logo ppid jember kim
Oleh : Kecamatan Arjasa

Anak dan Remaja Penyandang Disabilitas Jadi Prioritas, Program BEN Perkuat Kolaborasi Layanan Kesehatan di Arjasa

  • 19 Oktober 2026
  • Dibaca 38 Kali
Bagikan Via:
anak-dan-remaja-penyandang-disabilitas-jadi-prioritas-program-ben-perkuat-kolaborasi-layanan-kesehatan-di-arjasa-20261020

Anak dan Remaja Penyandang Disabilitas Jadi Prioritas, Program BEN Perkuat Kolaborasi Layanan Kesehatan di Arjasa

JEMBER, 19 OKTOBER 2026 – Upaya memperkuat akses layanan kesehatan yang inklusif bagi penyandang disabilitas terus didorong melalui Program BEN (Building Effective Networking). Kali ini, program yang dikembangkan oleh Tanoker bekerja sama dengan NLR Indonesia atas dukungan Liliane Fonds tersebut berfokus pada penguatan alur rujukan kesehatan bagi penyandang disabilitas, khususnya anak-anak dan remaja hingga usia 25 tahun.

Program ini hadir dengan semangat bahwa perhatian terhadap penyandang disabilitas tidak boleh hanya terpusat pada kelompok usia dewasa atau lanjut usia. Anak-anak dan remaja penyandang disabilitas juga membutuhkan perhatian khusus, pendampingan, serta akses layanan kesehatan yang tepat sejak dini agar mereka dapat tumbuh, berkembang, dan menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Melalui program ini, penguatan layanan kesehatan diharapkan dapat menjangkau kelompok usia muda secara lebih optimal. Identifikasi kondisi disabilitas, pemeriksaan kesehatan, rujukan, penanganan, hingga tindak lanjut menjadi bagian penting yang perlu dipahami dan dilaksanakan secara terkoordinasi.

Camat Arjasa, R.B. Abdul Kadir, S.IP., M.M., menegaskan pentingnya perhatian bersama terhadap anak dan remaja penyandang disabilitas.

“Anak-anak dan remaja penyandang disabilitas merupakan kelompok yang perlu mendapatkan perhatian dan pendampingan sejak dini. Jangan sampai perhatian kita terhadap disabilitas hanya berfokus pada orang dewasa atau orang tua,” ujar Abdul Kadir, Senin 19 Oktober 2026.

"Mereka yang berusia hingga 25 tahun juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan layanan kesehatan, pendampingan, dan kesempatan berkembang secara optimal. Karena itu, kolaborasi semua pihak sangat diperlukan agar mereka tidak tertinggal dalam memperoleh pelayanan yang dibutuhkan," imbuhnya.

Menurutnya, keterlibatan pemerintah kecamatan, tenaga kesehatan, kader, komunitas, serta keluarga menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih inklusif. Dengan koordinasi yang baik, hambatan yang selama ini dihadapi penyandang disabilitas dalam mengakses layanan kesehatan diharapkan dapat diidentifikasi dan dicarikan solusi bersama.

Sementara itu, Ketua Koordinator Program, Nur Hadi, S.Pd., menyampaikan bahwa Program BEN menjadi salah satu upaya untuk membangun sistem pelayanan yang lebih terhubung, responsif, dan berpihak pada kebutuhan penyandang disabilitas, terutama anak dan remaja.

Dia menjelaskan, program ini hadir karena anak dan remaja penyandang disabilitas membutuhkan perhatian yang sama pentingnya dengan kelompok usia lainnya. Mereka tidak boleh luput dari pendataan, pemeriksaan, pendampingan, maupun layanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

"Melalui Program BEN, kami ingin memperkuat kerja sama antara komunitas, keluarga, kader, fasilitas kesehatan, dan tenaga profesional agar setiap anak dan remaja penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang lebih baik untuk mendapatkan layanan yang tepat,” terangnya.

Dalam pertemuan tersebut, sejumlah agenda utama akan dibahas, mulai dari peningkatan pemahaman mengenai alur identifikasi, pemeriksaan, rujukan, penanganan, hingga tindak lanjut layanan kesehatan bagi penyandang disabilitas.

Selain itu, kegiatan ini bertujuan memperkuat koordinasi antara komunitas, kader, Pustu/Puskesmas, tenaga kesehatan, pendamping, CBR (Community-Based Rehabilitation), dan tenaga profesional.

Pertemuan ini juga menjadi ruang untuk mengidentifikasi berbagai hambatan dalam mengakses layanan kesehatan serta menyusun langkah tindak lanjut secara bersama. Pembahasan mekanisme penanganan berbagai kasus kesehatan penyandang disabilitas, termasuk kasus kusta, turut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan.

Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu memperjelas alur rujukan sehingga penyandang disabilitas tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh pemeriksaan maupun penanganan yang dibutuhkan. Lebih dari itu, keterlibatan komunitas dan keluarga diharapkan dapat membantu memastikan bahwa anak dan remaja penyandang disabilitas memperoleh perhatian yang berkelanjutan.

Melalui Program BEN, Arjasa diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya mewujudkan layanan kesehatan yang lebih inklusif, mudah diakses, dan responsif terhadap kebutuhan penyandang disabilitas. Sebab, setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang, tanpa terkecuali.

Memberikan perhatian kepada anak dan remaja penyandang disabilitas bukan sekadar bentuk kepedulian, melainkan investasi bagi masa depan yang lebih setara. Dengan kolaborasi yang kuat, tidak ada anak yang seharusnya tertinggal hanya karena keterbatasan akses, informasi, maupun pendampingan. (aza)

Galeri Foto