30 Kg Beras Mengetuk Pintu Kesunyian: Kisah Empat Perempuan Lansia di Banjarsengon
- 16 September 2026
- Dibaca 13 Kali
Bagikan Via:
30 Kg Beras Mengetuk Pintu Kesunyian: Kisah Empat Perempuan Lansia di Banjarsengon
JEMBER, 16 SEPTEMBER 2026 – Pukul 12.30 WIB, saat matahari mulai menyengat, sepeda motor petugas Kelurahan Banjarsengon, Kecamatan Patrang, melaju pelan memasuki gang sempit. Bukan sedang berpatroli, kedatangan mereka bertujuan mengantar karung beras seberat 30 kilogram langsung ke pintu rumah warga yang hidup sebatang kara.
Penyaluran bantuan pangan beras kali ini sengaja diantar dari rumah ke rumah (door to door) oleh jajaran Kelurahan Banjarsengon. Sekretaris Kelurahan, Arik Riyantono, S.Sos., hadir langsung bersama staf kelurahan, Joko Suyitno, dan kader kelurahan, Susilowati, yang turut memikul karung beras hingga ke dalam rumah warga.
Bantuan ini diperuntukkan bagi empat perempuan tangguh yang hidup sendiri, yakni Siti Holifah; Elwarni Puji, seorang penyandang tunanetra; Toya, yang dalam kondisi sakit hingga tidak bisa berjalan; serta Gina (71), yang bertahan hidup seorang diri. Setiap Keluarga Penerima Manfaat (KPM) menerima 30 kilogram beras yang merupakan akumulasi jatah tiga bulan. Yakni Juli, Agustus, dan September 2026. Dengan rincian 10 kilogram per bulan.
Suasana haru menyelimuti kediaman Elwarni Puji. Dengan keterbatasan penglihatannya, ia meraba karung beras yang diterima sembari berulang kali menguapkan rasa terima kasih. Sementara itu, di rumah Toya yang hanya bisa terbaring, petugas meletakkan karung beras tepat di samping tempat tidurnya agar ia tidak perlu repot memindahkannya.
Gina (71) menyambut kedatangan petugas dengan senyuman dan mata berkaca-kaca. "Terima kasih banyak, Pak Lurah. Saya hidup sendiri, beras ini sangat membantu saya. Alhamdulillah, saya masih diperhatikan," ucap Gina.
Lurah Banjarsengon, Sudik Haryono, S.Sos., M.Si., menyampaikan bahwa kebijakan pengantaran langsung ini merupakan wujud nyata kehadiran negara hingga ke pemukiman warga terkecil.
"Selasa, 15 September 2026 pukul 12.30 WIB, kami mengantarkannya secara langsung bersama Sekkel Arik Riyantono, staf kami Joko Suyitno, dan kader Susilowati. Penerimanya adalah Ibu Siti Holifah, Ibu Elwarni Puji, Ibu Toya, dan Ibu Gina. Mereka semua hidup sendiri, ada yang tunanetra, sakit hingga tidak bisa berjalan, serta lansia berusia 71 tahun. Kami tidak tega jika mereka harus mengurusnya sendiri," ujar Sudik, Rabu 16 September 2026.
Bagi Siti, Elwarni, Toya, dan Gina, beras seberat 30 kilogram tersebut bernilai lebih dari sekadar bantuan pangan. Bantuan ini menjadi penanda bahwa keberadaan mereka tidak dilupakan. Di tengah kesendirian dan keterbatasan, Kelurahan Banjarsengon tetap setia mengetuk pintu rumah mereka. (sgk)