hanya sedikit isinya,” tambahnya.
Selain untuk produksi massal, laboratorium juga mengembangkan inovasi produk berbasis anggrek dalam kemasan kecil, seperti botol selai yang dimanfaatkan sebagai souvenir.
“Kadang itu souvenir, bisa dibuat souvenir itu yang selai itu, gantungan kunci, isinya hanya beberapa tanaman kecil,” ungkap Chandra.
Untuk menjaga kualitas, botol bekas yang digunakan harus melalui proses pencucian dan sterilisasi, sementara penutup botol dipastikan dalam kondisi baru. “Tutupnya beli online. Botolnya dari rongsokan, dicuci bersih baru kita pakai,” jelasnya.
Dalam penyediaan bahan baku, laboratorium juga bekerja sama dengan pecinta anggrek. Biji anggrek yang diperoleh kemudian dikembangkan di laboratorium hingga siap dipasarkan kembali.
“Dia (Mas Habibi) ngasih biji, bijinya itu ditebarkan di sini. Nanti hasil tebarannya dibeli lagi per botol,” tutur Chandra.
Melalui teknik yang terukur dan inovatif ini, Laboratorium DTPHP Kabupaten Jember berhasil mengubah proses budidaya anggrek yang kompleks menjadi langkah-langkah praktis, efisien, dan bernilai ekonomi tinggi. (ima)