STLSN Tawarkan “Peta Jalan Cinta Tani”, Dorong Transformasi Pertanian Jember
- 23 April 2026
- Dibaca 159 Kali
Bagikan Via:
STLSN Tawarkan “Peta Jalan Cinta Tani”, Dorong Transformasi Pertanian Jember
JEMBER, 23 APRIL 2026 — Upaya mendorong pertanian Jember naik kelas kembali mengemuka. Serikat Tani Laskar Sholawat Nusantara (STLSN) menyampaikan rekomendasi strategis bertajuk “Peta Jalan Cinta Tani” dalam rapat koordinasi bersama Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Jember, Rabu, 22 April 2026 sekitar pukul 11.00 WIB.
Rekomendasi ini tidak sekadar berbicara soal peningkatan produksi, melainkan menawarkan perubahan menyeluruh pada sistem pertanian. STLSN menyoroti adanya paradoks yang selama ini terjadi: Jember dikenal sebagai salah satu lumbung pangan, namun sebagian petaninya masih menghadapi tekanan ekonomi akibat rantai pasok yang panjang, distribusi pupuk yang belum sepenuhnya tepat sasaran, serta keterbatasan akses teknologi.
Melalui “Peta Jalan Cinta Tani”, STLSN mendorong transformasi pertanian dari pola tradisional menuju ekosistem modern berbasis teknologi atau smart farming. Pendekatan ini mencakup penguatan sistem informasi pertanian, digitalisasi data petani, hingga penyediaan akses harga pasar secara real-time agar posisi tawar petani meningkat.
Tidak hanya itu, rekomendasi juga menekankan pentingnya hilirisasi. Produk pertanian diharapkan tidak lagi dijual dalam bentuk mentah, melainkan diolah melalui penguatan kelembagaan desa seperti BUMDes dan koperasi petani. Dengan cara ini, nilai tambah dapat diciptakan di tingkat lokal dan perputaran ekonomi tetap berada di desa.
Dalam forum tersebut, Dinas TPHP Jember menyambut gagasan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat sektor pertanian yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Kepala Dinas TPHP Jember, Drs. Moh. Djamil, M.Si, menilai bahwa arah transformasi pertanian memang perlu didorong agar mampu menjawab tantangan zaman.
“Pertanian kita harus bergerak lebih maju, tidak hanya soal produksi, tetapi juga bagaimana petani mendapatkan nilai ekonomi yang lebih baik dari hasil panennya,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga komunitas, agar inovasi yang dirancang dapat benar-benar diterapkan di lapangan.
Selain digitalisasi dan hilirisasi, STLSN turut mengusulkan langkah pendukung lainnya, seperti optimalisasi lahan melalui program oplah, pemanfaatan energi terbarukan untuk sistem irigasi, serta penguatan pelatihan petani berbasis teknologi.
Rapat koordinasi ini menjadi titik temu antara gagasan lapangan dan arah kebijakan daerah. Dengan pendekatan yang lebih terintegrasi, sektor pertanian di Jember diharapkan tidak hanya menjadi penopang produksi pangan, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi desa yang mampu membuka peluang kerja baru dan mengurangi kemiskinan secara bertahap. (fan)