logo ppid jember kim
Oleh : Kecamatan Patrang

Tak Hanya Cekatan Melayani Warga, Lurah Patrang Hariyono Juga Jadi Bilal Salat Jumat

  • 16 Oktober 2026
  • Dibaca 50 Kali
Bagikan Via:
tak-hanya-cekatan-melayani-warga-lurah-patrang-hariyono-juga-jadi-bilal-salat-jumat-20261016

Tak Hanya Cekatan Melayani Warga, Lurah Patrang Hariyono Juga Jadi Bilal Salat Jumat

JEMBER, 16 OKTOBER 2026 – Menjadi seorang lurah bukan semata-mata soal duduk di balik meja, menandatangani dokumen, atau mengurus administrasi pemerintahan.

Kedekatan dengan masyarakat juga tumbuh dari hal-hal sederhana, mulai dari menyapa warga, berbaur dalam kehidupan sehari-hari, hingga hadir dalam kegiatan sosial dan keagamaan.

Hal itulah yang tergambar dari sosok Hariyono, Lurah Patrang, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember. Di mata masyarakat, ia dikenal sebagai pribadi yang ramah dan pandai bernyanyi.

Namun, di balik kemampuannya menghibur warga, ada sisi lain yang tak kalah menarik. Ia juga bersedia menjadi bilal salat Jumat di Masjid Al-Hilal, yang berada tepat di depan Kantor Kelurahan Patrang.

Pemandangan tersebut menghadirkan potret sederhana tentang seorang pemimpin wilayah yang tidak hanya menjalankan tugas pemerintahan, tetapi juga mengambil bagian dalam kehidupan keagamaan masyarakatnya.

Ketika berada di masjid, Hariyono tidak sekadar hadir dengan identitasnya sebagai lurah. Ia turut menjalankan peran dalam ibadah bersama warga. Jabatan yang melekat padanya tidak menjadi penghalang untuk berbaur dalam suasana kebersamaan.

“Menjadi bilal bukan karena ingin dilihat atau dipuji. Ini bagian dari ibadah dan bentuk kebersamaan dengan masyarakat,” ujar Hariyono, Jum'at setelah sholat Jum'at di Masjid Al-Hilal, Jumat 16 Oktober 2026.

Bagi Hariyono, kedekatan antara pemimpin dan masyarakat tidak cukup dibangun melalui pelayanan administratif di kantor kelurahan. Hubungan yang baik juga perlu dirawat melalui interaksi sehari-hari, termasuk dengan menghadiri kegiatan sosial dan keagamaan yang menjadi bagian dari kehidupan warga.

“Sebagai lurah, saya ingin selalu dekat dengan warga. Tidak hanya saat ada urusan pemerintahan, tetapi juga dalam kegiatan sosial dan keagamaan,” katanya.

Kemampuan bernyanyi menjadi sisi lain yang melekat pada diri Hariyono. Melalui musik, ia memiliki ruang untuk berinteraksi dan mencairkan suasana bersama masyarakat.

Sementara itu, keterlibatannya sebagai bilal salat Jumat memperlihatkan bentuk pengabdian lain di tengah kesibukannya menjalankan tugas pemerintahan.

Dua aktivitas itu memang berbeda. Bernyanyi menjadi sarana ekspresi dan interaksi sosial, sedangkan menjadi bilal merupakan bagian dari pelaksanaan ibadah.

Namun, keduanya memperlihatkan bahwa kehidupan seorang pemimpin di tingkat kelurahan tidak selalu terbatas pada urusan kedinasan.

Keterlibatan Hariyono dalam kegiatan keagamaan turut mendapat perhatian Ustaz Kholid, imam salat Jumat di Masjid Al-Hilal. Ia menilai, kehadiran seorang lurah di tengah masyarakat dalam kegiatan ibadah merupakan bentuk kedekatan yang patut diapresiasi.

Menurut Ustaz Kholid, pengabdian seorang lurah tidak hanya sebatas memberikan pelayanan administrasi kepada masyarakat. Lebih dari itu, seorang pemimpin wilayah juga dapat mengambil bagian dalam kehidupan sosial dan keagamaan warga.

“Ini merupakan sosok lurah yang langka di Kabupaten Jember dan patut mendapatkan apresiasi, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Sebab, pengabdian seorang lurah tidak hanya sebatas memberikan pelayanan kepada masyarakat, tetapi juga ikut terlibat langsung dalam kehidupan sosial dan keagamaan warga,” ungkap Ustaz Kholid.

Ia menilai, kesediaan Hariyono menjadi bilal salat Jumat menunjukkan bahwa seorang pemimpin dapat hadir dan membaur bersama masyarakat tanpa harus selalu berada dalam lingkup tugas formal pemerintahan.

Bagi Ustaz Kholid, kedekatan semacam itu juga membuka peluang bagi pemimpin untuk lebih mudah mendengar aspirasi dan memahami kebutuhan masyarakat secara langsung.

Ia bahkan berharap, jika memungkinkan dan sesuai dengan waktu serta tugas kedinasannya, Hariyono dapat memperluas keterlibatannya dengan menyempatkan diri beribadah bersama warga di masjid-masjid lain yang berada di wilayah Kelurahan Patrang.

“Harapan kami, Pak Lurah tidak hanya menjadi bilal di satu masjid saja. Jika memungkinkan, waktunya bisa dibagi agar setiap hari Jumat beliau berkesempatan hadir di masjid-masjid yang ada di wilayahnya untuk beribadah bersama warga,” tuturnya.

Menurutnya, momen kebersamaan di masjid juga dapat menjadi ruang komunikasi antara pemimpin dan masyarakat. Setelah salat Jumat, misalnya, warga dapat menyampaikan aspirasi, melaporkan persoalan lingkungan, maupun mengutarakan kebutuhan pelayanan yang memerlukan perhatian pemerintah kelurahan.

“Dengan begitu, selain menjalankan ibadah bersama warga, beliau juga dapat semakin dekat dengan masyarakat dan mengetahui secara langsung perkembangan serta persoalan yang ada di lingkungannya,” tambahnya.

Di tengah tuntutan pelayanan publik yang terus berjalan, hal-hal sederhana seperti menyapa warga, meluangkan waktu untuk berinteraksi, dan ikut dalam kegiatan lingkungan menjadi bagian penting dari hubungan sosial yang perlu dirawat.

Masjid Al-Hilal, yang berada di depan Kantor Kelurahan Patrang, menjadi salah satu ruang tempat Hariyono menjalankan peran tersebut.

Di sana, ia tidak hanya dikenal melalui jabatannya sebagai lurah, tetapi juga hadir sebagai bagian dari masyarakat yang menjalankan aktivitas keagamaan bersama.

Kisah Hariyono memberikan gambaran bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu hadir dalam bentuk program besar atau kebijakan yang tertulis di atas kertas.

Pengabdian juga dapat tumbuh melalui kesediaan untuk terlibat, membangun komunikasi, dan mengambil bagian dalam kehidupan warga.

Sebab, kedekatan antara pemimpin dan masyarakat tidak hanya dibangun melalui meja pelayanan, tetapi juga melalui perjumpaan sederhana yang membuka ruang kebersamaan. (yud)

Galeri Foto