SLRT Rambipuji Bergerak! Camat Tekankan Peran Relawan sebagai Garda Terdepan Penanggulangan Kemiskinan
- 22 April 2026
- Dibaca 188 Kali
Bagikan Via:
SLRT Rambipuji Bergerak! Camat Tekankan Peran Relawan sebagai Garda Terdepan Penanggulangan Kemiskinan
JEMBER 06 APRIL 2026 - Tim Sistem Layanan dan Rujukan Terpadu (SLRT) tingkat desa se-Kecamatan Rambipuji menggelar koordinasi bersama Camat Rambipuji, Roni Herman Baza, pada Rabu 22 April 2026. Kegiatan yang berlangsung di pendopo kecamatan ini diikuti oleh delapan perwakilan relawan SLRT dari masing-masing desa, sebagai upaya penguatan layanan sosial yang lebih cepat, tepat, dan terintegrasi bagi masyarakat.
Delapan relawan yang hadir merupakan ujung tombak pelayanan sosial di desa, yakni Rade Danuarta Elizolines Ansori dari Desa Gugut, Heru Indra Fachrudin dari Desa Curahmalang, Jumadi dari Desa Rambigundam, Fitri Astuti dari Desa Rambipuji, Nur Emil Rahayu dari Desa Rowotamtu, Miftahul Jannah dari Desa Kaliwining, Husnul Hotimah dari Desa Nogosari, serta Riskia Nanin Aulia.
Dalam arahannya, Camat Rambipuji Roni Herman Baza menegaskan bahwa peran SLRT sangat strategis dalam memastikan masyarakat miskin dan rentan dapat mengakses layanan sosial secara menyeluruh. Menurutnya, keberadaan relawan di tingkat desa menjadi penghubung penting antara masyarakat dengan berbagai program pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat.
“SLRT memiliki fungsi vital dalam mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, menampung keluhan, serta menghubungkan warga dengan program perlindungan sosial seperti PKH, KIS, maupun KIP. Ini adalah garda terdepan dalam upaya penanggulangan kemiskinan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tugas pokok dan fungsi (tupoksi) tim SLRT tidak hanya sebatas pendataan, tetapi juga mencakup berbagai aspek pelayanan sosial yang komprehensif. Relawan dituntut aktif dalam melakukan identifikasi kebutuhan masyarakat, khususnya bagi fakir miskin dan kelompok rentan yang belum tersentuh bantuan.
Selain itu, relawan juga memiliki tanggung jawab dalam penanganan keluhan masyarakat. Setiap aspirasi maupun permasalahan terkait layanan sosial harus ditampung, diverifikasi, dan ditindaklanjuti secara cepat dan tepat. Hal ini penting agar tidak terjadi ketimpangan dalam penyaluran bantuan sosial.
Peran lainnya adalah sebagai penghubung atau rujukan layanan. Dalam hal ini, relawan SLRT memastikan bahwa masyarakat yang membutuhkan dapat terhubung dengan program-program perlindungan sosial yang tersedia. Dengan demikian, bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran dan sesuai kebutuhan.
Tidak kalah penting, relawan juga menjalankan fungsi pendampingan. Mereka memberikan edukasi kepada masyarakat terkait prosedur dan akses layanan sosial, sehingga warga tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh haknya. Pendampingan ini menjadi kunci dalam meningkatkan kesadaran dan kemandirian masyarakat.
Dalam aspek pencatatan dan pengelolaan data, relawan SLRT juga berperan aktif dalam melakukan pendataan serta pelaporan warga yang membutuhkan bantuan. Data yang akurat menjadi dasar utama dalam perencanaan dan penyaluran program sosial, sehingga validitasnya harus terus dijaga dan diperbarui secara berkala.
Menariknya, dalam konteks kebencanaan, tim SLRT juga memiliki peran tambahan dalam upaya pengurangan risiko bencana. Relawan diharapkan mampu menjadi bagian dari sistem mitigasi di tingkat desa, mulai dari identifikasi potensi risiko hingga koordinasi penanganan awal saat terjadi bencana.
Koordinasi ini juga melibatkan sinergi dengan Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) sebagai leading sector dalam penyelenggaraan layanan sosial. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat sistem layanan terpadu yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Tujuan utama dari penguatan tupoksi SLRT ini adalah menciptakan pelayanan sosial yang cepat, terpadu, dan terkoordinasi dengan baik. Dengan adanya sinergi antara relawan di lapangan dan pengelola program di berbagai tingkatan, diharapkan tidak ada lagi masyarakat yang terlewat dari akses bantuan sosial.
Kegiatan koordinasi ini juga menjadi momentum evaluasi dan penyamaan persepsi antar relawan. Dengan komunikasi yang intens dan terarah, setiap permasalahan yang muncul di lapangan dapat segera dicarikan solusi bersama. (sai)