Tim Ahli FT UNEJ Bedah Anatomi Tanah Longsor Kaliwates demi Keamanan Bronjong
- 10 Januari 2026
- Dibaca 342 Kali
Bagikan Via:
Tim Ahli FT UNEJ Bedah Anatomi Tanah Longsor Kaliwates demi Keamanan Bronjong
KALIWATES, 07 Januari 2026 – Suasana di bantaran sungai kawasan RT 05 RW 04, Kelurahan Kaliwates, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, pada Rabu pagi (7 Januari 2026) tampak berbeda dari biasanya. Jika pada pekan-pekan sebelumnya lokasi ini dipadati oleh warga yang bahu-membahu menyusun batu, kali ini deru mesin berat berganti dengan ketelitian alat ukur sensoris dan tabung-tabung sampling tanah.
Tim ahli dari Fakultas Teknik Universitas Jember (FT UNEJ) turun langsung ke lapangan untuk melakukan pengukuran presisi dan pengambilan sampel tanah di titik kritis bekas longsoran. Langkah ini diambil sebagai respons ilmiah untuk mengawal kekuatan struktur 8 trap bronjong yang telah terpasang, sekaligus memberikan rekomendasi teknis bagi kelanjutan proteksi tebing yang hingga kini baru mencakup separuh dari total area terdampak.
Kegiatan ini didampingi langsung oleh Lurah Kaliwates, Ketua Destana (Desa Tangguh Bencana), serta tokoh masyarakat setempat, sebagai wujud nyata kolaborasi antara akademisi, birokrasi, dan relawan kemanusiaan.
Wilayah RT 05 RW 04 Kelurahan Kaliwates secara geografis terletak tepat di lekukan aliran sungai yang memiliki arus cukup deras saat musim penghujan. Tekanan hidrolik dari aliran sungai, ditambah dengan beban bangunan di atas tebing, menjadikan kawasan ini rentan terhadap erosi lateral (pengikisan samping).
Beberapa waktu lalu, tebing setinggi belasan meter ini mengalami longsor yang mengancam pemukiman warga dan infrastruktur di sekitarnya. Sejak saat itu, semangat gotong royong luar biasa muncul dari berbagai elemen: warga lokal, petani, kuli bangunan, hingga instansi seperti TNI, Polri, BPBD, MDMC, dan Lazismu.
Hasilnya cukup mengesankan: 8 trap bronjong (sekitar 80 unit) telah terpasang dengan kokoh secara swadaya. Namun, secara visual dan teknis, pemasangan ini baru menutup sekitar 50% dari total area longsoran yang ada. Sisanya masih menyisakan tebing terbuka yang rawan "menarik" struktur yang sudah ada jika tidak segera ditangani dengan perhitungan yang matang.
Ketua Tim Teknis dari Fakultas Teknik UNEJ menjelaskan bahwa kedatangan mereka bukan sekadar formalitas, melainkan untuk melakukan "audit teknis" terhadap kondisi tanah.
"Membangun bronjong di atas tanah yang pernah bergerak (longsor) memerlukan perhitungan yang berbeda dengan tanah stabil. Kita harus mengetahui parameter kuat geser tanah, kadar air, dan daya dukung tanah di bawah dasar bronjong itu sendiri," ujar perwakilan tim ahli FT UNEJ di lokasi.
Proses dimulai dengan melakukan pemetaan topografi ulang untuk melihat kemiringan lereng yang tersisa. Tim menggunakan perangkat Theodolite dan Waterpass untuk memastikan presisi trap yang sudah terpasang.
Setelah itu, bagian yang paling krusial dilakukan: Soil Sampling. Tim melakukan pengeboran manual (hand boring) di beberapa titik di sekitar bronjong dan di area tebing yang belum tertangani. Sampel tanah diambil pada kedalaman tertentu untuk kemudian dibawa ke Laboratorium Mekanika Tanah FT UNEJ.
"Kami mengambil sampel tanah dalam kondisi asli (undisturbed sample) untuk menguji berapa beban maksimal yang bisa ditanggung oleh tanah ini sebelum ia mengalami penurunan (settlement) atau pergeseran kembali," tambahnya.
Struktur yang sudah ada, yakni 8 trap bronjong dengan total 80 unit, adalah capaian luar biasa dari kerja keras relawan dan warga. Namun, tim FT UNEJ mencatat adanya beberapa variabel yang perlu diwaspadai:
Tekanan Air Pori: Air yang meresap dari permukiman di atas tebing dapat terjebak di belakang bronjong jika sistem drainasenya tidak optimal.
Efek Gerusan (Scouring): Arus sungai di bagian dasar tebing berpotensi menggerus fondasi bronjong paling bawah.
Beban Lateral: Tanah longsor memiliki kecenderungan untuk terus mendorong ke arah luar. 8 trap bronjong harus dipastikan mampu menahan tekanan aktif tanah tersebut.
Lurah Kaliwates, yang memantau langsung proses pengambilan sampel, menyatakan bahwa data dari UNEJ ini akan menjadi "kitab suci" bagi kelanjutan proyek ini.
"Kami tidak ingin kerja keras warga dan bantuan dari donatur seperti Lazismu serta tenaga dari TNI-Polri menjadi sia-sia karena faktor teknis yang terlewatkan. Jika hasil analisa UNEJ mengatakan perlu ada perkuatan di sisi tertentu, maka itu yang akan kita jadikan pedoman," tegas Lurah Kaliwates.
Ketua Destana Kaliwates, H. Indra Gunawan yang telah berada di lokasi sejak hari pertama longsor terjadi, menyambut baik keterlibatan akademisi. Selama ini, Destana menjadi motor penggerak relawan dalam sistem "antrean kirim batu".
"Relawan kita memiliki semangat, tapi FT UNEJ memberikan kita 'mata' untuk melihat apa yang tidak tampak di bawah tanah. Pengukuran hari ini sangat penting karena sisa separuh longsoran yang belum tertangani adalah bagian yang paling curam dan paling sulit dijangkau," ungkap H. Indra Gunawan.
Ia menceritakan bagaimana sistem antrean manual digunakan untuk mengirimkan ribuan batu mengisi kawat bronjong. Kerja keras tersebut kini akan disempurnakan dengan rekomendasi teknis yang mencakup:
Sudut kemiringan trap berikutnya.
Kedalaman fondasi yang disarankan.
Jenis pengisi atau saringan (filter cloth) jika diperlukan untuk mencegah butiran tanah keluar dari sela-sela batu bronjong.
Bagi warga yang rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari bibir tebing, kehadiran tim UNEJ, Lurah, dan Destana memberikan harapan baru. Selama berbulan-bulan, setiap kali hujan deras turun, rasa cemas selalu menghantui.
"Kami sangat berterima kasih. Kemarin kita sudah gotong royong sampai 8 trap, tapi memang benar, longsorannya masih panjang. Kami menunggu arahan pak dosen (UNEJ) dan pak Lurah, apa yang harus kami lakukan selanjutnya agar rumah kami benar-benar aman," ujar Suherlan, ketua RT 05 RW4.