Rakor Homecare Puskesmas Arjasa Perkuat Layanan Kesehatan Jemput Bola
- 20 Agustus 2026
- Dibaca 5 Kali
Bagikan Via:
Rakor Homecare Puskesmas Arjasa Perkuat Layanan Kesehatan Jemput Bola
JEMBER, 19 AGUSTUS 2026 – Pelaksanaan program Homecare di Kecamatan Arjasa terus dimatangkan untuk memastikan layanan kesehatan benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Hal tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Homecare yang digelar di Puskesmas Arjasa pada Rabu, 19 Agustus 2026, dilanjutkan dengan kunjungan langsung ke sasaran Homecare di Desa Darsono, Kecamatan Arjasa.
Rakor tersebut dihadiri Camat Arjasa Andri Purnomo, S.T., M.Si., Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Jember Regar Jeane Dealen Nangka, S.STP., M.Si., Kabag Tapem Rachman Hidayat, S.Sos., jajaran Pemerintah Kecamatan Arjasa, Muspika Kecamatan Arjasa, jajaran Puskesmas Arjasa beserta penanggung jawab Homecare, serta Tim Layanan Rujukan Terpadu (LRT). Pertemuan menjadi ruang konsolidasi lintas sektor agar pelaksanaan Homecare berjalan terukur, efektif, dan mampu memberikan pelayanan maksimal kepada sasaran.
Dalam rakor tersebut, pembahasan difokuskan pada sosialisasi dan konsolidasi, teknis pelaksanaan Homecare, pemantapan bersama Dinas Kominfo, hingga pemetaan sasaran dan tenaga kesehatan. Puskesmas Arjasa sendiri memiliki sekitar 48 tenaga kesehatan yang akan menjadi bagian dari penguatan pelaksanaan layanan. Dengan jumlah sasaran yang mencapai 866 orang, diperlukan pengaturan pola pelayanan yang matang agar seluruh sasaran dapat terlayani secara optimal.
Camat Arjasa Andri Purnomo, S.T., M.Si., menekankan bahwa keberhasilan Homecare tidak hanya ditentukan oleh kesiapan tenaga kesehatan, tetapi juga oleh ketepatan pemetaan sasaran, penjadwalan, serta koordinasi seluruh pihak yang terlibat.
“Homecare ini harus kita kawal bersama. Dengan jumlah sasaran yang cukup besar, kita perlu melakukan pemetaan dengan baik, mulai dari sasaran, tenaga kesehatan, sampai jadwal pelayanan. Tujuannya agar tidak ada sasaran yang terlewat dan pelayanan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Andri.
Secara teknis, dari 866 sasaran yang menjadi perhatian, pelayanan diproyeksikan berlangsung selama sekitar 20 hari, atau rata-rata sekitar 43 sasaran per hari. Setiap sasaran diperkirakan membutuhkan waktu pelayanan sekitar 20 menit, sehingga diperlukan sedikitnya tiga tim agar beban pelayanan dapat terbagi secara proporsional. Setiap tim ditargetkan menangani kurang lebih 16 sasaran per hari, dengan jam pelayanan mulai pukul 07.00 hingga 15.00 WIB.
Selain persoalan teknis pelayanan, rakor juga membahas pentingnya profilling sasaran Homecare. Profiling diperlukan agar tim memiliki gambaran menyeluruh mengenai kondisi warga yang akan dilayani, termasuk kebutuhan kesehatan, kondisi sosial, serta kebutuhan rujukan maupun intervensi lanjutan. Dengan data yang lebih lengkap, pelayanan tidak berhenti pada kunjungan kesehatan, tetapi dapat menjadi dasar untuk menentukan tindak lanjut yang tepat.
Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Jember Regar Jeane Dealen Nangka, S.STP., M.Si., turut menyoroti pentingnya penguatan sistem informasi dan pelaporan dalam pelaksanaan Homecare. Menurutnya, data hasil pelayanan harus terdokumentasi dengan baik sehingga perkembangan setiap sasaran dapat dipantau secara berkelanjutan.
“Kita ingin Homecare ini tidak hanya berjalan sebagai kegiatan kunjungan, tetapi memiliki data dan pelaporan yang jelas. Setiap capaian perlu dipantau secara berkala sehingga pemerintah bisa melihat kebutuhan di lapangan dan mengambil langkah berikutnya berdasarkan data yang benar,” ungkap Regar.
Dalam rakor juga dibahas kesiapan Mega Pro, pemetaan kebutuhan operasional termasuk bahan bakar melalui dukungan BOK, serta mekanisme pelaporan mingguan mengenai capaian Homecare. Setiap hasil kunjungan nantinya akan menjadi bahan evaluasi sekaligus dasar untuk memetakan kembali kebutuhan sasaran. Dengan demikian, data lapangan dapat terus diperbarui dan digunakan untuk mengusulkan sasaran yang membutuhkan pelayanan.
Sementara itu, Kabag Tapem Rachman Hidayat, S.Sos., menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam memastikan program berjalan secara berkelanjutan. Homecare membutuhkan keterlibatan berbagai unsur karena persoalan yang ditemukan di lapangan tidak selalu hanya berkaitan dengan aspek kesehatan.
“Yang kita bangun bukan hanya pelayanan kesehatan, tetapi sebuah sistem yang saling terhubung. Hasil dari Homecare harus bisa dipetakan kembali, sehingga ketika ditemukan kebutuhan lain di masyarakat, dapat segera dikoordinasikan dan ditindaklanjuti bersama,” jelas Rachman.
Usai rakor, rombongan kemudian turun langsung ke Desa Darsono untuk melihat pelaksanaan Homecare sekaligus mengunjungi sasaran. Kunjungan lapangan ini menjadi kesempatan bagi jajaran terkait untuk melihat secara langsung kondisi penerima manfaat, mendengarkan kebutuhan mereka, serta memastikan pelayanan yang diberikan tim sesuai dengan kondisi di lapangan.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk konsolidasi nyata bahwa Homecare bukan sekadar pelayanan yang berlangsung di fasilitas kesehatan, tetapi layanan yang hadir mendekati warga. Melalui pemetaan sasaran, pembagian tim, profiling, pelaporan rutin, serta koordinasi lintas sektor, Kecamatan Arjasa terus mendorong agar program Homecare mampu memberikan pelayanan yang tepat sasaran dan berkelanjutan bagi masyarakat yang membutuhkan. (aza)