Atasi Masalah Sampah, Kelurahan Tegalgede dan Pegiat Lingkungan Gagas Budidaya Maggot hingga Pembuatan Kompos
- 04 Juni 2026
- Dibaca 17 Kali
Bagikan Via:
Atasi Masalah Sampah, Kelurahan Tegalgede dan Pegiat Lingkungan Gagas Budidaya Maggot hingga Pembuatan Kompos
JEMBER, 04 JUNI 2026 – Kelurahan Tegalgede, Kecamatan Sumbersari, bersama para pegiat lingkungan dan warga di kawasan Taman Kampus menggelar pertemuan strategis guna membahas polemik pengelolaan sampah rumah tangga. Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya volume sampah domestik serta adanya regulasi baru terkait pembatasan aktivitas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari.
Giat ini digagas oleh Ketua RW 08 Lingkungan Taman Kampus, dr. Lilik Lailiyah, yang melihat pentingnya aksi nyata dari tingkat terbawah untuk menyelesaikan isu lingkungan tersebut. Pertemuan yang berlangsung di RW 08 pada Kamis, 04 Juni 2026 kemarin itu menjadi wadah diskusi intensif demi menemukan solusi konkret dari hulu ke hilir. Pasalnya, kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dinilai masih menjadi tantangan utama yang harus segera diselesaikan di tingkat lingkungan rukun warga (RW).
Lurah Tegalgede, Shierley Aisyah, ST, MM, yang hadir menyatakan bahwa masyarakat sebenarnya memiliki keinginan besar untuk memahami tata kelola sampah yang benar. Pertemuan ini sekaligus menjadi sarana sosialisasi penting untuk meluruskan aturan-aturan baru mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di TPA Pakusari saat ini. Agenda krusial ini dihadiri oleh jajaran Ketua RT, tokoh masyarakat di RW 08, serta pegiat lingkungan dari Bank Sampah Griya Ayu, yakni Dina dan Olivia, yang turut membagikan edukasi praktis penanganan limbah.
"Warga ingin mengetahui lebih detail bagaimana sebetulnya pengelolaan sampah, atau apa yang perlu dilakukan oleh warga di RW 08 terkait sampah yang berasal dari pemukiman atau sampah rumah tangga mereka. Bagaimana mengelolanya, harus dikemanakan? Dan juga ingin mengetahui kebenaran informasi bahwa mulai sekarang sudah harus memilah sampah," ujar Shierley saat ditemui seusai kegiatan.
Dari hasil diskusi dan sharing tersebut, muncul sejumlah program eksekusi jangka pendek yang akan segera diterapkan oleh warga RW 08 di bawah koordinasi Lilik Lailiyah. Penanganan akan dibagi berdasarkan karakteristik sampah, yakni organik dan anorganik, agar tidak lagi bertumpu sepenuhnya pada pembuangan akhir. Rencana realisasi dari pertemuan ini akan ditindaklanjuti pertengahan Juni ini.
Untuk sampah organik, warga sepakat untuk mengolahnya menjadi pupuk kompos yang bernilai guna bagi tanaman di sekitar pemukiman. Selain itu, inovasi kreatif berupa budidaya maggot juga akan digalakkan karena dinilai sangat efektif dan cepat dalam mengurai limbah sisa makanan rumah tangga. Sementara untuk sampah anorganik yang bernilai ekonomis, pihak kelurahan bersama Bank Sampah Griya Ayu mendorong pembentukan bank sampah mandiri di tingkat RW yang nantinya akan dipandu langsung oleh Dina dan Olivia.
Namun, Shierley menegaskan bahwa seluruh rencana aksi ini tidak akan berjalan maksimal tanpa adanya komitmen dan sinergi yang kuat dari seluruh elemen masyarakat. Perubahan pola pikir dari membuang sampah menjadi mengolah sampah memerlukan kerja keras kolektif yang konsisten.
"Dan tentunya ini membutuhkan kerja sama dari pihak pengurus RT, RW, dan juga kader yang ada di RW 08," pungkas Shierley.
Melalui program kolaboratif yang diinisiasi oleh Lilik Lailiyah bersama Lurah Tegalgede, kehadiran aktif seluruh Ketua RT serta tokoh masyarakat di RW 08 diharapkan mampu menjadi motor penggerak utama. Kelurahan Tegalgede berharap kawasan Taman Kampus dapat menjadi pelopor lingkungan mandiri sampah di Jember, sekaligus menekan volume pembuangan ke TPA secara signifikan melalui aksi pemilahan yang konsisten dari lingkungan terkecil.
Pihak kelurahan juga berencana untuk terus mengawal program budidaya maggot dan pembuatan kompos ini agar dapat berjalan secara berkelanjutan. Evaluasi berkala akan dilakukan bersama pengurus RW dan RT setempat demi memastikan partisipasi aktif warga. Dengan sinergi yang kuat antara birokrasi, tokoh masyarakat, dan pegiat lingkungan seperti Bank Sampah Griya Ayu, optimisme tinggi menyeruak bahwa kawasan RW 08 mampu bertransformasi menjadi kawasan bebas sampah yang mandiri dan bernilai ekonomis. (sar)